Hari ke-3

915 Kata
"Dik, aku ingin kita berpisah." Kuhentikan aktivitas mengelap meja. "Kenapa, Mas? Apa aku sudah membuat kesalahan yang fatal?" Kembali ku ingat aktivitas sehari-hari, barangkali ada kesalahan yang tak sengaja kulakukan, sehingga membuat suamiku kecewa. "Kau adalah perempuan yang sangat baik dan sempurna." Aku terhenyak mendengar penjelasannya. "Jika aku baik kenapa kau ingin berpisah denganku?" Kugebrak meja dengan emosi. Kau boleh bercanda apa saja, Mas. Tapi bukan perihal ini. "Karena aku tak pernah mencintaimu," jawabnya tanpa merasa salah. Cih, entah siapa yang ingin ku tertawakan sekarang. Tak cinta? Lalu selama ini apa? Perlakuan lembutnya terhadapku, tanggung jawabnya membimbing kami di jalan Allah, semangatnya untuk menafkahi kami, semua tentangnya yang aku fikir disembahkan atas nama cinta. Namun dia bilang tak cinta? Susah payah kutahan air mata, namun akhirnya jatuh juga. Gegas kuusap kasar, lalu berlalu meninggalkannya. Bagaimanapun juga aku adalah perempuan. Hatiku rapuh mendengar pengakuannya, pertahananku runtuh, dan hatiku terkoyak. Kenapa Mas? Kenapa baru bilang sekarang? Kenapa harus menunggu lima tahun baru kau bilang tak cinta? Kenapa tidak sedari dulu saat kita awal bertemu? Mungkin perasaanku terhadapmu tak akan sedalam ini. "Limah ...." Dia menyentuh bahuku lembut. Untuk kali ini saja, aku berharap ia tidak mendekatiku dulu sampai aku tenang. Setidaknya sampai ucapan konyolnya bisa kuterima dengan baik. "Apa ada perempuan lain yang sudah membuatmu jatuh cinta, Mas?" tanyaku menunggu jawaban. Ingin sekali kututup runguku sebab takut jawabannya adalah, ya. "Ya." Yang kutakutkan akhirnya terjadi juga. Sungguh satu kata yang diucapkannya bagai ribuan belati yang menusuk jantungku, lalu tepat menancap di ulu hatiku, sakit sekali. "Lalu apa rencanamu jika kita bercerai?" tanyaku masih dengan penuh emosi. Kesadaranku seolah tinggal setengah menghadapi kenyataan menyakitkan ini. Tawa dan air mata datang bersamaan. Rabb, kuatkan hamba-Mu! "Aku akan menikahinya. Namun aku akan tetap menafkahimu dan juga anak-anak kita,” ucapnya pongah, seolah dia adalah seorang pahlawan yang sudah menyelamatkan dua orang wanita sekaligus. Ingin sekali kutumpahkan rasa sesak yang sedari tadi kutahan, tapi sepertinya pedihku hanya terekspresikan oleh air mata. "Tidurlah, Mas! Sudah malam. Esok kita pikirkan lagi." Aku merasa tungkaiku lemas, tenagaku hilang begitu saja. Mungkin berbicara ketika kondisi marah tidak akan merubah apapun, kecuali penyesalan ketika emosi mulai mereda. Tak lama terdengar dengkurannya halus, semudah itu ternyata laki-laki tidur. Apa ia tidak merasa bersalah dengan apa yang sudah diucapkannya? Ku usap perutku yang membesar, sudah memasuki 8 bulan. Dokter bilang hpl ku kisaran 40 hari lagi. ‘Kasian kamu, Nak. Belum juga lahir, ayahmu sudah ingin menikahi perempuan lain.’ Kembali ku ingat masa laluku. Ketika ibu pergi dengan selingkuhannya, ayah tetap bertahan merawatku seorang diri. Merangkap peran sebagai ibu sekaligus tempatku berlindung ketika kehidupan seolah memperlakukanku tak adil. Aku fikir, setelah dewasa akan kutemukan kebahagiaan yang dulu sirna, nyatanya sama saja. Apa mungkin kehidupan baik memang tidak berpihak kepadaku? Ah tidak! Allah sedang mengujiku agar semakin dekat dengan-Nya. Sedikitpun mataku tak bisa terpejam. Di sepertiga malam ku ambil wudu, lalu shalat tahajud. Kutemukan kehangatan setiap kali bersujud. Kening dan sajadah bertemu, menyiratkan posisi terdekat dengan Rabbnya. Usai shalat, ku tengadahkan kedua tanganku ke atas, "Rabb, bukan aku kufur terhadap nikmat-Mu, bukan pula aku benci dengan ujian yang datang dari-Mu. Aku hanya meminta kuatkanlah aku ketika bertubi-tubi ujian datang kepadaku. Ya Rabb, beri hamba petunjuk bagaimana baiknya hamba kedepannya. Jika perpisahan memang jalan terbaik, kuatkanlah kaki hamba untuk terus menapaki kaki di bumi dan terus mensyukuri nikmat-Mu yang tak pernah putus. Hamba tak ingin berprasangka buruk kepada-Mu. Hamba yakin, Engkau lebih tau yang terbaik bagi hamba. Maka lapangkanlah d**a hamba untuk menerima semua keputusan yang akan terjadi. Rabb, jika boleh meminta, hamba ingin anak-anak hamba tidak mengalami apa yang hamba alami di masa lalu. Izinkan mereka bahagia dengan kekuasaan-Mu ya Allah. Ya muqolibal quluub, Tsabit qalby 'alaa diinik." *** "Makan, Mas!" Aku sibuk menata masakanku di meja. Sambal goreng kentang plus hati, juga kerupuk udang kesukaan Mas Ridwan. Aku juga memasak sayur Sop yang dibubuhi baso kecil-kecil kesukaan Jingga anak pertama kami. "Makan yang banyak ya, Sayang." Jingga bersorak melihatku memasukan makanan kesukaannya ke piring motif nanas miliknya. Piring Jingga sengaja aku bedakan, supaya dia semangat makan karena melihat bentuk piring yang lucu. "Hum, enak sekali ini." Mas Ridwan menyuap makanan di piringnya dengan lahap. "Aku akan memasak makanan yang enak-enak untukmu, Mas. Anggap saja terakhiran aku menjadi istrimu,” jawabku sembari tersenyum. "Uhuk … uhuk." Ia tersedak seolah kaget dengan ucapanku. Padahal mungkin hatinya bersorak bahagia. "Jingga sayang, makannya di ruang Tivi dulu, ya! Kan ada film kartun kesukaan Jingga." Tak mungkin aku membicarakan perpisahan di depan anakku. Cukup aku saja yang terluka karena keegoisan ayahnya, Jingga jangan! Dengan pandainya dia mengekor di belakangku, lalu asyik menghabiskan makanannya di sana. "Bagaimana keputusanmu, Limah?" Tanya Mas Ridwan dengan mata berbinar. Sepertinya semangat sekali ia ingin berpisah denganku. "Aku setuju kita berpisah, namun dengan syarat." Lagi, kulihat binar di matanya yang membunuh batinku secara tak langsung. "Apapun syaratnya akan kupenuhi." Ah, begitu tak pantaskah aku bersanding denganmu, Mas? Sepertinya kau sudah tak sabar hidup tanpaku. "Beri aku waktu selama 40 hari, Mas. Setidaknya sampai anak kita terlahir ke dunia. Aku ingin dia terlahir memiliki seorang ayah,” ucapku setelah merenung semalaman. “Dan juga, jangan hubungi perempuan itu selama 40 hari! Anggap saja sebagai bentuk kesetiaan terakhirmu kepadaku. Setelah itu, kita akan bercerai, dan kau boleh menikahinya," imbuhku. "Syarat yang mudah. Aku menyetujuinya. Aku enggak akan hubungi dan bertemu dia selama 40 hari ke depan." Deg, kata-katanya benar-benar membuatku mati tanpa harus kehilangan denyut nadi. "Terima kasih, Mas." 'Terima kasih sudah membuatku cemburu dan tercabik dalam waktu yang bersamaan' batinku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN