#Bab 21+Hari ke-20 Ridwan POV 16.30 WIB, waktunya pulang ke rumah melanjutkan kehidupan sehari-hari yang semakin terasa hambar. Aku tak mengerti dengan perasaanku sekarang, hatiku hampa. Tak ada yang bisa ku deskripsikan atas kondisiku hari ini. Dengan lunglai, kutinggalkan kantor, semoga sore ini ada secerca harapan, atas ulah yang kulakukan. "Pulang, Wan?" Entah mengapa, akhir-akhir ini Anto selalu membuat moodku semakin buru. "Gak. Mau ke sawah," ketusku. "Widih, jadi petani sekarang?" ejeknya. "Iya. Mau nyangkul lahan yang luas, nanti bekas galiannya, bisa kugunakan untuk sumpal mulut kau." "Wkwk, emosi teroos!" "Kau yang memancing emosiku, To," delikku. Aku sengaja berjalan cepat agar tidak sejajar dengannya. "Yaudah, maaf deh," ujarnya bersalah. "Dahlah, aku mau

