Aku hampir memekik saat mendapati seorang lelaki bergelung nyaman di atas ranjangku dalam keadaan gelap-gulita. BRAK! Aku tidak sempat memastikannya siapa, langsung kubanting pintu hingga tertutup. Yang pastinya, lelaki itu lancang masuk ke dalam kamarku tanpa melepas sepatunya terlebih dahulu!
“Siapa, Ma?” Fadli yang baru saja selesai makan bertanya dari meja makan. Aku mengelus d**a dan memasang senyum palsu ke arahnya, “Bukan apa-apa, sayang.” Fadli mengernyit heran, didekatinya aku yang berjaga di depan pintu. “Kok, Mama panik gitu?”
“Nggak apa-apa, kok.” Aku nyengir kaku.
Fadli berlalu meninggalkanku menuju kamarnya.
Dari dalam kamarku, ketukan seseorang terdengar. Suara baritonnya memanggil-manggil lirih, “Ni, kamu mau ngurung aku di sini tanpa disapa terlebih dahulu?”
Benar saja, Mas Eli!
Kok bisa dia masuk ke dalam apartemenku! Lewat mana?
Aku langsung membuka pintu dan masuk ke dalam. Mas Eli mundur beberapa langkah saat aku mengunci diri bersamanya.
Kuhidupkan lampu yang tadinya padam. Lelaki di depanku berdiri tegap dengan senyuman. Kulirik sepasang sepatu yang melekat di kakinya.
Andai telapak sepatunya bersih, mungkin bakal kumaklumi. Tapi lihatlah ya Tuhan! Entah berkeliaran kemana saja dia sebelum menyelinap ke sini. Sepatunya kotor dan berlumpur. Andai Fadli tidak ada di kamar sebelah sudah kusuruh Mas Eli mengambil alat pel dan pel semua lantai yang ada di kamar ini!
“Kamu—”
Sebelum sempat aku mengomelinya Mas Eli sudah meraih tengkukku. Aku menghela napas saat bibir kami bertemu. Lelaki itu memperdalam ciumannya, membuatku kewalahan karena tidak bisa mengimbangi.
“Tunggu sebentar,” aku menjauh dan menahannya untuk tidak mendekat.
“Masuk lewat mana kamu?” Aku bertanya dingin.
Mas Eli menyeringai, yang entah kenapa terkesan menakutkan. Dipamerkannya kunci duplikat apartemenku di tangannya, lalu ditunjuknya jendela kamarku yang terbuka. Ternyata dia masuk lewat sana!
Salahku lengah, aku langsung mendekat dan mengunci jendela agar besok-besoknya Mas Eli tidak bisa menyelinap lewat sini lagi. Tapi nekat sekali lelaki ini, astaga. Ini lantai satu! Meski gedung apartemen yang kutempati memang tidak tinggi-tinggi amat, tapi tetap saja, lelaki satu ini cari mati!
“Sejak kapan kamu punya itu?” Aku menginterogasinya sambil menunjuk kunci yang digelayutkan di telunjuknya.
Lelaki itu diam sejenak. Lalu nyengir. Cengiran yang sama sekali tidak terkesan imut, malah menakutkan. Mirip penjahat kelamin.
“Aku menyogok pemilik apartemen.” Pengakuannya membuatku melotot.
Kamu lupa Aini. Dunia ini termasuk milyaran manusianya dikendalikan oleh uang dan lelaki di depanmu punya uang tersebut!
“Kutanya sejak kapan, bukan darimana kamu mendapatkannya!”
“Boleh aku berbohong?” Lelaki itu bertanya.
“Tentu saja tidak boleh!”
Tetap dilanjutkannya pengakuan, “Baru kemaren, kok.”
Setelah mendengus aku tidak memerdulikannya lagi. Kuamati ranjangku yang berantakan dan kotor karena ulahnya, segera kuganti seprai dan kurapikan. Mas Eli asyik memerhatikannya, tangannya tarik-ulur hendak memelukku, tapi delikan yang sesekali kulayangkan tanpa kalimat membuatnya mengurungkan niatnya.
“Kamu sangat perhatian pada ranjang yang kelak menjadi saksi bisu kita, Aini.”
Lelaki itu melayangkan candaan, membuatku mendengus untuk ke sekian kalinya. Kuteriaki Mas Eli yang masih tanpa merasa bersalah menginjak lantai kamarku dengan sepatu kotornya, “Lepaskan sepatu kotormu itu.”
Mas Eli menurut. Dilepaskannya sepasang sepatu yang membungkus kakinya lalu dilemparnya begitu saja ke luar jendela setelah dibukanya kembali. Aku terperangah tidak percaya. Semudah ini ‘lah lelaki kaya menyia-nyiakan uang. Aku tahu seberapa mahal sepatu yang beberapa saat yang lalu lelaki itu lempar ke luar seenaknya.
