Setelah Mas Eli menandaskan isi piringnya, bawahannya yang bernama Liam itu akhirnya datang juga. Sesuai yang Mas Eli perintahkan, Liam datang untuk membawakan pakaian ganti lelaki itu.
Mas Eli langsung mengambilnya, tanpa izin lelaki itu langsung memasuki kamarku untuk berganti pakaian di sana. Aku canggung saat ditinggalkan berdua saja dengan Liam yang tersenyum untukku di ambang pintu apartemen.
Aku yang tidak enak mempersilahkannya untuk duduk di salahsatu sofa yang ada di ruang tengah. Lain halnya dengan Mas Eli yang suka masuk tanpa sopan santun, Liam menjaga perilakunya. Dilewatinya aku sambil merundukkan tubuh dan akhirnya menduduki salahsatu sofa yang mungkin tidak terlalu nyaman untuknya.
“Lama tidak bertemu, Nyonya.” Liam memasang kembali senyumnya.
Aku mengangguk pelan untuk menanggapinya. Diam-diam melirik kotak kue yang Liam pangku.
“Perlu kubuatkan teh atau kopi?” Aku menawarkan.
“Teh saja Nyonya, kebetulan saya haus.”
Ukh, coba Mas Eli bisa semanis, sesopan dan sebaik lelaki ini. Aku pasti akan menerima kehadirannya dengan sangat antusias, tanpa harus memperlakukannya dengan buruk.
Setelah Liam mengatakan minuman apa yang ingin dia minum aku langsung ke dapur untuk membuatkannya.
Seling lima menit aku kembali dari dapur ke ruang tengah untuk membawakannya minuman.
Liam menerimanya dengan senang hati, di sela seruputan, pujiannya membuat hatiku menghangat. Lagi-lagi membayangkan, andai Mas Eli bisa sebaik, semanis dan sesopan lelaki lain … sayangnya lelaki itu sombong, angkuh, arogan dan menyebalkan. Terlalu berlebihan jika aku mengharapkan Mas Eli menjadi sedikit lebih baik.
“Maaf jika saya lancang bertanya, Nyonya ….” Sambil meletakkan cangkir tehnya ke atas meja, Liam terlihat ragu untuk bertanya.
“Ya?” Aku menatapnya sejenak yang menghela napas.
“Anda dan Tuan Elios, baikan ya?”
Aku terbatuk, lalu mengibas-ngibaskan tangan. “Apakah kami terlihat seperti itu?”
Liam terdiam sejenak, lalu menganggukkan kepalanya. “Ya, kalian memang sangat terlihat seperti itu. Setelah sekian lama tidak bertemu dan menyapa, akhirnya Tuan Elios sendiri yang datang ke sini dan menemuimu.”
“Semalam, dia sendiri yang seenaknya datang ke sini. Aku terpaksa menerima kehadirannya.”
Aku membuang muka malu saat Liam menatapku tidak yakin.
“Maaf jika pertanyaan saya lagi-lagi lancang, semalam pasti terjadi sesuatu antara kalian ‘kan?”
Ya Tuhan, aku malu jika harus mengakuinya.
“Tuan Elios sampai membatalkan rapat dengan salahsatu klien hanya demi menemui Anda tadi malam dan menginap di sini, dengan alasan wajah Anda terus menghantuinya sepanjang rapat. Saya kira, mungkin hubungan kalian memang sudah membaik ….”
“Entahlah.” Bukan hanya Liam, sebenarnya aku juga ragu. Dikatakan sepasang suami-istri saja aku masih tidak yakin. Kami sudah terlalu lama tidak bertemu, pisah ranjang, pisah rumah, tidak berkomunikasi dan saling tidak memerdulikan.
Apalagi statusku untuk Mas Eli hanyalah istri sirih yang tidak pernah disahkan oleh hukum, sehingga itulah meski Mas Eli tidak pernah mengatakan talak ataupun memperjelas hubungan kami, selama ini aku sudah terlanjur menganggapnya sebagai mantan suami. Tapi mengingat apa yang terjadi di antara kami semalam dan bagaimana tingkah Mas Eli semenjak dia memesanku langsung, aku tahu, lain halnya denganku yang sudah menganggapnya sebagai mantan, Mas Eli masih menganggap aku sebagai istrinya.
Sungguh, lelaki itu benar-benar tidak tahu diri dan egois jika berpikir demikian. Padahal jelas-jelas dia yang menelantarkanku dan Fadli, baru datang beberapa hari yang lalu setelah sekian lamanya.
“Dikatakan Mas Eli masih suamiku saja, sepertinya bukan. Meski bagi tuanmu berbeda.”
“Ternyata saya terlalu banyak mengkhayal,” Liam tertawa pelan. “Selama ini saya selalu mengharapkan kalian untuk berbaikan. Karena Tuan Eli meski egonya tinggi, dia sangat mencintaimu, Nyonya. Selama ini dia terus merindukanmu. Selain itu, jika orangtuanya kembali bersama itu pilihan terbaik untuk Fadli, ‘kan? Dia butuh orangtua yang lengkap.”
“Bohong.” Aku menyahut ketus saat mendengar Liam mengatakan ‘Mas Eli mencintaiku’? Selama ini ‘lelaki itu merindukanku’? Omong kosong macam apa itu?
Mendengar tuduhan singkatku, Liam mengangkat sebelah alisnya.
“Jika Mas Eli memang mencintaiku dan merindukanku, seharusnya lelaki itu bisa menyampingkan egonya dan tentu saja pernikahan kami baik-baik saja.” Helaan napas frustrasiku terdengar. Kulirik pintu kamar, berharap Mas Eli tidak mendadak keluar dan memergoki kami yang menghibahinya.
“Anda tidak tahu saja, Nyonya.” Liam tersenyum tipis.
“Apanya yang tidak kuketahui? Apa yang kukatakan benar ‘kan? Jika tuanmu itu mencintaiku, seharusnya dia tidak membiarkanku angkat kaki dari rumahnya! Jika tuanmu itu merindukanku, seharusnya sedari lama lelaki itu menemuiku!” Aku hampir berteriak. Kuusahakan untuk memelankan suara agar tidak sampai ke telinga Mas Eli yang entah kenapa lama sekali di kamar sana. Kedua pipiku terasa panas, saat air mataku bercucuran aku langsung menghapusnya dan mengatur emosi.
“Lelaki itu tidak tahu caranya mencintai dan merindukan dengan benar.” Liam menjawab. “Tapi meski caranya salah, Tuan Eli tetap sangat mencintaimu, Nyonya.”
“Siapa yang butuh lelaki seperti itu?” Aku menyahut ketus. “Mencintai, tapi tidak bisa memperlakukan wanita yang dicintainya dengan baik dan benar? Meski aku sempat tergila-gila padanya dahulu, lama-kelamaan wanita manapun pasti muak dan kesal.”
Melihat arah lirikan Liam, aku menjadi pias. Ikut kutoleh ambang pintu kamarku. Ternyata benar Mas Eli bersender di sana sambil tersenyum sinis.
“Aku baru tahu Aini, dulu kamu sempat tergila-gila padaku.” Mas Eli melangkah santai, mendekatiku yang langsung membuang muka. Lelaki itu mengusap kepalaku dengan lembut lalu mengambil kotak kue yang dipangku Liam sejak tadi.
“Jika bukan karena menggilaimu, mana mungkin aku rela menikah muda dengan lelaki gila sepertimu? Bahkan hanya dijadikan istri sirih dengan alasan-alasan yang tidak masuk akal. Kamu juga memaksaku untuk berhenti kuliah dan membakar ijazah SMA-ku. Jika dulu aku bukan wanita yang dibodohi oleh cinta buta, aku tidak mungkin membiarkanmu memperlakukanku dengan semena-mena!”
“Tapi tentu saja,” aku langsung menyangkal. “Aku yang bodoh karena mencintaimu, hanya berlaku dulu. Sekarang tidak lagi, cintaku hanya untuk Fadli.”
“Sayang sekali, istriku yang tercinta ternyata sudah menjadi wanita yang cerdas dan mandiri. Tidak bisa kubodohi seperti dulu lagi.” Kekehan Mas Eli terdengar memuakkan. Lelaki itu duduk di sebelahku, tanpa malu di depan Liam mengincar tanganku dan menggenggamnya erat.
Benar apa yang kukatakan. Mas Eli sangat tidak tahu diri, dengan entengnya lelaki ini masih menyebutku sebagai ‘istrinya’ …
“Sepertinya aku harus berusaha membuatmu tergila-gila padaku lagi Aini, agar aku bisa membodohimu seperti dulu.”
Liam hanya menahan senyum melihat interaksi di antara kami.
Rasanya ingin kuusir mereka berdua.
“Sangat menyenangkan bagimu ya jika berhasil membodohiku?”
“Agar impas,” Mas Eli membalas. “Kamu yang membodohiku duluan dengan cinta. Membuatku tergila-gila dan menjadi bergantungan. Membuatku selalu ketakutan dan berpikiran dangkal. Sehingga itulah, karena tidak mau bodoh sendirian, aku harus membodohimu juga.”
