#Bab 10+ Hari ke-7
Baru kali ini aku memakan masakan yang mengocok semua isi perut. Semalaman aku kembali muntah bila teringat dengan rasa masakanku sendiri.
Kupikir, May jago memasak. Namun sepertinya dia tidak bisa memasak seperti, Halimah.
Belum memakan masakkannya saja aku sudah terkapar lemas semalaman. Bagaimana nantinya jika harus memakan masakkannya sehari tiga kali? Membayangkannya saja sudah membuatku mual.
Aku harus menyuruh dia kursus memasak dari sekarang. Karena mau tidak mau aku lebih suka masakan rumahan daripada masakan di luar. Limah selalu berpesan, "Kalau kita sendiri yang masak, bisa tahu standar kebersihannya seperti apa. Sehingga aman dikonsumsi."
Bukan hal yang aneh bila setiap hari aku memakan masakannya. Karena ia hampir tidak pernah berhenti memasak. Kecuali ketika hamil muda Jingga. Ia sempat berhenti memasak beberapa bulan. Rasanya benar-benar mual hanya melihat bumbu dapur, katanya.
Aku jadi rindu masakan Limah yang selalu memanjakan lidah. Tapi wajar saja dia jago memasak. Sedari kecil dia sudah ditinggalkan ibunya. Memasak dan membersihkan rumah sudah menjadi aktifitasnya sehari-hari.
Sementara, May? Dia kan perempuan pekerja keras. Pantas saja jika dia tidak bisa memasak. Bukankah setiap orang pasti memiliki kekurangan dan kelebihan? Jika aku menerima kelebihan May, aku juga harus menerima kekurangannya.
Bagaimanapun May harus bisa memasak untuk menjaga kesehatan keluargaku nantinya. Setelah meminangnya, aku harus menyurh May kursus memasak, biar biayanya aku yang tanggung. Setidaknya ada yang menyiapkan makan, ketika aku lelah dengan dunia kerja, dan itu seperti support terbaik dari seorang istri.
Drtt...
[Alhamdulillah kemarin aku dan Jingga sampai dengan selamat, Mas.] Pesan dari Limah masuk ke ponselku. Tak mau menunggu lama, aku segera menelponnya.
[Halo Assalamu'alaikum, Mas,] sapanya sambil tersenyum.
"Waalaikumssalam warahmatullah, Bagaimana perjalananmu, Dik? Kenapa baru balas pesan, Mas?" cercaku kesal. Bagaimanapun aku masih suaminya yang khawatir dengan kabar mereka berdua. Harusnya ia tidak membuatku khawatir seperti ini.
[Maaf, Mas. Batraiku lemah kemarin.] Ah, pasti hanya alasan dia saja yang tidak mau mengabariku.
"Apa susahnya di charger, Dik?" sungutku kesal.
[Kemarin aku langsung mengurus bapak, Mas. Saturasi oksigennya melemah."] timpalnya tenang.
"Ya Allah, terus bagaimana kondisinya sekarang?" Emosiku mereda setelah nama bapak disebut. Bapak adalah mertua idaman menurutku.
[Mulai membaik,] jawabnya singkat.
"Jingga bagaimana kabarnya?" tanyaku mencari pembicaraan.
[Baik.] timpalnya. Sesekali matanya terlihat mengawasi sesuatu di depannya.
"Kamu?"
[Baik.] Aku kehilangan pembahasan.
[Yaudah nanti lagi ya, Mas. Aku sibuk,] ujarnya.
"Eh nanti dulu!" Sebisa mungkin aku menahannya agar tidak mematikan telpon.
[Apa lagi?] tanyanya kesal. Raut wajahnya sudah terlihat tak bersahabat.
"Kapan kamu pulang?"
[Entah.] jawabnya cepat.
"Lagi apa sekarang?"
[Duduk.] Limah benar-benar tidak menambah percakapan. Ia hanya berbicara singkat jika ditanya. Aku kehilangan sosoknya yang cerewet.
"Nanti Mas kesana, ya!”
[Gak usah, Mas.] Dia selalu mematikan obrolanku. Kami sama sama terdiam.
[Udah dulu ya, Assalamu'alaikum.] Tanpa menunggu keputusanku, dia memutuskan telpon secara sepihak. Rasa rinduku seolah dipermainkan.
***
"Pak Ridwan, akhir-akhir ini saya lihat kinerja anda menurun. Bapak juga sering terlihat tidak fokus terhadap pekerjaan." Selesai rapat, Pak Anshor langsung menghadangku, menunggu jawaban atas kekecewaanya terhadap kinerjaku.
