2. Kecelakaan

1069 Kata
"Ben, bisa agak cepet nggak! Udah jam sembilan lebih nih." Khal mulai gelisah. Baru saja kemarin ia berjanji pada Papanya untuk pulang lebih awal, masak hari ini sudah ia langgar saja. Ayah tidak ingin ia pulang lebih dari jam sepuluh malam. Tapi malam ini, memang sedang tidak biasa. Tim Khalyana memang sedang ada gangguan teknis, mereka tidak bisa mengambil gambar tepat waktu, padahal klien yang menyewa mereka sudah siap, Khal sendiri juga sudah siap. Hingga akhirnya yang terjadi adalah pengambilan gambar selesai mundur hingga dua jam. Khal kesal sekali, tapi dia juga tidak bisa melakukan apa-apa. Apalagi hari ini dia tidak membawa mobil. Ia tinggalkan mobil di rumah salah seorang teman. Khal pikir, mereka nanti akan punya banyak waktu, jadi ia menerima tawaran Sano untuk mengantarkannya. Dia pergi ke tempat pemotretan dengan motor Sano. Khal suka naik motor, tapi kalau papanya tahu tentang ini, beliau pasti marah besar. Sano sudah datang menjemputnya dari sebelum pukul delapan malam. Tapi apa daya, pemotretan belum selesai. Khal semakin kesal dan gamang ketika handphone papanya juga tidak bisa dihubungi. Paling tidak, ia bisa meminta izin untuk pulang terlambat atau mengirim kabar jika ia sedang mengalami kendala teknis. Tepat pukul sepuluh lebih seperempat malam, pemotretan rampung. Seluruh tim sebenarnya sedang membicarakan hasil, tapi Khal tidak peduli, ia ingin segera sampai rumah agar tidak membuat papanya kecewa. "San, kita bisa ngebut, kan?" Kata Khal kepada Sano yang sudah siap di atas motor. "Tapi aku nggak berani ngebut kalau bawa kamu." Jawab Sano tenang. "Pliss, jangan gombal-gombal dulu, aku lagi panik, nih. Aku udah janji pulang tepat waktu, Papa pasti udah nungguin, jangan sampai aku sampai rumah pukul sebelas nih." Khal lalu naik ke atas motor, ia memegang pinggang Sano berpegangan. "Pegangannya yang kenceng kalau mau ngebut. Nanti kamu jatuh kalau pegangannya kayak gitu." Khalyana pun semakin merapat dan memeluk Sano dari belakang sangat erat. Mereka pun segera melaju membelah malam, melewati jalan yang sedikit lebih sepi karena sudah cukup larut malam. Dalam perjalanan menggunakan motor, pada malam hari, dengan kecepatan tinggi, sambil mengobrol mesra karena berpacaran, rupanya membuat konsentrasi Sano pecah. Tepat di sebuah tikungan, Sano kehilangan kendali, ia yang seharusnya mengerem justru tetap melaju dengan kencang. Dia tidak sadar dari arah berlawanan terdapat sebuah motor yang juga melaju dengan kecepatan kencang. Malang tak dapat ditolak, kecelakaan tidak dapat dihindari. Sano dan Khalyana terjatuh dan terseret bersama motor. Beruntungnya, mereka segera ditolong warga setempat untuk dilarikan ke rumah sakit. *** Di bagian yang lain, di rumah mereka, Bapak Khalid Baryani sedang gusar. Ia memang tidak pernah ridha anaknya melakoni pekerjaan itu. Tidak terhormat menurutnya. Tapi ia masih memberi izin putrinya berangkat hari ini karena gadis itu memohon demi kebahagiaannya. Dia sudaj berjanji akan pulang sebelum pukul sepuluh. Tapi kini, hingga pukul setengah dua belas. Ia belum juga terlihat pulang. Ningrum, salah satu asisten rumah tangga di rumah mereka berkali-kali mengingatkan agar dia tidur