##Bab 7 + Hari ke-4
Hari Minggu adalah waktunya untuk liburan, tapi aku bingung mau kemana. Diam terus di atas kasur hanya membuatku jenuh dan sakit kepala.
"Assalamu'alaikum," terdengar suara perempuan mengetuk pintu. Seperti suara Limah. Aku memastikan dari balik gorden. Benar itu Limah. Ia berdiri di depan pintu dengan anggun. Menggenggam jemari Jingga anak kami.
"Waalaikumssalam warahmatullah, Bidadari!" Dengan cepat kilat aku membukakan pintu, dadaku merasa sumringah dengan kedatangannya.
"Mas sehat? Gak ada mahluk halus nemplok di tubuhmu, kan?" Dia mulai komat-kamit, untung saja aku disemburnya.
"Ish, apalah kamu ini, Dik. Dikiranya aku kesurupan apa."
"Lagian tiba-tiba bidadari-bidadari. Kirain kesambet,” sungutnya kesal.
"Jingga kan bidadariku." Aku mengacak rambut Jingga untuk menutupi rasa grogi.
"Oh," jawabnya ketus.
"Kamu juga," ucapku lirih nyaris tak terdengar.
"Apa, Mas?" tanyanya sambil mendekatkan kupingnya ke wajahku.
"Eh enggak. Ayo masuk! Jangan sungkan." Kubuka pintu lebar-lebar.
"Astaghfirullah, Mas!" Limah terlonjak kaget setelah kakinya menapak satu langkah di rumah.
"Kenapa? Kamu bisa ngeliat mahluk halus ya sekarang?" tanyaku wanti-wanti. Khawatir dia memang bisa merasakan hal ghoib di sekeliling kami.
"Ini rumah apa kapal pecah? Ish.. ish... Baru kutinggal 4 hari. Kamu ngapain aja si, Mas? Abis konser apa gimana? Ini air di lantai abis ngapain si, Mas? Kamu mandi di ruang tamu apa gimana? Ini juga sampah berserakan gini? Mau jadiin rumah sarang penyakit?” cecarnya habis-habisan. Seperti tak mau berhenti mengoceh sebelum kutempelkan jari telunjuk di bibir manisnya. Ia langsung mendelik dan menangkis tanganku dengan cepat.
"Oh, hehe ... udah aku beresin ko ini. Tapi aku gak tahu tehniknya." Aku menggaruk kepala yang tak gatal. Merasa malu sendiri karena kondisi rumah ketika ada istriku tidak sekacau ini.
"Ayah jolok!" Jingga menepuk jidat.
"Ayah gak jorok Jingga. Ayah cuma sedang mengekspresikan diri ayah," kilahku malu.
"Limah, ajari aku beresin rumah, ya!" Pintaku melas.
"Baiklah. Satu pekerjaan seratus ribu, ya." Jarinya sibuk menghitung.
"Tak masalah. Aku nyari uang kan buat kalian. Kalau kalian gak minta uang, lalu siapa yang bantu aku habisin uang nantinya?" ucapku jumawa.
"Haha, beruntung banget ya perempuan yang nanti jadi istrimu, Mas. Punya suami gak pelit, royal lagi." Limah menunduk.
Aku jadi merasa bersalah sekarang. Kenapa juga perempuan selalu nyari topik ke arah situ? Padahal kan tadi dia hanya minta bayaran. Perempuan memang suka senang membuat dirinya sendiri sedih.
"Eh ayo! Katanya mau bantu aku beresin rumah? Jingga main dulu ya di ruang Tivi. Ayah beliin Jingga mainan baru, loh." Aku segera mengeluarkan Lego yang sengaja kubeli kemarin untuk Jingga.
"Asyiik, aku suka Lego. Makasih, Ayah." Jingga mengambil lego di tanganku dengan cepat dan langsung membawanya ke ruang tivi.
"Sama-sama, Sayang." Dia loncat-loncat kegirangan. Ternyata melihat kebahagiaanya membuatku ikut bahagia. Sesimpel itu ternyata konsep bahagia.
"Oke pertama kita cuci baju dulu ya, Mas." Kami sudah siap mengeksekusi hancurnya rumah ini.
"Siap." Aku menyilangkan tangan di perut, tanda siap.
"Ini tabung mesin cucinya isi air dulu, Mas!" Perintahnya. Aku langsung mengisi air di tabung.
"Masukin baju kotornya!" titahnya sambil menunjuk-nunjuk.
"Siap, Nyonya." Aku memasukkan baju kotor ke dalam mesin cuci.
"Nih mas detergent nya!" Tak sengaja tanganku menyentuh tangan Limah, Kami saling memandang dan sama-sama terdiam.
"Maaf!" Aku langsung mengambil detergent dari tangannya.
"Ish jangan banyak-banyak, Mas!" Dia memukul tanganku dan langsung menakar sabun. "Kebanyakan sabun nanti jadi limbah buat sekitar. Kita harus mencintai lingkungan dengan meminimalisir limbah." Panjang lebar ia menjelaskan.
"Dah tutup tabungnya! Puterin! Atur waktunya. 6 menit aja." Dia memutar tombol dan aku memerhatikan Limah. Eh salah memerhatikan mesin cuci.
Setelah berkutat dengan cucian yang seperti simpel tapi cukup melelahkan, kami beranjak membersihkan piring.
Aku langsung menuangkan sabun ke piring, tiba-tiba tanganku ditepuknya.
"Ish bukan langsung ke piring, Mas. Nih ambil wadah dulu, kasih air terus sunlightnya masukin kesini, supaya hemat. Kebanyakan sunlight nanti piringnya bau sabun. Kamu mau makan bau sabun?" cercanya.
"Ngapain si hemat-hemat segala." Aku menggaruk kepala yang tak gatal. Teori lelaki dan perempuan memang berbeda.
"Namanya seorang istri dan ibu itu harus hemat, harus pandai ngatur keuangan," jawabnya galak.
"Iya...iya." Aku kapok mendebat dia. Perempuan selalu benar, dan ketika salah, kembali ke point pertama, ‘perempuan selalu benar.’
"Nah, sponsnya di masukkin wadah tadi terus kucek-kucek sampai berbusa, mulai cuci piring nya. Astaghfirullah, Mas. Kenapa sampah disatuin sama cucian piring? Nanti nyumbat gimana?" Dia langsung memisahkan sampah dan memasukkannya ke keresek.
"Dah buruan cuci!" titahnya kesal. Aku seperti sedang magang dan di training majikannya. Daripada salah lagi, aku langsung mencuci.
"Pelan-pelan, Mas. Nanti pecah. Lama loh aku nabung buat beli perabot dapur." Aih laki-laki memang selalu salah.
Entah berapa menit cucian ini baru selesai.
"Akhirnya selesai juga." Aku mengelap keringat di dahi. Punggungku terasa panas.
"Kerjaan kita belum selesai, Mas!" tegurnya sambi bersidakep.
"Nanti ya, aku mau selonjoran dulu." Aku beranjak meninggalkannya, dia menarik baju belakangku.
"Ayo buruan! Kalau kerja jangan setengah-setengah!" Huaa mandornya galak, untung cantik.
Aku sudah siap memegang sapu, dengan mata yang sayu, dan raut wajah yang berantakan.
"Yang bersih, Mas nyapunya! Itu pojok-pojok ruangan! Mas, itu pinggir nya juga! Mas, itu di belakang masih ketinggalan. Mas, kolongnya juga bersihin! Mas—“
"Cukupppp. Banyak banget perintahnya." Aku menggerutu.
"Ayo, Mas semangat!" ujarnya melunak. Heran, tenaganya gak habis-habis. Sepertinya dia pakai batrai alkalin.
Setelah tiga jam membersihkan rumah, akhirnya selesai juga.
Limah, tidak pernah menyerah menyemangatiku. Padahal aku suka meminta waktu istirahat terus menerus, dan sering mengeluh. Mungkin itulah gambaranku yang tak tahu diri. sudah ditemani dari nol, tapi memilih mencintai perempuan lain.
Cocok sekali dia jadi wasit dalam pertandingan sepak bola. Ia bisa bicara panjang lebar dalam waktu sepersekian detik. Apa isi kepalanya ada kamus, ya?
"Mas, mandi dulu gih! Habis ini kita beli baju bayi, ya!" Dia memegangi perutnya yang besar. Teduh parasnya membuatku luluh ketika menatapnya. Pastinya berat membawa bobot anakku di perutnya.
"Boleh aku pegang?" Aku menatapnya sungkan. Limah hanya mengangguk. Kurasakan pergerakan dari perut Limah, aku tersenyum dan tak kuasa air mataku menetes. 'Maafkan ayah, Nak. Apa ayahmu ini egois?' batinku bertanya-tanya.
***
"Jingga, ayo kita jalan-jalan!" Aku menuntun tangganya.
"Holeee. Aku jalan-jalan sama Ayah sama Bunda. Kemalen aku jalan-jalan sama Bunda aja. Gak selu." Jingga merenggut menggemaskan.
"Iya, sekarang sama Ayah sama Bunda, ya! Jingga nanti mau main apa?" tanyaku lembut sambil berjongkok di depannya.
"Mau main koin. Semuanya pengen dinaikin, mau mandi bola, mau es klim, mau semuanya Ayah."
Tangannya sibuk memeragakan perkataanya.
"Siap, Nona kecil, kita berangkat!"
"Holeee..." Jingga nampak bahagia sekali. Limah hanya memandangi kami tanpa berbicara apapun.
Hari ini kami menghabiskan waktu bersama. Membeli perlengkapan bayi, mengajak Jingga main, makan siang, beli ice cream, dan semua keinginan mereka aku turutkan.
Dompetku menipis, biarlah, yang penting mereka bahagia. Besok tak usah memanggil pembantu untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Akan aku bereskan sendiri.
"Makasih ya, Mas untuk hari ini. Kemarin Jingga manggil terus nama Mas. Bagaimanapun Mas ayahnya, dia membutuhkan kasih sayang ayahnya juga." Limah berusaha tersenyum.
"Pulanglah ke rumah, Dik!”
"Tidak, Mas. Aku masih ingin begini," jawabnya pelan.
"Tapi aku khawatir dengan kondisi kalian."
"Lihatlah! kami baik-baik saja bukan?" Ia tersenyum menutupi luka yang kuciptakan di hidupnya.
"Aku khawatir, Dik! Mas gak mau kalian kenapa-napa. Aku akan menjaga kalian sebisaku."
"Aku sedang belajar hidup tanpamu, Mas" Deg! Ucapannya tepat mengenai jantungku.
"Jangan membuatku semakin bersalah, Dik! Pulanglah!" Aku masih memohon, berharap ia menyerah dengan permainannya sendiri.
"Ayo pulang, Mas! Sudah sore." Dia tak menghiraukan ucapanku.
***
"Sayang, buka iqronya, ya!" Aku dan Jingga duduk berhadapan.
"Iya, Ayah." Tangan mungilnya membuka lembar demi lembar iqro.
Jingga sudah masuk iqra 5, siapa lagi yang rajin mengajarinya kalau bukan istriku.
Aku hanya mengetesnya setiap hari Sabtu dan Minggu. Namun dua hari ini memang _quality time_ bagi keluarga kami.
"Minal goydzi, mudz'iniina, fiihasmuhhu," Jingga mengeja iqra nya dengan lancar. Mulutnya terus mengeluarkan bacaan-bacaan yang ada di iqro, matanya mengerjap lucu.
"Pinter banget anak, Ayah." Ku usap kepalanya yang ditutupi jilbab.
"Ayah tau nggak? Jingga sudah hafal Ad-duha lho,” ujarnya bangga.
"Masa? Coba ayah ingin dengar, Sayang!"
"Bismillahilohmaan nilrohim.. wadduha, wallayli idzaa saja, maa wadda'aka Rabbuka wamaa qola..." Jingga membaca ad-duha dengan lancar, walau dia belum bisa menyebutkan huruf ro dengan sempurna.
Aku kagum. Kagum dengan Limah, dan dengan anakku.
Jingga selalu bersemangat untuk belajar. Walau umurnya masih 4 tahun.
Kecerdasannya diwarisi dari ibunya, dariku juga sedikit.
Limah, tak pernah bosan mengajari, Jingga mengaji, dia juga selalu mengisahkan cerita-cerita Nabi, mengajarkan doa-doa pendek, dan semua dasar agama yang harus diketahui anak-anak.
Entah mengapa rasanya, aku ingin waktu berhenti berputar. Untuk saat ini saja, sampai rinduku bermuara pada tempatnya.
"Shodaqallahul 'adziim." kami menutup bacaan Qur'an.
"Alhamdulillah, pinter banget anak Bunda." Limah duduk dekat dengan kami.
"Jingga sayang Ayah, jingga sayang Bunda." Jingga memeluk kami dengan dua tangan mungilnya. Ya Allah, rasanya hangat sekali. Aku ingin waktu berhenti berputar, untuk kali ini saja!
"Bunda juga sayang banget sama, Jingga." Limah mencium pucuk kepala Jingga.
"Sama Ayah enggak?" Aku menunggu jawabannya, Limah hanya diam.
Setelah acara pelukan, Halimah pamit pulang. Ingin sekali rasanya aku menahan kepergian mereka. Namun nyatanya tak ada kata yang bisa kuucapkan sama sekali.
…