Bab 7: Menyembah Di Kaki Istri

1100 Kata
Karena tidak kunjung kuberikan handuk, Mas Eli keluar sendiri dari kamar mandi dengan tubuh basah tanpa dilap terlebih dahulu. Di ambang pintu setelah berpakaian aku hanya bisa menghela napas melihatnya mengambil gorden jendela untuk dilapkan ke tubuh basahnya tanpa malu. “Mas!” Kupanggil lelaki itu dengan nada kesal. Mas Eli menoleh tanpa merasa bersalah, didekatkannya tubuh keringnya ke arahku yang langsung melempar handuk ke dadanya. “Gorden berdebu itu akan mengotori tubuhmu,” aku memeringatkan. “Kamu yang bilang sendiri ‘kan, kulitmu terlalu sensitif dan mudah gatal!” Ocehanku seperti angin lalu bagi Mas Eli. Tanpa memerdulikan omelanku, lelaki itu langsung mengalungkan handuk kering yang kulemparkan ke pinggangnya yang masih berbalutkan celana. “Aku lihat meja makan kosong,” lelaki itu mengadu sambil mengusap perut kerasnya. “Aku lapar, Aini. Tega sekali Fadli tidak menyisakan sarapan untukku. Bisakah kamu memasakkanku sesuatu?” Mas Eli menatapku penuh harap. Tangannya masih mengelus-ngelus di perutnya yang mungkin tidak terisi sejak tadi malam. Aku mengalah. Kuanggukkan kepala sambil memerintah, “Baiklah, akan kubuatkan sarapan. Asal berpakaian ‘lah terlebih dahulu. Tubuh atasmu yang terbuka membuatku terganggu!” Bukan karena bentuk tubuhnya yang kurang berotot atau tidak memesona, aku akui Mas Eli pandai merawat tubuh dan selalu terlihat gagah. Karena itulah aku merasa tidak nyaman, teringat yang semalam. Dimana lelaki itu ‘menghajarku’ habis-habisan tanpa ampun di belakang Fadli. “Sebentar lagi Liam akan membawakanku pakaian,” Mas Eli menjawab. Entah kenapa malah terdengar seperti pamer di telingaku. Lelaki itu seakan menunjukkan dia tetap lelaki kaya yang memiliki banyak bawahan yang bisa disuruh apa saja dan kapan saja semaunya. Berbeda denganku yang hanya bisa menggunakan tangan dan kaki sendiri untuk melakukan sesuatu, tanpa bisa memerintah orang lain karena memang tidak memiliki uang untuk menggaji mereka untuk menjadi babuku. “Jangan salahkan aku jika kamu kedinginan tanpa pakaian, hanya memakai handuk sampai bawahanmu itu datang.” Aku melewatinya menuju dapur, sesuai maunya berniat membuatkan Mas Eli sarapan. Aku mendelik kesal ke belakang saat mendapati Mas Eli mengikutiku, lelaki itu tanpa izin langsung menangkap punggung hangatku untuk memeluknya. “Jika kamu meminjamkan punggungmu, aku tidak akan pernah kedinginan, Aini.” Deru napas hangatnya menusuk-nusuk bahu dan tengkukku, semakin membuatku tidak nyaman. “Jauhkan tubuh dan tanganmu, Mas.” Aku meminta dengan wajah panas. Lelaki itu keras kepala dan menggelengkan kepala. “Jika aku menjauh, aku akan mati kedinginan.” “Bagaimana bisa aku membuatkanmu sarapan, jika kamu mengangguku seperti ini?” “Aku hanya meminjam pinggangmu, Aini. Kedua tangan dan kakimu masih bebas.” “Baiklah.” Aku mengalah dan mendengus kesal, “Dasar egois.” Setelah menghinanya aku mengumpulkan perabotan dapur untuk memasak. Tentu saja pergerakanku dipersusah karena dari belakang ditempeli lelaki egois ini! “Kamu sangat tidak tahu diri,” sambil menyalakan kompor aku kembali menghinanya. “Setelah menelantarkanku bertahun-tahun, tidak menafkahiku, mengabaikan kewajibanmu sebagai suami padaku dan Fadli, sekarang kamu bersikap seakan kamu masih seorang suami? Andai bisa, ingin sekali kuusir kamu dari sini!” “Bukannya kamu sendiri yang bilang, bisa melangkah sendiri tanpaku, Aini?” “Siapa saja yang menikah dengan lelaki sepertimu, pasti berkata seperti itu!" Aku membalas sengit ucapannya, "Kamu sangat arogan, angkuh dan sombong. Menganggap istri sendiri seperti wanita tidak berguna yang selalu bergantungan padamu!” “Kenyataan itu yang tidak kusukai Aini,” Mas