“Tuan.”
Elios hanya melirik tidak perduli saat Liam menghampiri sembari memanggil namanya. “Apa?” Lelaki itu mengurut-ngurut pangkal hidung seraya menyahut ketus.
Liam memberikan ponsel lelaki itu, yang tidak disambut antusias oleh majikannya. Sekalipun bisa saja penting.
“Tidak usah diangkat, letakkan kembali dimana kamu mengambilnya tadi.” Pose duduk Elios terbilang tidak sopan. Setelah rapat lelaki itu duduk di meja kerjanya dengan satu kaki yang mendarat di meja. Elios butuh kebebasan dalam bertingkah dan berekspresi di ruangannya sendiri, demi meminimalisir pikirannya yang cukup kalut.
“Yakin?” Liam memastikan.
Tanpa memikirkannya ulang Elios mengangguk, dikibaskannya tangan. “Cepat, kembalikan. Aku ingin istirahat tanpa diganggu, sekalipun yang menghubungi Daddy.”
Akhirnya Liam menekan tombol merah dan mematikan sambungan. Lelaki itu bergumam pelan, “Sepertinya Nyonya Aini akan kecewa jika Anda sengaja tidak mau mengangkatnya.”
Hampir saja Liam berbalik dan hendak kembali ke mejanya, Elios sudah berdiri dan merampas ponsel tersebut. Lelaki itu membentak marah, “Bilang sedari tadi kalau yang nelpon itu istriku!” Liam yang terkejut hanya mengelus d**a.
Elios kembali menduduki kursi dengan d**a berdebar-debar, dicarinya nomor Aini dan ditekannya berkali-kali untuk menghubungi ulang wanita itu. Setelah lima kali percobaan, akhirnya Aini mengangkatnya. Dari seberang sana suara wanita itu terdengar kesal, dikiranya Elios memang sengaja mematikan sambungannya tanpa diangkat. “Apa?”
“Kamu yang apa?” Elios melirik tajam Liam yang kembali mengelus d**a.
“Kenapa menghubungiku di saat aku sibuk?” Elios menanyai dengan suara tajam. Arah lirikannya tidak pernah terlepas dari Liam yang mulai ketakutan.
“Maaf,” Aini menundukkan kepala. “Aku tidak tahu kamu sibuk. Kalau begitu kumatikan saja—”
“Tunggu, tunggu.” Elios langsung menahan. Lelaki itu terlihat tidak rela jika momen indah ini langsung dihentikan begitu saja. Kapan lagi coba Aini menghubunginya secara langsung setelah sekian lama? Di malam pertama mereka bertemu kembali Elios memang sempat memberikan nomor ponselnya, meskipun Elios tidak yakin Aini benar-benar akan menghubunginya.
“Jangan sembarangan dimatikan begitu saja, padahal aku sudah dengan susah-payah meluangkan waktu untuk mengangkat teleponmu. Cepat katakan, ada urusan apa? Agar waktuku yang terbuang tidak sia-sia.”
Aini terdiam sejenak, lalu suara lirihnya terdengar. “Kuharap kamu tidak marah dan menertawakanku.”
“Apa emangnya?” Elios menahan senyum. Sifat malu-malu Aini membuatnya berdebar-debar. Liam yang kedapatan menertawakannya tanpa suara, langsung Elios sambut dengan tatapan maut. Seketika bawahan lancangnya itu langsung terdiam lalu membalik badan membelakangi tuannya.
“Aku menggunakan uangmu untuk jajan Fadli dan keperluan dapur.” Meski takut, Aini langsung mengaku. Elios mematung di tempat duduknya karena tidak menyangka.
“Malam itu aku memang sempat bilang tidak akan menggunakan uangmu kecuali di saat mendesak. Tapi bagiku ini keadaan mendesak, aku merasa bersalah menggunakan uangku sendiri untuk memberi makan Fadli, karena kamu tahu sendiri … itu uang haram yang kudapatkan dengan cara yang tidak benar. Hanya limaratus ribu. Jika kamu tidak ikhlas, setelah mendapat pekerjaan baru—dan tentu saja halal—aku akan menggantinya.”
Elios masih diam di tempat. Aini di seberang menanti jawabannya.
“Mas Eli?” Aini menegur setelah hampir semenit Elios tidak kunjung menjawab.
“Kamu benar-benar menggunakan uangku?” Elios memastikan.
“Ya.”
Seketika Elios tertawa bahagia, “Demi apa, Ni? Kamu benar-benar menggunakannya?”
“Iya.” Aini mengiakan sekali lagi.