"Eum anu, Pak. Saya--" Tiba-tiba saja semua kata yang ada di otakku menguap begitu saja.
"Dia mau nikah lagi, Pak." Belum selesai aku melanjutkan kata-kata, Anto sudah merepet kemana-mana.
"Nikah lagi? Bukannya istri bapak sebentar lagi mau melahirkan? Kejam sekali anda sebagai seorang suami. Bisa rusak citra kantor ini jika itu terjadi. Jangan sampai karyawan lain meniru perilaku burukmu itu, Pak! Jika itu sampai terjadi, carilah pekerjaan lain! Saya sebagai pimpinan merasa malu." Pak Anshor dan Anto pergi meninggalkanku sendirian, tanpa menungguku menjawab pertanyaan.
Dasar si Anto, memang suka cari perkara. Harus kubuat perhitungan dengannya.
"Anto, tunggu!" Aku mengejar Anto. "Mau cari muka ya kamu di depan Pak Anshor?" Tanganku memegang kerah bajunya.
"Wih, ampun, Bos. Jangan main kasar gini dong. Masa orang berpendidikan marahnya kayak gini." Ia malah meledekku.
"Teman gak tahu diuntung kamu ini memang." Hampir saja tanganku melayang ke wajahnya, dia mengelak dengan cepat lalu menahan tanganku kuat.
"Wan, kita berteman sudah lama. Malu lah kalau saling baku hantam begini. Sabar, aku sudah mengingatkanmu beberapa kali tentang pekerjaanmu yang tak beres, namun kau tidak pernah menggubrisnya. Aku hanya mencoba agar kau kembali fokus. Setidaknya setelah diingatkan oleh Pak Anshor. Orang yang disegani bersama. Semoga denga peringatan darinya, membuatmu kembali fokus dalam bekerja. Aku heran, kau selalu berprasangka buruk kepadaku." Dia melepaskan tanganku lalu berlalu meninggalkanku.
Ada benarnya ucapannya. Sering kali lamunanku membuat pekerjaanku terbengkalai. Tapi bukan berarti dia harus bilang ke Pak Anshor aku akan menikah lagi, bukan?
***
"Assalamu'alaikum, aku pulang." Kubuka pintu rumah. Hening. Biasanya ada dua orang perempuan yang menanti kedatanganku di depan rumah. Mereka menyambut hangat kepulanganku dengan raut yang sumringah, namun akhir-akhir ini aku menghabiskan waktu sendirian di sini.
Kulirik tanaman Limah, daun-daunnya mulai layu dan mengering. Biasanya semua bunga selalu segar karena ada perawatnya.
Rumah ini sepi seolah kehilangan tuannya. Semangatku ikut hilang begitu saja. Perginya Limah dari rumah ini, memberikan kesan hampa yang teramat mendalam dengan kondisi di dalamnya. termasuk di dalam hati dan pikiranku.
Ku ambil sapu di pojok ruangan. Mulai menyapu agar rumah ini tidak terlalu sumpek karena berantakan.
"Mas, pojoknya juga! Mas, kolong-kolongnya!" Suara Limah terngiang-ngiang di kepalaku.
Sedang apa mereka sekarang?
Aku melangkahkan kaki menuju kamar. Kulihat baju kotor dan handuk basah di atas kasur, ceceran air bekasku mandi, baju yang keluar semua dari lemari. Ternyata kesedihanku harus berkali lipat melihat rumah yang berantakan seperti ini.
Drrtt …. Drtttt .... Panggilan video masuk, "May?" Kenapa dia meneleponku?
"Halo Assalamu'alaikum, May. Ada apa?"
[Waalaikumssalam warahmatullah, A. Aa lagi apa? Sibuk nggak?] tanyanya di sebrang sana.
"Eh, enggak sibuk, ko. Kenapa May" Aku merapihkan rambutku yang berantakan. Tampan.
[Nggak apa-apa. Aku cuma kangen sama Aa,] Duh si cantik, sabar ya nanti Aa tiap hari ketemu sama, Neng May, ko!
"Aa juga kangen sama Neng May," tuturku lembut. Wanita secantik May memang harus sering dipuji karena keindahan paras dan sikapnya.
[A, tebak deh, hari ini hari apa, tanggal berapa?] Ia terlihat sumringah setelah memberiku tebakan. Senyumnya merekah sempurna.
"Sekarang tanggal 28 November, 2020, May," jawabku setelah melihat tanggal di aplikasi kalender.
[Iiih bukan itu, A.] May merenggut, bibirnya mengerucut menggemaskan.
"Iya bener, kok."
Kupastikan sekali lagi dengan melihat kalender di hp. Barangkali aku salah melihat tanggal, namun ternyata hasilnya tetap sama.
[Coba deh buka i********:, May!] titahnya sambil memilin ujug jilbabnya. Buru-buru kubuka instagramnya, aku menatap profilnya tanpa kedip. Namun tetap saja tak kutemukan jawaban di sana.
[Orang-orang udah ngucapin selamat ulang tahun sama, May. Tapi Aa nggak inget sama sekali. Aku kira tadi jam 12 malam lewat sedetik, Aa mau ngasih kejutan sama, May. Tapi ternyata enggak.] Celotehnya panjang lebar. Ia terlihat kesal sekali. Ya ampun aku lupa.
[Kan May udah bilang. Tanggal 28, November, May ulang tahun. Harusnya dibuat alarm di hp Aa.] Dia merenggut.
[Duh, maafin Aa ya, May. Aa lupa. Selamat ulang tahun calon istriku, semoga sehat selalu, makin cantik, makin Sholehah, makin menjadi pribadi yang lebih baik lagi, dikabulkan semua keinginannya," ucapku panjang lebar.
[Udah gitu aja?] Ia mengerling malas. Entah apalagi kesalahanku di matanya.
"Gimana lagi?" Aku menggaruk kepala yang tak gatal.
[Dasar calon suami gak peka. Aku kira bakal ada kejutan, hadiah, atau apa. Ternyata cuma gitu doang!] Ia membuang muka menghindari tatapanku.
"Yaudah deh, Aa ke rumah Neng May sekarang, ya!" Duh kenapa nyeplos gini? Ternyata gara-gara tidak ingin May marah, mulutku bicara begitu saja. Membuat janji yang sulit kutepati. Aku menepuk mulutku kesal. Ah, lagi-lagi aku mengingkari perjanjianku dengan Halimah.
[Nah gitu dong. May tunggu ya, A. Assalamu'alaikum calon suami.] Dia senyam-senyum setelah dikatakan aku akan datang.
"Waalaikumssalam, calon istri." Aku langsung mematikan panggilan.
Duh apa yang harus aku perbuat sekarang? Jika aku kesana, aku sudah melanggar janjiku terhadap Halimah. Jika tidak kesana, May marah.
Aku bingung tak menentu. Harus kudahulukan janjiku atau merebut hati calon istri dulu.
Ya sudahlah, toh Limah gak ada di sini. Dia gak akan tahu aku ke rumah, Neng May.
Aku segera bergegas mandi, lalu mematut diri di depan cermin. Menyisir rambut sedikit saja bisa bikin dua wanita kelepek-kelepek. Kusemprotkan minyak wangi, sempurna.
***
"Assalamu'alaikum …" Kusembunyikan hadiah yang tadi dibeli di belakang tubuhku.
Kulihat sekitar, kenapa ramai? Hidangan-hidangan tersaji rapih. Entah ada berapa jenis kue yang ada di piring. Terlihat manis dan menggiurkan.
"Waalaikumssalam warahmatullah, eh akhirnya, Nak Ridwan datang juga. Udah ditungguin dari tadi. Ayo masuk, Nak!" Ditunggu dari tadi? Perasaan aku hanya membuat janji dengan May, kenapa jadi banyak orang yang nunggu gini? Dengan ragu-ragu kulangkahkan kaki ke dalam rumah.
Kulihat May memakai gamis brukat berwarna biru telur asin, dia berdandan cukup wah sekarang. Semakin cantik saja.
"Oh jadi ini calon suami, Neng May. Duh meuni kasep pisan si Ujang teh." (ganteng banget si Aa, maksudnya.)
"Kesininya juga bawa mobil atuh ibu, bapak. May mah gak pernah salah milih calon suami." Bu Rumi memperkenalkanku dengan bangga.
"Duh si, May mah beruntung pisan pokonamah. Udahmah cantik, calon suaminya ganteng, mapan. Ah inimah langsung aja atuh Bu Rumi, Pak Otang." Yang lain ikut menimpali.
Aku duduk dengan tegang. Apa yang harus aku katakan? Susah payan kutelan salivaku, aku gugup sekarang.
"Pastinya atuh Ibu-ibu, Bapak-bapak. Kedatangan si Ujang Ridwan kesini itu untuk melamar, Neng May." Deg, aku kaget mendengar ucapan Pak o***g. 'Duh pengen ambles aja ke dalam Bumi. Kenapa jadi kacau begini si?' Aku tidak menyangka ucapanku akan membuatku diam tak berkutik. Menyesal pun sudah tidak berguna.
Bayangan Limah dan Jingga menari-nari di otakku. Aku dihantui rasa bersalah yang teramat.
"Bukan begitu, Nak Ridwan?" Aduh apa yang harus aku katakan sekarang? Kulirik ponselku berkali-kali. Siapa tahu ada panggilan masuk, lalu aku beralasan mengangkatnya di luar, namun tak ada seorangpun yang ingin mengetahui kabar Ridwan Al-Ghifari. Termasuk Halimah dan Jingga yang dulu sangat rajin menelponku..
Jika kukatakan iya, sungguh tujuanku kesini bukan untuk itu. Jika kukatakan tidak, mau ditaruh dimana mukaku?
Kulihat May yang menunduk dengan wajah bersemu merah. Ish, May! Kenapa kamu bertindak sendiri begini?
"Jang Ridwan!" Pak Otang memanggil lirih.
"Oh, eum, i... Iya, Pak." Ingin kumaki diri sendiri. Kenapa mudah sekali berkata iya?
"Alhamdulillah.. Kami teh sangat senang pisan dengan niat baik Ujang Ridwan ke si, May teh. Akhirnya anak kami bakal segera menikah dengan calon yang gagah dan sukses." Bu Rumi berbinar-binar sambil merumpi sana-sini.
"Hebat ya, May. Dilamar pas ulang tahun ke-21. Saya kira teh cerita kayak gini cuma ada di film-film. Aa punya teman tidak? Siapa tahu bisa dikenalkan dengan saya." Sahabat May ikut angkat suara, sambil mengedip-ngedipkan sebelah matanya. Bulu kudukku malah berdiri ditatapnya begitu. Entah karena parasnya terlihat menakutkan, atau aku sudah terlanjur berada di situasi yang mencekam?
Aku hanya bisa tersenyum, bingung harus bicara apa lagi.
Mereka sibuk bercakap satu sama lain. Sesekali matanya menatap ke arahku seperti menjadikanku objek perbincangan. Tak hanya mulutnya saja yang lihai, tangannya juga lihai mengambil kue yang ada di piring, lalu mereka kembali berbincang dalam kondisi mulut penuh dengan kue.
"Jadi gimana, May? Tuh Jang Ridwan kesini teh mau ngelamar, Neng May. Diterima enggak? Bapak mah terserah neng aja. Kalau Neng seneng, Bapak juga ikut seneng." Pak Otang sangat bersemangat ketika anak gadisnya mau dilamar orang. Lebih tepatnya ngedadak ngelamar.
"Neng mah ikut bapak sama ibu aja," jawabnya malu-malu sambil menunduk. Blush on di pipinya semakin bersemu merah.
"Iya, Jang. Si Eneng teh mau nerima lamaran Ujang. Sok ku bapak we diwakilin, da si neng mah suka malu-malu." Pak Otang mengusap punggungku senang. Mungkin sedikit aneh karena bajuku basah karena keringatku bercucuran.
"Sok atuh, pasangin cincinnya!" sambungnya lagi. Ia mempersilakanku maju ke tengah-tengah riungan warga. Aku tersentak kaget. Aku hanya membawa bunga sama coklat aja, gak ada bawa-bawa cincin segala rupa. Telapak kakiku sudah basah sekarang, aku benar-benar tegang.
"Ayo langsung maju aja!" Bapak-bapak yang lain menarik tanganku, begitupun dengan salah satu ibu yang menarik tangan May.
"Sok dipasangin cincinnya, Jang! Keburu Maghrib." Perintahnya tegas. Seperti sedang terburu-buru dan akan menghadiri acara lain sepulang dari sini. Aku hanya gelagapan.
"Ayo, A. Neng siap ko." May menjulurkan jari-jari tangannya yang lentik lagi putih.
Keringatku semakin deras, kakiku gemeteran, kerongkonganku mendadak kering seketika.
May melotot, aku hanya memberi isyarat bahwa aku tidak membawa cincin. Berharap ia paham dengan kondisiku yang sudah pias memprihatinkan. Namun ternyata tak ada tanda-tanda May peka dengan kondisi yang sedang kuhadapi.
"Duh maaf sepertinya gak kebawa." Hanya kata itu yang bisa kulontarkan, sambil pura-pura merogoh cincin dari saku celana dan baju. Semoga mereka percaya dengan kata-kataku ini.
"Huh si Ujang teh kumaha? Masa yang pentingnya gak dibawa?" Orang-orang sibuk menggerutu, dan kulihat May tertunduk menahan malu.