Eli memasukkan kepalanya ke sela leherku dan menciumku. “Kamu yang bisa hidup tanpaku dan tidak bergantungan padaku.” “Yang kumau, istriku ini tidak bisa hidup tanpaku, tidak bisa melakukan apapun tanpaku, sangat bergantungan padaku, menjadi tidak berguna dan menderita jika aku tidak ada di sisinya. Tapi aku salah, bahkan setelah aku membuatmu putus kuliah, membakar ijazah SMA-mu, hanya menyisakan ijazah SMP-mu. Aku membuatmu menjadi istri yang tidak berpendidikan dan tidak memiliki uang, ternyata istriku sangat mandiri. Di luaran sana tanpa aku dan uangku, kamu bisa bertahan dan menafkahi Fadli seorang diri.” “Tidak sia-sia kamu keluar dari rumahku, Aini. Kamu benar-benar bisa membuktikannya. Dan itu membuat harga diriku terluka sebagai suami.” Aku menepis tangannya yang mengusap-ngusap pinggangku. Hampir kugunakan panci di tanganku untuk memukul wajahnya. “Ternyata bukan kamu yang tidak bisa hidup tanpaku sebagai suami, aku yang tidak bisa hidup tanpamu dan menderita jika kamu dan Fadli tidak ada.” “Kita memang masih sepasang suami-istri, saat itu aku hanya pergi dari rumahmu tanpa memperjelas hubungan kita. Aku tidak meminta ditalak dan kamu tidak menjatuhkan talak, tapi apa yang terjadi selama ini, Mas. Saat kamu membiarkanku berusaha sendirian … kamu tidak pantas jika mengaku sebagai suaminya Aini Hansa lagi maupun ayahnya Fadli Ed. Semoga kamu sadar dan tahu diri.” “Aku sadar dan tahu diri, Aini.” Mas Eli berbisik di telingaku. Tangannya terulur mematikan kompor saat telur ceplok di panci sudah gosong karena lupa kuangkat karena terlalu fokus bicara dengannya. “Kehadiranku di sini bukan memaksamu mengembalikan gelarku sebagai suamimu dan ayahnya Fadli. Tapi aku mengemis padamu, Aini. Aku memohon dan rela menyembah di kakimu.” Mas Eli menurunkan tubuhnya ke lantai. Yang kutahu kedua tangannya memeluk kakiku, dia bertekuk di sana. Aku menoleh kaget, tegang saat mendapatinya mengincar kakiku. Apa maunya di sana? Mencium kakiku? Menyembah? Merendahkan diri? Atau bagaimana! “Mas!” Aku menjerit shock saat lelaki itu menurunkan stocking yang membalut kaki dinginku. Dikecupnya ketiak kakiku dengan penuh penghayatan. Tungkai kakiku, lututku, hingga betisku terjamah oleh bibirnya. Apakah ini caranya menyembah? Memang terlihat seperti merendahkan diri, tapi dia sangat bahagia dengan apa yang dia lakukan! “Apa yang kamu lakukan?” “Menyembah di kakimu, tentu saja.” Jawabannya terdengar santai. “Agar mengembalikan posisiku sebagai suamimu, Aini dan ayahnya Fadli.” “Sekaya apapun aku, menelantarkan kalian sudah membuatku menjadi lelaki rendahan. Dan inilah yang harus lelaki rendahan lakukan. Menyembah di kaki istrinya—” BUK! Aku yang tidak tahan menendangnya hingga tersungkur jatuh. Mas Eli terhempas ke lantai sambil meringis kesakitan. Handuk yang mengalung di pinggangnya terlepas, memperlihatkan celana lembab selutut yang masih menemaninya sejak tadi. “Jangan mengangguku.” Aku memerintah sinis, “Kamu sudah lapar ‘kan? Akan kusiapkan sarapan seadanya seperti maumu sebelumnya. Duduklah dengan manis di atas kursi.” Mas Eli mengurut kepalanya yang pening. Lelaki itu naik ke kursi dan menenggak air putih. Aku merinding saat teringat apa yang lelaki tidak tahu diri itu lakukan padaku sebelumnya. Rela menyembah katanya? Mas Eli yang egois tidak akan pernah mau mencium kaki istrinya untuk merendahkan diri, tapi tadi dia benar-benar melakukannya! Rasanya ingin kupotong sebelah kakiku yang sempat dicium dan dipeluknya. Setelah bertahun-tahun kami jauh, apakah Mas Eli memang sudah berubah? Dari pria yang tidak mau direndahkan, menjadi suami yang bahkan tadi tidak marah ditendang oleh istrinya!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN