##Bab 11 + Hari ke-8 "Duh maaf sepertinya gak kebawa," Hanya kata itu yang bisa kulontarkan. "Huh si Ujang teh kumaha? Masa yang pentingnya gak dibawa?" Orang-orang sibuk menggerutu, dan kulihat May sedih menahan malu. "Yaudah nanti aja Pak Otang lamarannya. Ini mah kayaknya gak bisa diteruskan. Kalau kata adatmah gak dicincinan teh belum keiket resmi atuh. Mending nanti kita kumpul lagi kalau si Ujang Ridwan bawa cincinnya." Seorang bapak ikut angkat suara untuk menengahi permasalahan kami. Meski ia sama kecewa, tapi beliau berusaha menenangkan tamu yang datang. "Alhamdulillah," ucapku lirih. Keadaan masih berpihak kepadaku kali ini. Aku menghembuskan nafas lega. Setidaknya aku tidak terlalu bersalah kepada istri dan anakku. Tamu undangan May, mulai bubar dan rumah ini lenggang

