CHAPTER LIMA PULUH DELAPAN

2124 Kata

            Malik sedang fokus dengan laporan- laporan di atas mejanya saat mendengar pintu ruangannya diketuk pelan. Ia menengadah dan melihat wajah Bagas menyembul di baliknya.             “Tumben lo di sini?” tanya Bagas sambil melangkah mendekati meja besar di ruangan itu dan duduk di kursi kosong di depannya. Ia mulai tahu kebiasaan bos yang juga sahbaatnya itu. Setelah lewat dari jam makan siang, laki- laki itu biasanya akan keluar dari kantornya dan menghabiskan banyak waktu di lantai dua, bergabung dengan pekerja- pekerja lain hingga sore. Atau bisa dibilang, Lula adalah satu- satunya alasan laki- laki itu bersedia meninggalkan ruangan nyamannya.             “Lula nggak ada di bawah.” Jawab Malik. Ia kembali menatap dokumen di depannya.             Bagas berdecak. Ia menaruh

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN