Tadi malam Maisya tak dapat tidur nyenyak entah kenapa bayangan orang tuanya selalu saja menghampirinya. Bahkan dalam hari ini sudah tiga kali Maisya menelepon kedua orang tuanya. “Ibu ... Maisya rindu ... hiks ... hiks,” Maisya menangis tersedu-sedu sudah hampir tiga puluh menit dia menelepon Ibunya tapi tetap saja kerinduannya tak hilang. Hanya saja Maisya tak bisa berbicara dengan bapaknya karena sudah pergi ke sawah terlebih dahulu. “ ‘Kan di sana sudah ada tante Amy toh, kenapa sedih lagi. Lagian Ibu dan Bapak sehat-sehat aja kok,” “Tapi Bu....” “Sudahlah Nak, jangan menangis terus kasihan toh Tante mu melihat keadaan dirimu sekarang. Nanti Tantemu berpikir kamu tak nyaman dengannya!” “Iya Bu, maaf-in Mesya Bu,” Maisya menarik ingusnya karena sudah penuh di dalam hidungny

