“Hai.” Lelaki di depanku ini dengan santainya melambai dan menyapa.
Aku tidak lantas menjawab. Karena canggung sekujur tubuhku menjadi kaku.
“Apa kabar, Aini?” Tanyanya sekali lagi. Membuatku rasanya ingin lari.
Aku hanya mengangguk dan menyungging senyum palsu. Fadli yang ditadinya dirangkul Arga lantas melepaskan diri dan menghamburkan diri ke pelukanku dengan manja. Syukurlah, Fadli kembali seperti semula. Bocah kecil satu itu terlihat begitu senang, tidak ada lagi-lagi rona marah dan kesedihan yang tergambarkan di wajah dan matanya.
Arga terlihat tidak suka saat aku tidak antusias menyambutnya. Tapi beberapa detik kemudian raut dinginnya kembali berubah ramah, seperti menjaga ekspresi dan sikap di depan Fadli. “Boleh aku masuk?” Sebelum dipersilahkan oleh Tuan Rumah Arga sudah melepaskan sepatu mahal dan kaus kakinya terlebih dahulu, mengingatkanku pada Mas Eli semalam.
Rasanya sungkan mengizinkan lelaki ini memasuki kediamanku, tapi mendapati Fadli yang sepertinya belum rela melepas Arga pergi, aku hanya bisa mengangguk dan mempersilahkan dengan ramah.
Senyum terlukis di bibir Arga saat aku mengiakan permintaannya. Lelaki itu masuk begitu saja setelah meletakkan sepasang sepatunya ke rak sepatu yang ada di dekat pintu, Fadli kembali merangkulnya dan mengajak lelaki itu masuk ke dalam kamarnya dengan semangat.
Dari luar aku yang membiarkan pintu apartemen terbuka karena ada orang asing di rumah hanya bisa menghela napas saat mendengar teriakan-teriakan senang Fadli dan obrolan seru mereka. Di dalam hati aku bertanya-tanya, kenapa Arga harus kemari?
Meski Fadli menyukainya lebih dari ayah kandungnya sendiri, jujur saja, melebihi Mas Eli, Arga adalah lelaki yang paling kuhindari untuk kutemui. Aku teringat hari dimana aku mendatanginya demi meminjam uang.
Padahal aku hanya meminjam, tapi lelaki itu malah memberikan apa yang kubutuhkan dengan mengajukan syarat terbiadab yang pernah ada. Memberikan tubuhku padanya. Demi Fadli, aku terpaksa mengiakannya.
Saat itu juga aku tahu Arga mungkin memiliki sedikit penyimpangan. Dia bercinta dengan cara tidak biasa, merantai tubuhku, menggantungku dengan tali lalu menutup mataku dengan kain tanpa ada interaksi sama sekali.
Andai malam itu aku bisa kabur, tentu saja aku akan kabur. Karena tidak menyangka dia pria gila. Tapi semuanya sudah terlanjur terjadi. Setelah melayaninya, aku pergi sambil melarikan uang yang lelaki itu berikan. Sampai sekarang, apa yang Arga lakukan padaku masih menjadi trauma yang mendalam.
Karena terlalu tenggelam dalam penyesalan, kedua pipiku kembali basah. Aku langsung menghapusnya. Jika dipikir-pikir, wajar jika malam itu Mas Eli sangat membenciku. Setidaknya sebagai istrinya bukan sepupu Mas Eli sendiri yang kudatangi.
Ah sudahlah, semuanya sudah terjadi. Sebanyak apapun aku menyesalinya tidak akan mengubah takdir. Yang pastinya setelah hari itu, aku tidak pernah meminta bantuan Arga lagi. Tapi sialnya, Arga yang dulunya menjaga jarak dari keluargaku, keesokan harinya malah menjalin kedekatan dengan Fadli. Fadli menyukainya begitu saja, setelah sekian lama sosok Mas Eli sebagai Ayah sudah pudar dan dibuang dari kepalanya.
“Dli, tadi diantar Om Arga?” Dari luar aku bertanya. Membuat kedua nama yang kusebut menoleh.
“Iya!” Dli di kamarnya mengangguk. Aku bisa melihat seringaian Arga dari pantulan lemari kaca. Ada apa dengan lelaki itu? Masih terlihat seperti penjahat. Kurasa, Arga lebih menakutkan dari Mas Eli.
“Sepedanya nggak ditinggal di sekolah ‘kan?” Aku kembali bertanya seraya pura-pura tidak perduli dengan kehadiran Arga yang terus menatap punggungku.
“Tadi dimasukin ke bagasi mobil Om Arga.” Fadli menjelaskan dengan semangat.
