“Keluarlah dari rumah ini sebelum Fadli pulang. Hari ini biasanya dia pulang cepat.” Aku memperingatkannya yang mencolek kue di piringku. Mas Eli yang menempeli tubuhku dari belakang menoleh, disunggingkannya senyum tipis lalu menganggukkan kepala. “Baiklah, tapi malam nanti aku akan datang lagi.” Dengan seenak jidatnya lelaki itu memutuskan.
“Aku tidak memintamu datang lagi,” aku menjawab kesal. Menjauhkan piring kue di tangannya dari jangkauannya.
“Tapi aku sudah bilang akan datang.” Setelah berkata seperti itu Mas Eli menepuk bahu Liam dan memberi intruksi. Anggukan Liam kuperhatikan, keduanya langsung bangkit berdiri dan menuju pintu keluar.
Aku menghampiri dengan canggung, Mas Eli yang tengah memakai sepatunya tanpa kaus kaki menatapku, “Kenapa? Tidak rela jika aku pergi terlalu cepat?” Aku menggelengkan kepala, meski sebenarnya itu yang kurasakan.
Langsung kuusir pria tidak tahu diri itu, “Cepat pergi sana. Aku tidak mau kamu bertengkar dengan Fadli jika dia pulang kamu kedapatan ada di sini.” Kudorong-dorong lengannya yang menatapku intens.
“Segitu takutnya kamu?” Mas Eli mengalungkan tangannya ke pinggangku dan membawaku merapat ke dadanya.
“Tentu saja. Aku lebih takut menyinggung perasaan Fadli daripada perasaan kamu sebagai ayahnya.”
Lelaki itu terlihat tidak suka saat aku berkata seperti itu. Langsung dilepaskannya dekapan lengannya dari tubuhku, aku langsung menghindar agar tidak digaet lagi dalam rengkuhannya.
Liam yang sudah di luar apartemen menunggu dengan sabar. Mas Eli yang sudah selesai memasang sepatu mahal ke kakinya belum terlihat akan beranjak.
“Entah kenapa aku menyesal menghamilimu jika ternyata anak kita lebih berharga bagimu daripada aku,” Mas Eli menggerutu. Diabaikannya Liam yang berdeham dan mengetuk-ngetuk jam tangannya, mengisyaratkan ada rapat penting sebagai ganti yang semalam sehingga itulah mereka harus berangkat sekarang juga dan bersiap.
“Kamu hanya menghamili, tidak berhak mengeluh seperti itu. Aku yang mengandung, melahirkan, menyusui dan membesarkannya. Fadli milikku, wajar jika dia lebih berharga darimu.”
“Oke, oke. Fadli milikmu.” Aku bangga saat akhirnya Mas Eli mengalah dan mengakuinya, “Tidak masalah jika kamu ingin menguasai Fadli seorang diri, asal kamu milikku.” Sunggingan senyumnya membuatku kesal. Mas Eli dengan santainya mengusap punggungku dan mendaratkan kecupan ke bahuku di depan Liam yang semakin frustrasi karena waktu terus berjalan.
“Tuan,” akhirnya Liam merengek saat Mas Eli yang tidak puas menciumi wajahku sambil mengampit pinggangku agar tidak bisa menjauh. Aku melirik kasihan bawahan yang malang tersebut, karena tuannya semena-mena dan semaunya.
“Untuk pelayanan yang semalam butuh hadiah, Nyonya?” Mas Eli bertanya, diabaikannya Liam yang semakin resah. Aku menatap sinis Mas Eli yang menyambung kalimatnya, “Tapi kurasa, kecupan kasihsayang dariku sudah cukup, ya. Meski nampak ogah-ogahan aku tahu kamu senang ‘kan?”
“Tuan—” sebelum Liam kembali merengek Mas Eli kembali memotong perkataannya.
“Liam,” lelaki itu akhirnya melepaskan kedua tangannya dari tubuhku dan memerintah. “Hubungi kepala sekolah di SMP Fadli dan tanyakan jam berapa siswa-siswa pulang hari ini. Aku akan meluangkan waktu untuk menjemput Fadli nanti—”
“Jangan!” Aku berteriak tidak terima.
“Kenapa jangan?” Mas Eli menoleh dengan sebelah alis terangkat.
“Sebelum berhasil dibawa pulang ke sini, mungkin Fadli sudah mengajakmu ribut!”
“Kalau anakmu mengajakku ribut, baiklah akan kuladeni.”
“Kamu tidak mau mengalah pada anakmu sendiri?” Aku bertanya dengan nada suara setengah tidak percaya.
“Kenapa harus mengalah, jika anakku dengan jantannya menantang ayahnya?”
“Pokoknya jangan berulah,” aku melarangnya.
“Apakah menjadi ayah yang baik disebut berulah?”
“Sebersikeras apapun kamu untuk mengambil kembali hati Fadli, pemikiran Fadli selama ini tentangmu tidak akan berubah. Sudahlah, anakku bawa sepeda, nanti dia bisa pulang sendiri.”
“Begitu, ya?” Akhirnya lelaki satu ini berhasil dibujuk. Didampingi oleh Liam, keduanya langsung menuruni tangga apartemenku menuju dua kendaraan yang terparkir di halaman belakang dekat baju-baju yang kujemur tapi lupa kuangkat sore tadi.
Dengan kaki tanpa alas aku menyusul ke bawah untuk mengantar kepergian mereka. Entah kenapa aku sangat ingin melakukannya, melihat kepergian Mas Eli yang katanya akan kembali lagi ke sini tengah malam nanti meskipun aku sudah melarang keras.
Mas Eli tidak langsung masuk ke dalam mobilnya. Setelah membuka pintu setir kendaraan lelaki itu terlihat tertarik pada pakaian-pakaianku dan Fadli yang ada di jemuran. Seringaian Mas Eli terlihat, lelaki itu melirik sekilas ke arahku dan setelah itu mencuri dua dalamanku yang ada di tali jemuran.
Jeritanku terdengar kesal, Mas Eli langsung masuk ke dalam mobil, melajukan benda besarnya dan membawa kabur dua benda yang sengaja lelaki itu curi. Sedangkan Liam yang belum mengendarai mobilnya hanya bisa menghela napas frustrasi sambil mengurut pangkal hidung. Tentu saja tingkah Mas Eli yang aneh dan gila perlu dipertanyakan.
“Maafkan kelakuan aneh tuan saya, Nyonya.” Liam berkata saat aku hampir mengejar mobil Mas Eli yang sudah melaju kabur dengan gila-gilaan dan hilang dari pandangan.
“Tidak apa-apa,” sama halnya dengan Liam aku hanya bisa mengelus dahi dengan ikhlas.
Liam yang baru saja hendak melajukan mobilnya berdecak kesal saat ponselnya yang ada di saku celana berteriak keras. Lelaki itu langsung mengangkatnya, suara Mas Eli yang dingin terdengar jelas. “Apa?” Liam hampir menjerit shock, diliriknya aku yang menahan emosi. “Anda gila, Tuan?” Liam memelankan suaranya sambil berdesis. Dengan santai Mas Eli menjawab dari telepon, “Dua benda imut ini tidak cukup untukku. Ayolah, ambilkan yang lain di jemuran.”
“Ini namanya pelecehan, Tuan!” Liam hampir memekik gemas.
“Kamu berani menentangku?” Ancaman memuakkan Mas Eli membuat Liam dilema. Lelaki itu melirikku merasa bersalah dan akhirnya pasrah, hampir saja Liam turun untuk mematuhi perintah tuannya aku langsung mengangkat semua pakaianku yang sudah kering dan berlari menaiki tangga apartemen. Tidak perduli beberapa pakaian Fadli berjatuhan di tanah, yang penting bukan pakaian dalamanku yang menjadi sasarannya.
***
Hari ini aku memutuskan untuk menetap di rumah dan tidak kemana-mana. Untuk pekerjaan selagi tabunganku masih ada, aku akan berusaha lagi besok. Aku harap hanya dengan bermodalkan ijazah SMP, aku bisa mencari pekerjaan halal untuk membiayai kebutuhan Fadli.
Setelah menghabiskan waktu untuk bersih-bersih apartemen dan kamarku yang diberantaki Mas Eli, aku kembali memasak di dapur untuk makan siang Fadli. Seperti yang kukatakan, hari ini anakku biasanya pulang cepat. Meskipun isi kulkas benar-benar meresahkan, terpaksa aku hanya bisa mendadarkan telur yang masih begitu disukai oleh anak bujangku meski di meja makan itu satu-satunya menu yang bisa dia santap.
Ah, aku teringat tadi pagi lupa memberinya uang jajan. Memang kebiasaannya jika aku lupa malah tidak mau mengingatkan. Tentu saja jika tidak secepat mungkin pulang, Fadli akan kelaparan.
Setelah menyimpan makan siang untuk Fadli di dalam lemari, tanganku tanpa sengaja meremuk uang berwarna hijau yang niatnya kuberikan pada Fadli setiap dia berangkat ke sekolah. Jika dipikir-pikir … bukannya aku ibu yang gagal dan tidak tahu diri?
Aku tentu saja tidak boleh lupa dengan pekerjaan apa aku membiayai Fadli selama ini, perawatannya, sekolahnya, makannya dan semua kebutuhannya.
Uang haram.
Yang menjadi permanen di darah-dagingnya.
Aku kembali menyesalinya, kedua pipiku terasa panas karena merasa bersalah. Air mataku luruh membasahi kedua pipi jika terus terngiang-ngiang pertanyaan, ‘ibu macam apa aku’? Aku tidak tahu diri menolak tawaran Mas Eli yang memberikanku uang untuk membiayai Fadli.
Karena tentu saja pemberian Mas Eli sebagai ayahnya Fadli jelas sumbernya yang halal dan dicari dengan benar. Sedangkan aku …? Apalagi jika teringat yang kulakukan selama ini semuanya sia-sia.
Kubuka kembali lemari dan mengeluarkan telur dadaran yang tadi kumasak. Saat itu juga langsung kubuang ke tong sampah, karena aku tidak boleh mencemari darah yang mengaliri tubuh anakku lagi.
Baru saja hendak membuang semua sayur-mayur yang tersisa di dalam kulkas ke tong sampah pergerakanku terhenti saat teriakan Fadli terdengar dari luar sambil menggedor pintu apartemen.
Aku langsung bergegas ke sana dan membukanya. Meski hatiku gundah, kusambut kepulangan Fadli dengan senyuman terhangat yang pernah ada. Kupeluk anak bujangku tersebut yang tidak keheranan, karena aku memang sudah terbiasa menyambutnya seperti ini.
Setelah Fadli menjijitkan kakinya untuk mencium keningku, dehaman seseorang di sebelah anakku baru kusadari. Aku menoleh dan saat itu juga wajahku pucat.
“Hai.” Arga menyapa dengan santai. “Apa kabar, Aini?” Lelaki itu merangkul lengan Fadli yang terlihat begitu menyukai Arga, sepupu dari ayahnya sendiri.