##Bab 6 + Hari ketiga
Setelah pertemuan sore tadi aku jadi sulit tidur. Bayangan Limah menari-nari di kepala.
[Lagi apa?] Tak mau kehilangan kesempatan, segera kukirim pesan lewat wa ketika Limah terlihat sedang online.
[Baru selesai nidurin Jingga, Mas,] balasnya.
[Yah, padahal aku kangen sama Jingga.] Aku menyelipkan emot mata berkaca-kaca, berharap ia merespon rasa rinduku yang sebenarnya tidak semata untuk Jingga.
Dia hanya mengirim satu jempol yang diacungkan. Aish susah banget ternyata nyari topik pembicaraan.
[Kamu belum tidur?] Akhirnya ada yang bisa Kuketik juga.
[Belum,] Jawabnya singkat.
[Kenapa?] tanyaku terus. Aku tidak mau kehilangan moment Halimah online.
[Gak kenapa-napa.] Ish apa dia tidak kepo aku sedang apa, kenapa belum tidur, udah makan belum? Dan hal receh lain yang biasa ia tanyakan? Biasanya dia cerewet.
[Besok shubuh ke Masjid, yuk!] ajakku.
[Gak,] jawabnya singkat, padat, dan menyakitkan.
[Kok gitu, si? Gak boleh gitu lo, Mas kan ngajak berbuat baik,]
[Perempuan kan lebih baik di rumah shalatnya.] Alasan apalagi yang harus kulontarkan agar ia mau.
[Ini kan didampingi mahramnya, aku jagain juga kalau ada yang macem-macem.] Aku berharap dia mau.
[Dih. Gak, gak mau. Nanti Mas nyari kesempatan sama aku lagi.] Ketikan pesannya sudah mulai berubah. Ia sudah tidak menggunakan emoji lagi, bahkan bahasanya terkesan formal dan secukupnya.
[Ya kan aku beda lagi,] balasku yang sebenarnya kebingungan harus berkata apa lagi.
[Beda apanya?]
[Aku halal gangguin kamu dong.] Kuselipkan emot tertawa terbahak. Semenit, dua menit pesanku tak kunjung centang biru, padahal dia sedang online. Heum, sakit ternyata ya diabaikan.
[Dih ganjen.] Akhirnya dia membalas pesanku, tak menunggu lama aku segera mengetik balasan.
[Ganjen juga kan sama istri sendiri. Masa ia gak boleh?] Ponselku semakin erat dalam genggaman, aku merasa semakin asyik berbicara dengannya melalui pesan teks.
[Siapa lagi yang kamu ganjeni? Perempuan itu?]
[Aih, kan kamu bilang gak boleh hubungi dia. Yaudah gak aku hubungi lah, Dik] ungkapku jujur.
[Oh kirain curi-curi kesempatan karena aku gak di situ.]
[Gak. Meski bagaimanapun aku akan menepati janjiku,] balasku yakin.
[Termasuk janji menikahi gadis itu?] Aih dasar perempuan, senengnya nyari topik yang bikin ribut terus.
[Siapa yang janji?] tanyaku pura-pura tak tahu. Apa sebenarnya Limah mengetahui isi percakapanku dengan May tempo lalu?
[Mas lah. Siapa lagi? Masa ia Anto.] Loh ngapain dia bawa-bawa nama si Anto segala. Bisa besar kepala si Anto kalau tahu.
[Tadi Anto ngomongin kamu.] Aku langsung mengalihkan pembicaraan. Tidak enak rasanya bil terus-terusan dipojokkan.
[Ngomongin apa?] Jawabnya seperti antusias.
[Masa dia mau rebut kamu dari aku.] Kuselipkan emot marah, tanpa sadar aku seperti mencurahkan isi hati kepadanya.
[Enak aja. Emang aku mainan rebut-rebut]
[Kamu bukan mainan, Kamu istriku,] balasku cepat, sembari meneguk segelas air mineral.
[Istri yang sebentar lagi mau dicerai?] tanyanya diselingi emoji tertawa terbahak.
[Sudahlah, Dik. Jangan ngomongin ini!] Entah kenapa aku malas membahas perceraian.
[Mas,] sapanya.
[Apa?] jawabku. Kupikir tidak akan adalagi percakapan.
[Tadi ada Ustadz masih muda tapi udah duda. Dia mikir aku janda hehe.]
[Terus dia ngapain kamu?] Dadaku memanas membaca ketikannya.
[Gak ngapa-ngapain, enak aja. Emang aku perempuan apaan,] jawabnya seperti tak terima.
[Eh maksudnya tadi dia ngomong apa aja ke kamu?] ralatku. Aku tahu ia perempuan baik yang tak boleh dituduh seenaknya.
[Ya dia ngiranya aku udah gak punya suami. Terus nanya-nanya tipe suami idaman aku kayak gimana. Hehe] Ish, masih sempat-sempatnya dia menulis "hehe."
[Dasar Ustadz ganjen!] tukasku cepat.
[Dih kok ganjen? Ya enggak lah.] loh kenapa dia malah belain laki-laki lain?
[Ya ganjen, lah! Ngapain coba nanya-nanya gitu ke perempuan yang bersuami?] balasku tidak terima.
[Mas juga ganjen dong? Kan Mas lelaki bersuami yang mengharapkan perempuan lain selain istrinya,] jawabnya. Deg, di satu sisi aku merasa berbeda dengan lelaki ganjen yang lain, di sisi lain, malah kelakuanku sepertinya lebih parah dari ustadz ganjen itu.
[Yaudah besok kamu pulang ke rumah! Kamu tinggal di situ nanti ada yang ngira gak punya suami lagi. Aku gak mau kamu digangguin laki-laki gak bener.] Aku berusaha mengalihkan pembicaraan.
[Ya gak apa si. Cadangan kalau kamu cerain aku wkwk] Ya ampun, apa ini. Kenapa dia seperti siap pisah gini.
[GAK BOLEH. GAK BOLEH ADA YANG GANGGUIN KAMU TITIK. KAMU MASIH ISTRI AKU.] Dengan kesal Kuketik semua balasan menggunakan huruf kapital. Namun sayangnya, Limah sudah off.
Entah kenapa aku takut Limah diganggu laki-laki lagi. Limahkan cantik. Gimana kalau ada yang dekati dia lagi? Duh Limah... Ngapain si kamu pake pindah rumah segala? Berabe kan kalau para laki-laki jomblo ngira kamu gak punya suami.
Pokoknya aku harus menjaga Limah dengan ketat!
Aku berusaha memejamkan mata, namun entah kenapa bayangan ustadz yang diceritakan, Limah seperti mengolok-olokku.
***
"Allahu Akbar... Allahu Akbar...." Suara adzan shubuh berkumandang, aku yang tak bisa tidurpun segera mandi dan wudhu. Kusisir rambut di depan cermin, ganteng juga rupanya aku. Semua udah rapih, wangi, tinggal menuju rumah, Limah.
"Assalamu'alaikum, Dik! Mas udah di luar." kuketuk pintu rumahnya.
"Dik ..." Lagi Kuketuk pintu. Udara di luar benar-benar segar, belum terkontaminasi polusi.
"Waalaikumssalam, tunggu!" Seseorang setengah berlari menuju pintu.
"Eh, Mas! Ngapain shubuh-shubuh kesini?" Limah celingukan.
"Kan aku udah bilang semalem, kita berangkat ke Masjid bareng." Kulihat, Limah memakai mukena putihnya, wajahnya semakin bersinar saja.
"Oh baik, Mas. Aku panggil, Jingga dulu, ya!" Ia berlalu ke dalam tanpa menyuruhku masuk.
Jingga keluar lengkap dengan mukena stroberi yang melekat di tubuh kecilnya. Kami menuju Masjid bersama.
"Jingga sini tangannya Ayah tuntun." Aku langsung menggenggam tangan Jingga.
"Oke, Om." Lah? Ko masih Om? Tidakkkk aku kan ayahnya. Pinter banget Limah ngajari Jingga ikutan bersandiwara gini.
"Panggil Ayah dong, Sayang!" ujarku melas.
"Tapi kata Bunda, kalau kita gak selumah lagi aku halus manggil Om. Nanti kalau tinggal selumah lagi balu aku panggil Ayah," jawabnya polos. Aku melototi Limah, dia hanya ketawa cekikikan.
