Bab 8: Tidak, Terimakasih

1327 Kata
Aku hanya menghela napas keheranan saat melihatnya memakan tiga telur ceplok gosongku dengan lahap. Karena kesal, kutarik piring itu menjauh dari jangkauannya. Mas Eli menatapku sinis, protesannya menggelitik telingaku. “Sudah menyajikan sarapan tidak enak, sekarang kamu ambil lagi. Aku lapar, Aini. Kembalikan.” Tangannya terulur, berniat merampas piring di tanganku. Karena takut lelaki ini sakit perut, kujauhkan benda ini dari jangkuannya. Sebelum sempat diambilnya lagi, sudah kubuang ke tong sampah berserta piringnya. Mas Eli terlihat jengkel, lelaki tanpa pakaian atas tersebut m*ngumpat pelan. “Minum dulu.” Kuisi air dari teko ke gelas bekasku. Setelah itu kusodorkan padanya yang langsung menenggak air yang kuberikan sampai habis. “Akan kumasakkan makanan yang lebih layak.” Kasihan melihatnya kelaparan aku bangkit dari kursi dan kembali menyalakan kompor. Di meja makan Mas Eli menunggu dengan sabar, aku bisa melihat senyumannya dari pantulan lemari kaca yang ada di sebelahku. “Boleh request menu apa?” Lelaki itu bertanya. “Kulkasku hampir kosong, aku hanya bisa masak seadanya.” Aku menyahut sambil membuka kulkas, kuperlihatkan isinya pada Mas Eli. Tentu saja lelaki itu harus mengalah, tidak bisa meminta yang macam-macam. Setelah mengocok lima telur yang dicampuri irisan sayuran aku menyalakan kompor dan kembali memasakkan sarapan untuknya. Mas Eli yang tadinya duduk manis di kursi kini tidak bisa diam. Sambil mengajakku bicara, lelaki itu kembali menjelajahkan diri ke sekitar apartemen sempitku. Entah apa yang lelaki setengah telanjang itu cari. “Malam itu kamu bilang mau berhenti dari pekerjaan harammu ‘kan?” Pertanyaannya dari kamarku terdengar sampai dapur. Aku menganggukkan kepala sambil menyahut singkat, “Ya.” Brak! Suara benda jatuh. Entah apa yang Mas Eli ulah di dalam sana. Lelaki itu merapikan kembali sepatu-sepatuku yang berhamburan karena kelakuannya. “Dimana sepatu-sepatu mahal yang kuberikan padamu dulu, Aini?” Dengan santai aku menjawab, “Sudah kusumbangkan pada pengemis. Lumayan, kamu dapat pahalanya.” Aku tidak penasaran bagaimana ekspresinya saat aku berkata seperti itu. Tentu saja lelaki itu akan marah, kuharap dia bisa menahan emosinya jika tidak mau kutendang keluar dari sini. Suara lemari terbuka. Karena penasaran kutengok dari dapur apa yang dia lakukan, mumpung pintu kamarku tidak ditutup olehnya. Aish, benar saja apa yang kuduga. Mas Eli mengacak-ngacak lemariku, entah apa yang lelaki itu cari di sana. Setelah pakaianku berhamburan di lantai tanpa disusunnya lagi, lelaki itu bertanya geram. “Tidak mungkin kamu menyumbangkan pakaian-pakaian yang kuberi juga ‘kan, Aini? Apa kamu menyimpannya di tempat lain? Hei kamu tahu sendiri, satu set baju yang kubelikan untukmu itu dari designer ternama! Para seniman akan menangis jika kamu menyumbangkan karyanya ke pengemis!” “Tenang saja, tidak kusumbangkan, kok.” Aku membalas santai. Berusaha tidak perduli tentang kamarku yang sudah berantakan karena ulah lelaki itu. “Berarti kamu menyimpannya di tempat lain?” Mas Eli terdengar bersemangat. Aku menggelengkan kepala, “Tentu saja kubakar.” BRAK! Lelaki itu emosi, tentu saja. Dibantingnya pintu lemari hingga tertutup. Kini dia mengacak-ngacak meja riasku. Kali ini bukan protesan, hina-hinaannya membuat telingaku panas! “Lihatlah, kamu berdandan menggunakan make up-make up murah ini, Aini-ku sayang? Hei, benda-benda ini tidak mungkin bisa mempercantik wajahmu!” Aku hanya menutup tellinga agar tidak terlalu tersinggung. Mas Eli di dalam sana akhirnya diam saat tidak kujawabi. Derap langkahnya terdengar mengeluarkan diri dari kamar. Aku yang baru saja mendaratkan telur dadar yang kubuat ke piring melirik ke arahnya yang lewat di belakang punggungku. Saat itu juga mataku melebar sambil menjerit, “Mas! Apa-apaan?” Mas Eli yang hampir masuk ke dalam kamar kamar Fadli menoleh. Aku meringis malu, tidak mungkin tidak! Lihatlah lelaki tidak tahu malu itu, tiga dalaman atasku di gantung di lehernya! Apa dia tidak malu tiga kutangku sekaligus bergelayut di tubuhnya? “Kembalikan tiga benda itu ke tempatnya semula!” Aku memerintah. “Ah ini,” Mas Eli menarik salahsatu dalaman dan memamerkannya padaku. “Cepat kembalikan!” Wajahku semakin memerah. Lelaki itu dengan wajah tanpa dosa memanyunkan bibir. “Benda ini terlihat imut Aini. Aku selalu ingat