Elios sontak berdiri dan terlihat bersemangat. “Akhirnya kamu menerima nafkah yang kuberikan.” Lelaki itu tidak perduli Liam memerhatikannya dengan tatapan aneh.
“Aku benar-benar seorang Ayah untuk Dli, Ni? Makanya kamu tidak enggan lagi menggunakan uang yang aku berikan?”
“Kamu memang ayahnya Fadli, Mas.”
“Dan juga suami untukmu.” Elios menambahkan seenaknya. Di seberang sana Aini tidak menjawab karena tidak sependapat.
Elios mengecup layar ponsel berkali-kali, lalu berbisik, “Tunggu nanti malam. Aku akan datang. Jika kamu menerima nafkah dariku, tidak ada salahnya ‘kan jika aku meminta hak?”
Sebelum Aini sempat menolak Elios sudah mematikan sambungan. Lelaki itu terlihat berseri-seri, setelah sekian lamanya, kejutan ini benar-benar membanting setir kehidupannya.
Selama ini, bertahun-tahun lamanya, Eli tidak lebih dari seorang pecundang yang egois. Menelantarkan anak dan istri, terlebih sangat tidak bertanggungjawab. Tapi Elios pikir mulai hari ini, kehidupannya berubah. Jika Aini tidak lagi sungkan menggunakan uang pemberiannya langsung meski hanya sedikit, maka ini permulaan bagi Elios untuk kembali menjadi seorang ayah dan suami.
“Anda terlihat senang Tuan,” Liam memberanikan diri untuk berkomentar.
Elios menoleh, “Tentu saja.” Lelaki itu terlihat bersiap-siap. Elios berdiri di depan cermin, dirapikannya kerah kemeja dan ikat pinggang. Lalu berkata kembali pada Liam yang asyik memerhatikan gelagat tuannya, “Belikan pengaman, Yam.”
Liam langsung terdiam. Raut gelinya seketika berubah. Elios menatapnya dengan ekpresi yang sama, “Aish, sebenarnya memakai pengaman kurang menyenangkan. Atau kubiarkan saja Aini hamil anakku lagi?” Ditanyainya pendapat Liam yang tidak tahu harus berkomentar seperti apa tentang itu.
“Sebelumnya aku sudah sengaja keluar di dalam dua kali, meski aku tahu Aini pasti rutin minum pil KB. Kalau Elios Ed versi mini ada dua, mungkin Aini tidak akan keberatan?” Elios menerka-nerka dengan wajah berseri-seri, “Pasalnya jika anak-anaknya mirip aku, pasti comel dan lucu. Fadli saja semanis itu.”
“Anda tidak memiliki stock sendiri, Tuan?” Setelah menghela napas Liam bertanya.
Dahi Elios mengernyit, lalu menggeleng. “Tidak ‘lah.”
“Atau kamu sendiri yang punya stock? Kalau begitu aku pinjam. Nanti bungkus plastiknya kukembalikan.” Elios tersenyum mengejek.
“Tunggu sebentar,” Liam berkata jengkel. Lelaki itu membuka tas kerjanya dan memberikannya pada Elios.
Setelah bungkus familier ada di telapak tangannya, Elios terperangah. “Orang seperti apa kamu, bawa pengaman kemana-mana?”
“Lelaki lajang memang harus bawa pengaman kemana-mana Tuan,” Liam menjelaskan dengan kalem.
“Tidak kusangka pergaulanmu cukup bebas, ya.” Elios bergumam lalu memasukkan benda yang di matanya imut tersebut ke saku celananya. Lelaki itu menatap pemandangan langit sore di luar, lalu bergumam. “Aku tunggu malam saja. Sepertinya Aini belum ingin Fadli tahu, kalau papanya sudah ngapelin mamanya dua malam berturut-turut.”
“Perlu saya temani nanti malam, Tuan?” Liam menawarkan.
Elios menggeleng, “Tidak usah. Ngapain kamu? Kalau pacar kamu tinggal di apartemen yang bersebelahan dengan Aini, oke. Kalau nggak, biar aku pergi sendiri.”
“Saya hanya mengkhawatirkan keselamatan Anda, Tuan.” Liam menjelaskan, “Membiarkan Anda berkendara sendiri malam-malam itu cukup beresiko. Bisa saja ada musuh yang sengaja memanfaatkan kondisi tersebut.”
“Aku mengerti kekhawatiranmu, tapi untuk malam ini biarkan aku pergi sendiri. Aku tidak mau nanti saat aku datang bersamamu, Aini malah malu.” Elios mengambil jas hitamnya yang tersampir di sofa lalu memakainya seraya melangkah keluar dari ruangan kerja, diikuti oleh Liam yang langsung mengemasi barang-barang.