Malik keluar dari kamarnya pagi- pagi sekali. Seperti biasa, sepagi apapun ia bangun, ia pasti akan menemukan ibunya di dapur atau halaman rumahnya. “Pagi, Bu…” laki- laki itu mendekati ibunya yang sedang terduduk di salah satu kursi di meja makan. Ia mengecup pucuk kepala ibunya sekilas sebelum mengambil tempat di depannya. Indah menatap anaknya yang hari tampak sedikit berbeda. Laki- laki itu memakai celana olahraga pendek, lalu baju dengan ikon salah satu bank swasta di salah satu sudut bajunya. Kedua tangannya masih sibuk mengoleskan selai ke lembaran roti tawar. “Malik mau ikut lari santai di Senayan, Bu.” Kata Malik saat ia menatapnya dengan tatapan penasaran. “Oh. Sama siapa?” tanya wanita itu. Ia menangkup roti denga