kamu suka yang model seperti ini, jadi akan kubawa ke rumah sebagai oleh-oleh.” Aku hampir mengejarnya, Mas Eli sudah masuk ke dalam kamar Fadli dan mengunci diri dari dalam. “Hei!” Aku menggedor-gedor pintu. Teriakanku terdengar frustrasi. Bisa-bisanya lelaki ini mencuri dalamanku?! Akan dibawanya pulang sebagai oleh-oleh katanya, ARGH ya Tuhan! Mas Eli sibuk di dalam kamar Fadli. Sesuai dugaan, dibukanya lemari anak bujangku untuk mengecek barang-barangnya. Kali ini tawanya terdengar, “Kenapa tidak sekalian barang-barang Fadli yang dibeli menggunakan uangku kamu bakar dan sumbangkan ke pengemis juga, Aini?” Aku tidak langsung menjawab. “Hei!” Teriakan lelaki itu menuntut. Aku yang malas menanggapinya memilih mengikhlaskan ketiga kutangku dan kembali sibuk di dapur untuk menyiapkan sarapan. Mas Eli yang kesal tidak dijawabi akhirnya membukakan pintu. Lelaki itu keluar dari kamar Fadli dan menghampiriku yang menata piring ke meja makan. Saat lelaki itu sudah di hadapanku aku memilih untuk menjawab, “kamu ayahnya Fadli. Saat aku tidak bisa membelikannya barang-barang mahal, apa salahnya ‘kan jika dia memakai benda-benda pemberian ayahnya dulu?” Lelaki itu diam sejenak. Aku hampir tidak bisa menahan diri untuk memaki saat melihatnya memakai salahsatu kutangku di dadanya. Argh, sungguh memalukan! Apalagi kutangku yang lain dijadikannya topi dan kalung. “Kamu juga istriku, kenapa tidak seperti itu juga?” Mas Eli bertanya dingin. “Tidak ada sepasang suami-istri seperti kita, Mas.” Mas Eli mendekat. Kutangku di d**a, kepala dan lehernya membuatku gagal fokus. “Ada, kata siapa tidak?” Mas Eli memerangkap tubuhku. “Tubuhmu dingin, sudah kukatakan sejak tadi berpakaian ‘lah dulu!” “Aku sengaja kedinginan, agar kamu mau menghangatkan, Aini.” Punggungku menempel di tungku karena ulahnya. Dan saat itu juga jeritanku membuat Mas Eli kaget dan refleks menjauh. Aku memekik-mekik kesakitan. “Perlu kutiup?” Mas Eli bertanya. Desisanku terdengar, “Lebih baik kamu makan saja sana.” Kutinggalkan lelaki itu menuju kamar untuk mengambil salep. Mas Eli mengejar dengan kutang yang bergelayutan di lehernya, aku langsung melempar bantal ke wajahnya agar tidak mendekat. Di depan cermin kusingkap pakaian belakangku untuk mengoleskan salep. Mas Eli yang pantang menyerah membantuku untuk mengoleskannya. “Aish, sudah kubilang makan saja sana.” Mas Eli hanya mendongak sekilas dan merundukkan tubuhnya. Sebelum dioleskannya salep ke luka merahku dikecupnya sekilas membuatku bergidik. Lelaki itu mengulum senyum sambil mengalungkan lengannya ke pinggangku. “Apa perkataanku di malam itu membuatmu sadar?” Mas Eli bertanya setelah menurunkan pakaianku. “Apanya?” “Kamu bilang akan berhenti dari pekerjaanmu itu ‘kan?” Aku terdiam sejenak, “Ya, memang.” “Sudah mendapatkan pekerjaan baru sekarang?” Aku menggelengkan kepala, “Mana ada. Memangnya semudah itu.” Karena jengkel kurebut salahsatu dalaman atasku di kepalanya. Mas Eli dengan tidak tahu malu menjadikannya kacamata! “Kalau kamu mau, aku bisa membantu mencarikanmu pekerjaan.” “Tidak, terimakasih.” Aku menolaknya mentah-mentah. “Hei Aini, kamu sendiri yang bilang tidak akan menggunakan uang yang kuberikan, kalau begitu bagaimana kamu menafkahi Fadli dan memberinya makan?” “Aku akan berusaha,” aku menghembuskan napas dengan yakin. Meski sebenarnya apa yang kukatakan meragukan. Tentu saja Mas Eli kurang memercayai apa yang sudah kutekadkan. “Kulkasmu tadi saja kosong, bagaimana jika Fadli kelaparan?” “Sudah kubilang aku akan berusaha.” “Lebihbaik terima saja tawaranku, ya?” “Tidak mau!” “Baiklah, akan kukirim setiap hari makanan ke sini agar kamu dan Fadli tidak kelaparan.” “Sudah kubilang tidak usah!” “Hei,” Mas Eli berdesis. “Aku mengkhawatirkan kalian!” “Memangnya pekerjaan apa yang mau kamu tawarkan, hah?” Lelaki itu terdiam sejenak, lalu senyumannya terulas. “Banyak. Menjadi koki di rumahku, atau menjadi asistenku, sekretarisku, pengasuhku. Jika nggak mau capek dan pengen enaknya aja, cukup baringan di kasurku, kamu hanya harus menutup mata dan membiarkanku melakukan apapun semauku pada dirimu. Semalam kubayar seratus ju—” Kutarik kuat kutangku yang ada di lehernya agar lelaki ini tercekik. Benar, wajah Mas Eli merah dan seperti kehabisan napas. Setelah kulepaskan lelaki itu terbatuk-batuk. “Tidak, terimakasih.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN