#Bab 20+ Hari ke-17, 18, 19. Ridwan POV Sudah 3 hari Halimah mendiamkanku, tak ada satupun pertanyaanku yang dia jawab. Omonganku bak angin lalu yang tak berarti apa-apa untuknya. Ia lebih sering melamun sendirian di belakang rumah. Bahkan Jingga pun lebih sering ia titipkan pada Rasyid. Sikapnya yang dingin membuat persendianku ngilu. Aku lebih suka ia memarahiku daripada mendiamkanku. Hening... Hanya terdengar bunyi sendok dan garpu berdenting di atas piring, kami sibuk dengan pikiran masing-masing. "Dik…" Aku berusaha membuka suara, memegang tangannya, lalu dia menghempaskannya kuat. Sesakit itukah perbuatanku hari-hari lalu? Suasana kembali hening. Jingga sibuk dengan makanannya. "Mas pulang agak telat nanti, ada meeting dulu." Lagi, Limah hanya terdiam. Nyatanya didiamk

