Another You 3

1347 Kata
Happy Reading . . . *** Aku menjalankan kursi roda memasuki Rameez. Namun disaat aku ingin bertemu dengan Tiffany, wanita itu justru sedang tidak ada di tempat biasanya, yaitu di belakang kasir. Padahal aku memiliki rencana ingin mengajaknya untuk makan siang. "Dimana Tiffany? Apa dia tidak masuk?" Tanyaku kepada barista yang sedang bertugas di belakang kasir. "Dia sedang beristirahat." "Kau tahu dia beristirahat dimana?' "Entahlah. Yang aku tahu tadi dia pergi bersama seorang pria yang datang menjemputnya." "Kau tahu orangnya?" "Tidak. Tetapi pria itu sering datang ke sini." "Tinggi, dengan rambut coklat?" "Ya, dia orangnya." 'Liam. Rupanya wanita itu masih mengharapkan pria yang sudah tidak menepati janjinya semalam,' batinku. "Baiklah. Berikan aku 1 americano." "Apa ada lagi?" "Tidak. Itu saja." Setelah membayar dan mengambil kopi pesananku, aku menjalankan kursi rodaku yang hendak kembali ke kantor. Nafsu makanku tiba-tiba saja langsung menghilang disaat mengetahui Tiffany menghabiskan waktu beristirahatnya bersama Liam. Namun ketika aku sedang melewati jalanan trotoar, secara tidak sengaja salah satu rodaku terselip di aspal jalanan yang sedikit berlubang sehingga kursi rodaku tersangkut dan tidak bisa dijalankan. Lubang yang cukup dalam membuatku sangat kesulitan melepaskan jeratan yang menjebak roda kursiku. Aku berusaha dengan sedikit memaksa untuk memajukan roda kursiku agar dapat terlepas. Namun usahaku tidak berhasil juga karena aku juga harus memperhatikan kopi panasku agar tidak tumpah dan bisa mengenai kakiku. Ketika aku baru saja ingin meminta bantuan kepada orang-orang yang berlalu lalang di sekelilingku, tiba-tiba saja aku merasakan kursi rodaku yang di dorong dari belakang dan terlepas dari lubang jalanan itu. Aku pun cukup terkejut dengan keberadaan Tiffany ketika aku menengokkan kepala karena ingin mengucapkan terima kasih karena sudah membantu kursi rodaku yang terjebak. "Tiffany?" "Berhati-hatilah ketika melewati jalanan ini." "Ya, terima kasih." "Kau sehabis dari Rameez?" Tanyanya saat melihat papercup khas Rameez yang aku pegang. "Ya, tadinya aku mencarimu karena ingin mengajak makan siang bersama. Tetapi, rekanmu mengatakan jika kau sudah pergi dengan Liam." "Ya, tadinya seperti itu. Tetapi tiba-tiba saja dia memiliki urusan mendesak. Jadi, terpaksa kami menundanya kembali." "Seperti itu? Baiklah, kalau begitu aku kembali ke kantor dulu. Sampai jumpa." Baru saja aku hendak menjalankan kursi roda, Tiffany pun memanggilku. "Nick..." "Ada apa?" "Apa kau sudah makan siang? Bagaimana kalau kita makan siang bersama?" Mendengar ajakkan tersebut secara refleks aku pun mengangkat sebelah alisku tinggi-tinggi karena tidak percaya dengan seorang Tiffany yang mengajak makan siang bersama duluan, tanpa adanya paksaan dariku. "Kau tidak mau?" "Kita makan siang di kantorku saja. Jam makan siang seperti ini pasti banyak restauran yang penuh dan nantinya akan tidak cukup dengan waktu istirahatmu." "Baiklah, jika kau tidak keberatan aku mengunjungi kantormu." "Tentu saja tidak." Setelah itu aku menjalankan kursi roda dengan Tiffany yang berada di sampingku menuju kantor. Tetapi ketika kami sudah berada di depan lift, Tiffany pun langsung menatapku cemas. "Ada apa?" Tanyaku. "Kita ingin naik lift?" "Ya, kita makan di ruang kerjaku saja. Memangnya kenapa?" "Aku takut jika harus naik lift." "Kenapa kau takut? Lalu jika tidak naik lift, kau ingin naik apa sampai lantai lima puluh?" "Lima puluh?!" Ucapnya dengan terkejut dan takut. "Apa kau ingin meminta tolong Spiderman untuk membawamu ke atas sana? Tentu saja tidak, bukan?" Tidak lama kemudian, pintu lift pun terbuka. Aku langsung menarik tangan Tiffany dan memaksanya masuk sebelum pintu lift tertutup. "Aku takut, Nick." Setelah aku menekan lantai lima puluh pada tombol lift dan pintu langsung tertutup, aku pun menarik pinggang Tiffany hingga wanita itu jatuh di atas pangkuanku. Kondisi lift yang hanya berisi kami berdua tentu saja membuatku berani melakukan hal tersebut. "Tutup matamu dan peluk aku se-erat apapun untuk menyalurkan ketakutanmu." Tatapan mataku dan suara yang sepertinya menenangkan Tiffany membuat wanita itu langsung melakukan apa yang aku katakan. Ia menyembunyikan wajahnya di bahuku dan memeluk tubuhku dengan erat. Aku tidak menyangka situasi seperti ini bisa membuat diriku merasa nyaman. Perasaan yang bahkan belum pernah aku rasakan bersama Alexa. Tanpa sadar aku pun mendekap punggung Tiffany dan memberikan ketenangan dengan membelainya perlahan. Beberapa saat kemudian, suara dentingan lift dan terbukanya pintu menyadarkanku dengan situasi itu. "Kita sudah sampai, kau bisa membuka matamu." Ucapanku