Takut-takut Mas Eli menyergap tubuhku menggunakan kedua lengannya. Lelaki itu melayangkan beberapa kecupan di punggungku, “Besok-besok pake nafkah dariku lagi, ya.” Mas Eli terdengar begitu senang saat menyebut uang pemberiannya sebagai ‘nafkah’. Lelaki itu mengeratkan pelukannya. Aku hanya menghela napas lelah.
“Bajumu lembab, darimana saja kamu?” Aku bertanya ketus. Kubalikkan tubuh untuk menghadapnya, mengusap-ngusap kemejanya yang benar-benar lembab.
“Lepas saja kalau begitu?” Mas Eli mengerling menyebalkan.
Aku menatapnya sinis, “Ganti aja. Nanti masuk angin.”
Aku hendak membuka lemari. Mas Eli sudah mendahuluiku dan mengacak-ngacak rak yang bersejejer dengan dadanya.
“Aku pinjam ini.” Lelaki itu menarik selembar gaun tidurku yang seksi, aku langsung merebutnya dengan wajah malu.
“Jika memakainya, serasa memeluk dirimu.”
“Ini saja,” aku berjongkok dan mengambil sebuah piyama biru yang ada di rak paling bawah. Mas Eli menerimanya. Lelaki itu tanpa malu langsung melepaskan bungkusan kemejanya di depanku.
“Aku keluar dulu,” sambil menundukkan kepala aku menuju pintu.
Suara Mas Eli menahan, gerak tangannya berhenti di dua kancing terakhir kemeja lembabnya. “Tunggu sebentar Aini, jika nanti bakal dilepas, kenapa harus berganti pakaian sekarang?” Lelaki itu bertanya kalem.
“Seharusnya kamu berikan piyama ini padaku jika sudah—”
Aku mendelik marah ke arahnya, Mas Eli berpikir dua kali untuk melanjutkan.
“Pakai itu dan jangan mengkhayalkan hal lebih.” Sungutku, “Akan kubawakan makanan, kurasa seperti semalam kamu ke sini tanpa makan terlebih dahulu lagi.” Aku pergi dan menutup pintu dari luar. Kuharap di dalam sana Mas Eli tidak berulah dan bertingkah mencurigakan.
Aku khawatir jika Fadli sadar malah mengecek kamar ibunya. Di dapur, aku mengecek kembali lauk sisa yang tadi kumasak. Syukurlah Fadli tidak menghabiskan semuanya. Sepertinya akan cukup untuk mengenyangkan perut Mas Eli, meski mungkin lelaki itu akan marah jika tahu aku memberikannya makanan sisa yang jika tadi sempat sudah kubuang ke tong sampah.
“Sudah?” Di balik pintu aku bertanya pelan sambil membawakannya makan malam.
Mas Eli menyahut, “Nggak pa-pa masuk sekarang.” Hampir saja aku mendorong pintu untuk membukanya, “Mumpung aku lagi nggak pake celana, biar kamu dapat pemandangan yang bagus.” Astaga, makhluk satu ini benar-benar menyebalkan.
Derai tawa Mas Eli terdengar saat aku tidak kunjung masuk ataupun menjawab, lelaki itu membujuk, “Tidak, Aini. Aku bercanda. Masuk ‘lah.”
Aku benar-benar masuk. Tapi tidak sepenuhnya lelaki itu jujur. Memang bawahannya utuh dengan celana piyama, tapi atasannya meresahkan. d**a, bahu, punggung dan perutnya terlihat. Untung kali ini, bagiku Mas Eli hanya ‘lah penyusup kelaparan yang butuh belaian, aku tidak melihatnya sebagai lelaki menggiurkan lagi.
“Seharusnya tadi kamu ambil sepuluh juta Aini. Agar makan malam yang lebih mewah yang akan kunikmati.” Protesan lelaki itu membuatku geram.
Aku langsung menyodorkan piring ke arahnya, Mas Eli yang tidak kunjung memakai atasannya makan dengan lahap. “Enak,” gumam Mas Eli seraya meraih bahuku. Lelaki itu mengecupnya lalu kembali menyuap.
“Enak sekali,” Mas Eli kembali mencium bahuku. Aku tahu niat kejinya, pura-pura memuji yang sebenarnya hanya ingin mencuri cium di tubuhku. Dasar manusia picik! Tapi lelaki itu benar-benar lahap. Melebihi Fadli yang kunobatkan sebagai anakku tersayang yang paling mencintai masakan ibunya.
“Nikmat Aini,” pujiannya mengelitik telingaku. Benar saja, kini kepalaku yang diraihnya. Dengan kilat lelaki itu mengecup bibirku. “Lezat—” saat Mas Eli berniat menciumku sekali lagi, langsung kutampar ringan wajahnya untuk menjauh.
Desisanku terdengar, “Gurih, renyah, keriyuk, manis, good, gurih sekali, renyah sekali, keriyuk sekali, manis sekali, good sekali … apa lagi, Mas? Pujian basimu itu menyebalkan.”
Mas Eli terdiam. Lelaki itu terlihat seakan kehilangan selera makan.