Kami langsung ikut shalat shubuh berjamaah. Halimah dan Jingga di shaf perempuan.
"Assalamu'alaikum Mbak Limah" Seorang laki-laki menghampiri Limah. Gawat, jangan-jangan ini ustadz yang diceritakan, Limah.?
"Ekhm ..." Buru-buru kuhampiri mereka yang seperti asyik bercengkrama.
"Eh, Mas." Limah tersenyum ke arahku.
"Siapa, Mbak?" tanyanya menunggu kepastian. Ia melirikku dari atas ke bawah, seperti merasakan ada ancaman saingan baru, padahal ialah yang menjadi ancaman untukku.
"Saya Ridwan suaminya Halimah." Segera kujabat tangannya, lalu tersenyum puas penuh kemenangan.
"Oh, Mbak Halimah masih punya suami ternyata. Saya kira suaminya sudah meninggal." Dia memandangku sinis.
"Enak aja meninggal ... meninggal ..." Belum selesai aku bicara, tanganku ditarik Limah.
"Ustadz, Afwan kami pulang dulu ya, Assalamu'alaikum,” tuturnya sopan, lalu berlalu meninggalkannya.
"Waalaikumssalam warahmatullah." Ustadz ganjen itu memandang pilu kepergian kami.
Kami melanjutkan perjalanan menuju rumah, tepatnya rumah baru Limah dan putriku. Sepanjang jalan Jingga asyik bercerita dengan istriku. Aku seperti obat nyamuk yang keberadaannya seolah mengganggu.
"Makasih ya, Mas udah jagain aku tadi. Aku masuk dulu, ya." Baru saja aku mau ikut masuk ke rumahnya, tanpa basa-basi dia menutup pintu. Hidungku tertampar pintu cukup keras. Sial, sepagi ini aku sudah apes.
***
"Hay," sapaku sambil menenteng mangkuk kosong.
"Apaan si gangguin mulu?" ketusnya.
"Temen kamu yang paling ganteng ini, mau minta makan. Di rumah gak ada makanan, laper." Aku memperlihatkan mangkuk kosong yang kubawa dari rumah, berharap ia memberi beberapa teman nasi, atau menyuruhku makan bersama di meja makannya.
"Aku pernah denger hadits loh, Mas. Intinya 'Janganlah kamu jadi tukang minta-minta! Kelak kamu akan dibangkitkan tanpa kulit.' Ih serem banget kan." Dia bergidik, dan ... Tunggu. Dia menyamakan aku seperti pengemis.
"Itukan buat pengemis, Dik, aku beda lagi," ketusku.
"Maaf dulu ya, Pak. Gak nerima yang minta-minta pagi hari gini." Dia menangkupkan tangan di d**a.
"Dahlah aku mau beli bubur aja. Kamu mau ikut, gak?"
"Nggak. Aku udah masak tadi,” tolaknya. Oke baik, aku ditolak mentah-mentah olehnya.
Katanya teman, tapi dia sangat menutup diri begitu.
***
Sampah grab food berserakan di meja, piring-piring kotor bertebaran dimana-mana. Sepertinya aku harus sewa pembantu selama 40 hari ke depan.
Mau tak mau ku kerjakan cucian piring. 'prang prang' yang penting bersih. Tak kupedulikan piring yang retak karena beradu dengan sesamanya. Cukup melelahkan juga ternyata mencuci piring.
Kulihat rumah dalam kondisi kacau, padahal hanya aku sendiri yang ada di rumah ini. Arghh banyak sekali tugas rumah.
Tumpahan air dimana-mana, apa sebenarnya yang aku lakukan sampai berantakan begini. Ku ambil lap pel, dan ketika kakiku belum sempurna menjejak di lantai, aku menginjak kulit pisang, tubuhku melayang ke belakang dalam waktu sepersekian detik, dan ya, bokongku mendarat di lantai cukup keras, kepalaku terbentur tembok. Huaaa sakit banget rasanya.
"Siapa yang makan pisang? Seenaknya aja buang kulitnya di lantai." Aku meraung, pant*t ku sakit.
"Limah... Pulang!" Aku hanya bisa meratap.