itu membuat Tiffany mengendurkan pelukan secara perlahan dan ia pun berdiri dari pangkuanku. "Ayo, kita ke ruanganku,". "Jess, pesankan 2 porsi makanan di restauran biasa lalu antar ke ruangan," perintahku kepada sekretaris sebelum aku masuk ke ruang kerjaku. "Baik, sir." "Selamat datang di ruang kerjaku, duduklah. Kau ingin minum apa?" "Aku bukanlah tamu, Nick. Jadi tidak perlu kau suguhkan minuman," balas Tiffany sambil mendudukkan diri di sofa. "Ayolah, siapapun yang datang ke ruang kerjaku adalah tamu." "Kalau begitu, apa saja." Lalu aku mengarahkan kursi rodaku menuju minibar yang berada di sudut ruangan untuk mengambil minuman soda. Setelah mengambil 2 kaleng minuman soda dari kulkas, aku menghampiri Tiffany yang sedang memperhatikan setiap sudut ruang kerjaku. "Ada apa?" "Ruang kerjamu sangatlah luas, Nick. Bahkan sepertinya kamar flat-ku saja tidak sebesar ruanganmu ini." "Minuman soda saja tidak masalah, bukan?" Tanyaku sambil memberikannya kepada Tiffany. "Tidak. Terima kasih, Nick." Balasnya sambil tersenyum lalu membuka minuman tersebut untuk diminum. "Ya, aku lebih suka dengan ruang kerja yang luas seperti ini." "Dan dengan semua ornamen yang menghiasi ruangan ini berwarna hitam, apa itu juga kesukaanmu?" "Warna hitam bisa membuatku tenang." "Aku mengerti." "Jadi... kau sungguh takut saat harus menaiki lift, Tiffany?" "Selain itu aku juga takut dengan ketinggian. Dengan menaiki lift itu sama saja dengan aku yang sedang diantar menuju ketinggian." "Tetapi saat ini kau sedang berada di gedung lantai lima puluh. Kau tidak takut?" "Jika tidak melihat jendela yang mengarah langsung ke langit atau pun ke arah bawah, aku tidak akan merasa takut." Tidak lama kami berbincang, pintu ruanganku pun terbuka dan munculah Jess sambil membawa paperbag berisi makanan yang sudah aku pesan tadi. "Aku lupa bertanya kepadamu. Apa kau memiliki alergi seafood?" Tanyaku sambil membuka paperbag tersebut. "Tidak. Aku hanya alergi terhadap kacang." "Sama denganku. Tetapi aku hanya tidak suka kacang, bukannya alergi,". "Makanlah, ini seafood salad terenak yang pernah ada." Balasku sambil memberikan kotak makanan kepada Tiffany. Baru kali ini, makan siang-ku bersama Tiffany terasa lebih santai dan tidak ada beban seperti sebelum-sebelumnya. Biasanya kami hanya akan saling terdiam saat menghabiskan makanan. Namun kali ini Tiffany sesekali mengajakku berbicara, dari pembicaraan ringan sampai tidak penting. Seperti membicarakan udang adalah termasuk spesies ikan atau bukan. "Sejak kemarin aku perhatikan, kenapa makan-mu cepat sekali, Nick? Bahkan aku saja belum sampai setengah porsi," tanya Tiffany dengan takjub sekaligus bingung. "Aku memiliki rekor makan tercepat." "Benarkah? Berapa lama?" "Satu menit, memakan burger berukuran besar." "Wow..." Baru saja Tiffany menunjukkan ketakjuban terhadap diriku, tiba-tiba saja pintu ruanganku terbuka dan munculah suara yang aku kenal di sana. "Nick, kau harus..." Ucapan Selena terhenti saat melihat diriku yang ternyata tidak sendirian di ruanganku. "Hhmm... apa aku mengganggu acara kalian?" Sambung Selena dengan sedikit canggung. "Tidak, kami hanya sedang makan siang saja. Ada apa? Liam sedang tidak ada di kantor." "Ya, aku tahu. Aku hanya ingin memberitahu saja jika saudaramu itu sangatlah menyebalkan." "Menyebalkan?" "Dia melarangku pergi ke Paris karena dia ingin melamarku. Dia melamarku, Nick!" "Wow... Benarkah? Congratulation." "Babe, kau tidak bisa memberitahu banyak orang jika aku baru saja melamarmu. Ka..." Tidak lama saat Selena memberitahu hal tersebut, Liam pun juga datang dan ucapannya itu langsung terhenti saat melihat keberadaan Tiffany di ruang kerjaku. "Hhmm... sepertinya aku harus kembali bekerja. Dan, terima kasih atas makan siangnya, Nick." Ucap Tiffany dengan nada suara kecewa dan sedih yang bisa aku dengar di dalamnya. "Apa perlu aku antar? Bagaimana kau turun dengan lift nantinya?" "Tidak, tidak perlu. Aku akan baik-baik saja. Sekali lagi terima kasih, Nick. Sampai jumpa." Aku memperhatikan Tiffany yang melangkah keluar ruanganku dengan kepala yang tertunduk. Setelah wanita itu menghilang, pandanganku beralih kepada wajah Liam yang memandang kepergian Tiffany dengan pandangan yang tidak bisa aku artikan. Aku pun tersenyum senang di dalam hati mengetahui Tiffany yang sepertinya sangat kecewa dengan Liam. Kedatangan Selena yang secara tiba-tiba untuk memberitahu jika dirinya baru saja dilamar itu ada hal baiknya juga. Dengan begitu, Tiffany pasti akan kecewa dan marah kepada Liam. Dan hal tersebut akan menjadi keuntungan dan senjata agar wanita itu dapat berpaling kepadaku. *** To be continued . . .
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN