Fano menatap temannya dengan kesal, padahal dirinya sudah sangat lama menunggu tapi temannya tetap saja berbincang di sana seolah-olah menganggap dirinya tak ada sama sekali. “Mau di sana sampai kapan hah?!” Fano berteriak dengan lantang. Membuat ketiga gadis yang di sana ikut terperanjat dengan teriakan Fano. “Sebentar!” Dinda berteriak tak kalah besarnya dengan Fano, “Ayo, cepetan Maisya tuh si Fano udah marah,” Ucap Dinda mendesak Maisya. “Lagian tuh Fano kagak sabaran banget sih....” Balas Intan. “Ya sudah lah, ayo cepatan makanya biar dia gak marah lagi!” Timpal Dinda. Maisya hanya mengiyakan apa yang di katakan temannya. Padahal dirinya masih sibuk mengagumi tempat yang baru saja ia injak ini. Mereka berjalan tak menyangka di atas rooftop ada sebuah ruangan. “Tunggu

