Bab 8 + Hari ke-5
Halimah POV
"Ketika Zulaikha mengejar cinta Yusuf, Allah jauhkan Yusuf darinya. Namun ketika Zulaikha mengejar cinta Allah, Allah dekatkan Yusuf untuknya." Sungguh kutipan ini sudah masyhur di telinga orang-orang di berbagai peradaban, hingga aku sendiri terbuai akan makna yang tersirat dari kalimat singkat itu.
Aku bukan Zulaikha, dan Mas Ridwanpun bukan Yusuf. Namun cara Zulaikha akan kucoba untuk mempertahankan rumah tanggaku. Meski aku tidak mau berharap lebih dengan ending yang akan kudapatkan akan sama seperti Zulaikha, setidaknya mendekatkan diri kepada Allah akan membuatku jauh menjadi lebih baik.
"Oang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingati Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram” (Ar-Ra'du :28)
Sudah 5 hari aku pergi dari rumah, Mas Ridwan. Sungguh aku tidak mau menjadi istri yang durhaka karena keluar rumah tanpa izin suami, namun kupikir, Mas Ridwan akan memahami keputusanku.
"Bunda, Assalamu'alaikum ... Jingga pulang," anakku pulang mengaji bersama teman-temannya.
Setidaknya aku lega karena Jingga bisa bergaul dengan anak seusianya. Jika tidak, aku khawatir dia terus-terusan sedih kenapa harus berbeda rumah dengan Ayahnya.
"Waalaikumssalam warahmatullah, Sayang. Duh anak pinter bunda udah pulang." Jingga mencium tanganku khidmat. Jingga, kau adalah pelipur lara yang Allah kirimkan untukku.
"Bunda ... Kita ke lumah Ayah yuk! Jingga kangen ayah." Dia duduk di pangkuanku.
"Kan kemarin kita sudah ketemu Ayah, Nak,” ucapku menenangkan, berharap ia belajar untuk hidup tanpa ayahnya.
"Tapi aku pengen ketemu ayah lagi." Dia merajuk.
"Tunggu Ayah pulang ya, Nak. Nanti Bunda antar Jingga ke rumah Ayah,” hiburku. Padahal aku tidak mau pergi ke sana.
"Asyiik. Bunda main di lual, yuk! Nanti kan bisa kelihatan kalau ayah pulang." Dia menarik tanganku. Aku mengikuti langkah kakinya yang kecil.
Aku suka rumah ini, meski sederhana namun bersih dan memiliki taman kecil di halamannya, sehingga bisa merawat bunga-bunga di sini. Seperti di rumah suamiku dulu.
"Tin... Tin.. Jingga, Ayah pulang." Mas Ridwan tiba-tiba datang mengejutkan kami. Dia segera memarkirkan mobilnya di halaman rumah ini.
"Jingga lihat, Ayah bawa apa?" Mas Ridwan membawa dua tentengan. Jingga menghambur kepelukan ayahnya.
"Holeee mainan lagi." Mas Ridwan segera menggendong Jingga.
"Ini untukmu." Dia menyodorkan satu tentengan lagi kepadaku.
"Apa itu, Mas?" Aku menerimanya dan langsung membukanya.
"Mukena? Kan aku udah punya mukena, Mas?” tanyaku heran.
"Supaya kamu mau jadi makmumku lagi. Aku kesepian shalat sendirian." Raut mukanya berubah. 'Mas, apa sebatas sepi saja hadirku untukmu?'
"Terima kasih, Mas,” ucapku singkat sembari menyuguhkan seulas senyum untuknya.
"Ayo masuk!" Dia membawa Jingga masuk. Aih seenaknya saja dia masuk,
"Eh mas tunggu ... Siapa yang mempersilakan Mas masuk?" Aku menghadangnya.
"Jingga, Bunda galak sekarang sama ayah. Jingga jadi tim ayah ya, sayang!" Mas Ridwan menghasut Jingga.
"Oke, Ayah." Jingga turun dari pangkuan Mas Ridwan. "Bunda, Ayahkan mau main sama Jingga. Jadi izinin Ayah masuk, ya! Kasian Ayah di lumah sendilian gak ada temannya." Dia menggoyang-goyangkan tanganku memohon.
"Aish, Mas ini bisa aja pakai, Jingga jadi tameng." Aku berkacak pinggang.
"Jingga tolong Ayah!.. Bunda galak." Mas Ridwan bersembunyi di balik tubuh mungil Jingga.
"Awas ya kamu, Mas." Aku mencubit pinggangnya, dia berlari aku mengejarnya.
Duh perutku sakit. Aku lupa ada bayi di dalam sini.
"Bunda ayo kejar kami." Jingga menjulurkan lidah.
"Aduh perut Bunda sakit." Aku pura-pura kesakitan,
Tanpa kusadari, Mas Ridwan dan Jingga memelukku. Kupastikan sekali lagi, Mas Ridwan ikut memelukku.
"Kamu gak papa, Dik?" tanyanya khawatir. Ia memegang perutku dan memastikan aku tidak kenapa-napa.
"Bunda dedek bayi kenapa?" Jingga mengusap-usap perutku sedih.
"Tapi boong." Meski sebenarnya sakit, aku mencoba menghibur mereka. Tak tega rasanya melihat mereka merenggut sedih di hadapanku. Biar aku saja yang merengkuh luka itu, selagi aku bisa.
"Bandel kamu ya sekarang." Mas Ridwan mencubit pipiku, aku tidak bisa menghindar lagi. Kurasakan tangannya menempel di pipi. Aku tidak bisa bohong, aku rindu dengan sentuhannya.
"Dik, apa kamu gak ada niatan ngasih aku makan?" tanyanya sambil melihat-lihat rumah ini.
"Gak. Gak ada."
"Kok kamu jadi pelit sekarang?"
"Biarin." Mas Ridwan tetap menuju ruang makan, dibukanya tudung saji.
"Wah enak banget menunya." Dia langsung mengambil piring.
"Ck...ck.. Mas, siapa yang bolehin Mas makan?" Aku berdiri di hadapannya.
"Hehe.. Mas lapar, Dik. Sebagai teman yang baik, boleh lah ya berbagi makanan? Masa kamu mau ngeliat aku kelaparan tersu pingsan?" Dia cengegesan.
Aku menarik kursi ke hadapannya, "Makan yang banyak, Mas. Aku gak tega kamu kelaparan begitu." Sebetulnya tak sampai hati aku melihat kondisi Mas Ridwan begini. Aku lihat dia lebih berantakan dari sebelumnya. 'Mas, apa cinta itu akan benar membuatmu bahagia? Sementara sekarang saja kondisimu memprihatinkan' batinku.
"Nah gitu dong. Mas jadi semangat makannya." Dia mengambil sayur lodeh banyak sekali.
"Ish..ish.. Nanti Jingga makan apa kalau dihabisin?”
"Hehe.. Habis enak si. Lagian kamu masaknya dikit banget." Dia unjuk gigi.
Mas Ridwan sangat lahap menyantap makanan. 'Mas andai tak ada kata ingin berpisah darimu, bukankah kehidupan kita selalu baik-baik saja?'
Adzan Maghrib berkumandang, lekas kuambil wudhu untuk bersiap shalat.
"Aku baru sadar, rambutmu panjang ya, Dik." Aku tak sadar Mas Ridwan sudah berada di depanku.
"Emang kenapa?" Aku buru-buru memakai kerudung.
"Cantik,” jawabnya singkat. Hampir saja aku terbuai kata singkat itu jika aku tak ingat dengan keinginan kerasnya berpisah denganku.
"Tapi tetep lebih menarik perempuan itu kan?" Aku mendecih dan berlalu meninggalkannya. Lebih tepatnya tidak mau melukai diri sendiri dengan jawaban yang sudah pasti keluar dari mulutnya.
"Dik, ke Masjid, yuk!" Dia menghampiriku ke kamar.
"Ayuk. Aku juga mau kenalan sama Pak Ustadz," ucapku asal. Aku hanya ingin lihat apa dia cemburu atau biasa saja.
"Ish...ish.. yaudahlah gak jadi. Di rumah aja. Nanti Ustadz ganjen itu curi-curi pandang lagi sama kamu." Aku tak tahu apakah ini adalah bentuk cemburunya atau hanya sebatas harga dirinya sebagai suami.
"Ayo ke Masjid, Ayah, Bunda." Jingga memakai mukenanya.
"Ayo..." Aku mengekori, Jingga.
"Mas, aku kunci dari luar ya kalau gak keluar?!" Aku berteriak dari luar,
"Ish... Ish.. kamu mau kunci aku, supaya bisa curi-curi pandang sama ustadz itu?" Dia setengah berlari menghampiriku.
"Gak. Satu aja bikin sakit, belum kepikiran lirik-lirik lagi. Kunci pintunya ya, Mas." Aku berjalan duluan bersama Jingga.
Kami menghabiskan waktu Maghrib dan isya di Masjid komplek.
"Eh kenapa kamu pindah rumah, Limah? Lagi pisah ranjang, ya?" Bu Tejo seperti mengorek gosip. Ia mulai mencercaku dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuatku tidak nyaman.
"Enggak ko, Bu. Kami baik-baik saja. Mas Ridwan juga sering ke rumah, aku juga suka ke rumah sana. Ini bawaan bayik aja, Bu. Saya lagi suka di tempat baru sampe beberaa saat kemudian," dalihku.
"Masa si?" koreknya lagi. Ibu-ibu yang lain, yang juga senang bergosip seperti Bu Tejo mulai mendekat ke arah kami.
“Iya, Bu. Namanya orang ngidam kan beda-beda.” Aku sudah tak nyaman diwawancarai terus.
“Masa perut udah gede gini masih ngidam si? Dulu saya ngidam pas hamil muda doang, lo,” cibir ibu yang lain.
"Eh Sayang, ayo pulang! Mas tunggu di luar, ya." Sepertinya Mas Ridwan mendengar percakapan kami, Alhamdulillah suamiku masih melindungiku dari fitnah tetangga.
"Ah iya, Mas. Aku segera menyusul." Aku langsung melipat sajadah. "Bu, duluan, ya! Suami saya sudah nungguin di luar. Mau jalan-jalan sama suami dulu. Biasalah kalau hamil saya suka manja banget sama suami" Sengaja kutekan setiap kata, untuk membungkam mulut pedas ibu-ibu. Aku khawatir besok tetangga akan semakin lihai bergosip.
Mereka hanya menatapku dengan tatapan tak suka. Seolah kecewa karena prasangkanya tidak sesuai dengan kenyataan. Pasti mereka dongkol karena kehilangan bahan gosip. Aku memilih abai dan pergi dengan Mas Ridwan.
***
"Aku mau tidul sama Ayah sama Bunda." Baru saja aku berniat menyuruh Mas Ridwan pulang, Jingga sudah datang memohon.
"Tuh dengar kan, Bun? Jingga mau bobo bareng kita. Masa kamu tega nyuruh, Mas pulang?" Dia tersenyum menang.
"Itu karena kamu selalu menghasut Jingga, Mas. Awas aja, ya!" Aku reflek mencubit lengan atasnya.
"Aww.. Sakit." Mas Ridwan meringis meminta bantuan Jingga. Pandai sekali dia mencari muka di depan anaknya.
"Bunda apain Ayah?" Jingga menatap Mas Ridwan lalu menatapku curiga. Lucu sekali ekspresinya.
"Bunda cubit Ayah, Jingga." Kulihat Mas Ridwan membisikkan sesuatu ke telinga Jingga.
"Mas geli... Ampun.. Udah. Udah Jingga, Bunda geli." Mereka berdua menggelitik ku. Tim yang tak seimbang.
"Bunda menyelah saja, ya!" Jingga mengancamku dan terus mengelitikku.
"Iya, Bunda menyerah. Bunda kalah." Mereka menghentikan perang tak seimbang ini.
"Ayo ayah kita ke kamal. Ayo bunda!" Jingga menuntun tanganku dan tangan Mas Ridwan.
Setelah mengambil posisi tidur, aku mendengarkan Mas Ridwan yang sedang mendongeng untuk Jingga. Kancil dan buaya selalu jadi senjatanya untuk menidurkan Jingga. Tak lama Jingga terlelap.
"Mas kapan pulang?" tanyaku pelan, agar Jingga tidak kembali bangun.
"Shuut! Nanti Jingga bangun." Dia menempelkan satu jarinya di mulut.
"Mas, jangan nyuri-nyuri kesempatan ,ya, kalau mau tidur di sini." Aku langsung memunggunginya.
Aku kaget dia sudah berbaring di depanku, lalu memelukku.
"Mas apa-apaan?" Aku menjewer mendorong tubuhnya, tapi tidak juga dia pergi. Tenaganya lebih besar dariku. Aku sudah mulai ketakutan dengan sikapnya.
"Jangan galak-galak, Dik. Sebentar saja, Mas rindu." Dia mengeratkan pelukan, berontak pun tenagaku malah habis sia-sia. Akhirnya tanpa sadar aku tertidur.