“Tanya ke Om Arga-nya, mau minum apa?”
Fadli menatap Arga, lalu Arga sendiri yang menyahutku. “Kenapa tidak tanya langsung padaku?”
Aku mengalah dan menanyakannya sendiri, “Kamu mau minum apa?” Kulirik teh, gula dan kopi secara bergantian, bersiap memilih dua di antara mereka.
“Teh.” Pilihannya kembali mengingatkanku pada Mas Eli semalam. Dimana lelaki itu membuatkanku teh hangat karena ada maunya. Setelah kupikir-pikir, jika orang lain membayarku dengan rupiah untuk meniduriku, kenapa Mas Eli bisa segitu enaknya hanya memberiku teh hangat agar aku mau melayaninya? Argh, entah apa yang merasukiku semalam!
“Baiklah.” Aku langsung membuatkan secangkir teh untuk Arga. Meski enggan menerima kehadirannya, setidaknya aku harus sedikit menghargainya sebagai tamu. Setelah mengantarnya aku akan langsung pergi.
“Buat Dli mana?” Fadli bertanya kecewa.
Aku melirik secangkir teh hangat yang kubuatkan lalu menggeleng, “Dli nggak boleh, ya. Nanti kecanduan.” Itu alasanku saja sebagai penolakan halus. Tadi niatnya membuatkan secangkir juga untuk Fadli, tapi aku teringat kembali, mau itu beras, sayur-mayur, cemilan dan semuanya yang ada di rumah ini, hampir tidak ada yang bukan kudapatkan dari uang hasil aku menjual diri.
Karena tidak mau darah-daging anakku ternoda, maka lebihbaik membiarkan Dli kehausan dan kelaparan. Tenang saja, jika ibunya ini tidak berguna, masih ada ayahnya. Setidaknya hari ini aku tahu, Mas Eli meski semenyebalkan itu, dia masih memiliki segelintir rasa perduli pada anaknya.
“Emangnya teh bisa bikin kecanduan?” Dli bertanya bingung.
Aku menganggukkan kepala untuk meyakinkannya, “Iya, jadi jangan sering-sering minum. Nanti kalau nggak minum sekali saja, kepalamu bakal sakit, Dli.”
“Bener Om?” Fadli terlihat kurang percaya, ditatapnya Arga untuk meminta jawaban.
Arga yang tahu aku mengada-ngada hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya, “Dengarkan saja apa kata ibumu, Dli.”
Dli yang cemberut terpaksa menurut. Bocah kecil itu turun dari ranjangnya dan memeluk pinggangku, “Mama udah masak? Dli lapar.”
Sambil mengelus rambutnya aku menggeleng, “Maaf ya, belum sempat tadi.” Saat ini juga aku kebingungan. Makan siang yang sempat kubuatkan sudah kubuang, di kulkas masih ada beberapa telur dan sayur-mayur tapi aku enggan menggunakannya.
“Masak, gih. Om Arga dan Dli bantuin.” Anak bujangku tersebut menatapku dengan senyuman manis. Aku menggelengkan kepala, “Mama ke pasar dulu, ya. Dli bisa nahan lapar sebentar ‘kan?”
Meski kecewa, Fadli hanya bisa ikhlas. Baru saja hendak keluar dari kamarnya, Arga menanyaiku, “Perlu kuantar ke pasar?”
Aku menatapnya sedikit dingin lalu menggeleng, “Tidak, terimakasih. Aku lebih nyaman menggunakan motor.”
“Baiklah kalau begitu.” Jawaban Arga terdengar santai, aku langsung mengurai kedua tangan Fadli dari pinggangku dan pergi ke dapur.
Sesuai niatku sebelumnya, langsung kubuka kulkas dan membuang semua isinya ke dalam tong sampah.
Helaan napasku terdengar, tapi setidaknya aku harus tegas pada diriku sendiri.
Setelah itu aku kembali ke kamar, membuka lemari dan mengincar dompetku. Melihat isinya yang lumayan aku dilema, jika aku ke pasar menggunakan uang-uang ini bukannya sama saja? Apa yang kubeli dan kelak dimakan Fadli, tetap hanya akan mengotori darah-daging buah hatiku.
Satu-satunya jalan cuma memakai uang Mas Eli. Tapi rasanya juga masih enggan. Karena malam itu aku sudah sok-sokan bilang tidak akan menggunakannya kecuali di situasi mendesak, dimana Fadli kembali kambuh dan perlu dilarikan ke rumah sakit.
“Ma, Ma.” Dari luar kamar Fadli memanggil-manggilku. Aku menoleh, mendapati tubuh mungil itu bersandar di ambang pintu.
“Minta jajan boleh?”