"Ruangan kerja memang formal, bukan?" Gavin balik bertanya dan membuka tas yang dibawa Alea. Melihat-lihat isinya. "Kerja bagus. Ternyata kau bisa diandalkan," ujar Gavin melihat semua berkas yang ada di dalam tas itu. "Iya, dong. Kapan aku tak bisa diandalkan?" ujar Alea dengan bangga. "Kamu tak bisa diandalkan sebagai istri di ranjang," jawab Gavin sambil mengedipkan sebelah matanya. Ia sudah merasa nyaman dengan Alea. Menganggapnya sebagai istri sungguhan. Tinggal menunggu waktu untuk membuatnya menjadi sepasang suami istri seutuhnya. Mungkin jika perebutan harta warisan itu berakhir. "Apa sih, Mas," ujar Alea sambil memalingkan wajah. Rasanya wajahnya terasa panas, malu dengan hal berbau e****s seperti itu. Gavin hanya terkekeh melihat sikap malu-malu Alea. Beberapa saat