Tangannya terlepas dari tangan mungilku, lalu terangkat ke kepalaku. Mengusapnya dengan lembut, memainkan setiap helaian rambutku, sambil tersenyum dingin, “Kunikahi kamu duluan, agar tidak direbut lelaki lain. Kupaksa kamu berhenti kuliah, agar kamu tidak bisa mencari uang sendiri, selamanya hanya bisa mengandalkanku sebagai suamimu. Kuingkari perjanjian kita untuk tidak memiliki anak terlebih dahulu, agar kamu tidak bisa lari dariku.”
“Tidak kuakui pernikahan kita ke publik dan hukum, agar tidak ada siapapun yang berusaha menganggumu dan merebutmu dariku. Aku bersikap keras padamu, agar kamu takut untuk meninggalkanku … tapi istriku luar biasa, setelah beragam usahaku untuk menahanmu agar tidak pernah memiliki keberanian untuk meninggalkanku, kamu masih berani meninggalkanku.” Kepala Mas Eli mendekat. Aku sadar, tentu saja yang diincarnya bibirku. Aku langsung mendorong kepalanya menjauh, setelah hampir saja satu kecupan di bibirku berhasil dicuri olehnya.
“Dasar pria licik.”
“Kukira selama ini kamu akan datang dengan sendirinya, Aini ….” Mas Eli menatapku lembut. “Karena kupikir kamu juga bergantungan padaku dan membutuhkanku. Ternyata aku salah, jika tidak kutemui kemaren lusa kamu tidak akan pernah menemuiku lagi. Untuk ke sekian kalinya kamu berhasil membodohiku, setelah bertahun-tahun menunggumu datang, akhirnya aku sendiri yang datang. Dan sepertinya tidak hanya kemaren dan hari ini, aku akan terus menemuimu.”
“Bersiaplah.” Lelaki itu tersenyum manis, membuatku terhipnotis sejenak.
“Kamu tidak mau aku dilihat oleh Fadli ‘kan, kalau begitu tengah malam adalah jadwalku mengapelimu.”
“Aku tidak bilang iya—”
“Sengaja kupesan kue ini pada Liam,” Mas Eli memamerkan kotak merah muda di tangannya. “Kuharap makanan manis ini bisa membuat sikapmu padaku menjadi sedikit lebih manis, Aini.” Lelaki itu ke dapur tanpa izin. Mengambil pisau dan piring untuk membelah kue yang dia beli.
“Sudah kubilang, kehadiranmu semalam dan nanti tidak diundang!” Aku mengejar langkahnya dan berteriak.
“Baiklah, kalau begitu. Anggap aku sebagai penyusup.”
“Aku tidak akan membukakan pintu untukmu!”
“Penyusup selalu berhasil menyelinap Aini. Apartemen murahmu ini banyak cela bagiku untuk masuk meski Tuan Rumah enggan mempersilahkan.”
Aku meringis kesal. Langsung menjauh saat dia menyodorkan piringnya padaku, memintaku mencicipi kue yang dia beli.
“Kalau kamu tidak mau memakannya, aku akan ke sekolah Fadli dan memberikan kue ini pada anakku itu secara langsung—”
“Baiklah, baiklah.” Mendengar ancaman manisnya aku hanya bisa menahan napas dan pasrah menuruti kemauannya. Langsung kusambar piring yang dia sodorkan dan memakan kue yang Liam beli. Hem, lumayan enak. Aku terlena oleh rasa manis yang sangat memanjakan lidahku sebagai penikmatnya.
“Aini-ku sangat manis jika menjadi penurut seperti ini. Selalu jadilah istri yang baik, Aini.”
Istri? Rasanya ingin mengoreksi kalimat tersebut. Selera makanku mendadak hilang karena sebutan Mas Eli yang seenaknya.
Bagaimana mungkin aku masih disebut sebagai istrinya setelah apa yang terjadi? Meski sebenarnya Mas Eli tidak terlalu salah, karena sejak awal lelaki itu tidak memperjelas hubungan kami. Tapi jika memang kami masih sepasang suami-istri, itu lebih baik … aku tidak perlu merasa bersalah dengan apa yang terjadi.
Karena lihatlah, lelaki ini selalu menempeliku seperti dulu! Aku yang tengah makan tidak berhenti dipeluknya, dibisikannya candaan yang menjengkelkan sambil menggelitiki perutku yang diyakininya akan membesar jika kami mengulangi yang semalam sekali lagi.
Liam hanya bisa tersenyum dan memerhatikan dari atas sofa. Lelaki itu sama sekali tidak ada niat untuk menyelamatkanku dari Mas Eli yang mengungkungku dan memaksaku untuk menghabiskan kue besar yang dia pesan sendirian.