saja, biar Ningrum yang menunggu Khal pulang. Tapi Pak Khalid tidak mau, mana bisa ia tidur dengan nyenyak sedang putrinya masih berada di luar sana malam-malam begini. Tepat pukul dua belas, telepon rumah berbunyi keras sekali. Membangun hampir semua orang di rumah itu. Pak Khalid yang masih terjaga segera mengangkatnya, itu pasti Khalyana, batinnya. "Dengan Bapak Khalid Baryani?" Tanya seseorang di seberang telepon. Mendengar suara itu, jantung Pak Khalid berdegup kencang, mengapa ada orang asing menelponnya di tengah malam begini, perasaannya langsung tidak enak. "Iya, saya sendiri." Katanya terbata-bata. "Saya admin dari rumah sakit griya sehat sentausa, saya menemukan nomor ini dari katru identitas dalam tas pasien UGD atas nama Khalyana Baryani. Apakah dia putri Bapak? Dia belum sadarkan diri hingga saat ini. DEG. Jlussss. Seperti ada sesuatu yang menghujam di d**a Khalid. Bayangannya mulai macam-macam, ia merasa sangat takut kehilangan putri semata wayangnya. Ia hampir linglung roboh, untung Yani dan Ningrum, asisten rumah tangga mereka, segera sigap menangkapnya. Ia sudah tidak bisa mendengar lagi perkataan penelpon itu. Badannya lemas, para asisten memapah dan mendudukkannya di sofa. Ia hanya bisa menyebut nama Khalyana, putrinya. "Bangunkan Khomar, minta ia mengantarkan aku ke rumah sakit sekarang!" Dengan suara yang lemah, Pak Khalid menyuruh asisten membangunkan sopir. Salah seorang asisten segera berlarian ke belakang, ke kamar Khomar. "Mbak Khalyana kenapa, Pak?" Tanya Ningrum khawatir, Khalid hanya menggeleng, ia tidak bisa bercerita. Malam itu juga, Pak Khalid dan Ningrum diantar Khomar berangkat ke rumah sakit. Rumah sakit yang mereka tuju lumayan jauh, sepanjang jalan itulah Pak Khalid menangis. Ia menyesali kelalaiannya dalam menjaga Khalyana. Ia berdoa sungguh-sungguh pada Allah agar menyelamatkan putrinya. Ia berjanji akan menjaga putrinya dengan sangat hati-hati setelah ini. Sesampainya di rumah sakit, kaki Pak Khalid bergetar hebat, ia takut jika di dalam nanti menemukan kenyataan bahwa Khalyana sudah meninggal. Ia belum siap kehilangan putrinya, ia gemetaran hingga Khomar yang menuntunnya ikut bergetar. Air mata Pak Khalid terus menetes sepanjang jalan menuju Unit Gawat Darurat. "Saya orangtua atas pasien bernama Khalyana." Suara Pak Khalid bergetar. Petugas UGD segera menoleh ke ruangan dalam, tempat ranjang para pasien UGD berada. "Papah." Khalyana ternyata sudah sadar, dalam hening malam, suaranya yang sangat pelan pun terdengar jelas. Pak Khalid segera berlarian menuju ranjangnya. Ia memeluk erat putrinya yang terbaring tak berdaya. Kaki dan tangannya diperban, kepalanya juga. Khalid menangis melihat itu. Dan melihat papanya menangis, Khalyana pun ikut menangis. Tengah malam itu, di ruang gawat darurat rumah sakit griya sehat sentausa mereka tangis-tangisan. "Bagaimana, sus, apakah putri saya baik-baik saja?" Setelah cukup lama menangis, Pak Khalid bangkit dan mencari perawat penjaga. "Alhamdulillah, Pak. Hanya luka ringan, meskipun tetap membutuhkan perawatan yang intensif agar tidak terjadi infeksi. Kata dokter, kemungkinan lusa sudah boleh pulang. Kalau pasien yang satu, lumayan parah, perlu dilakukan operasi kecil di bagian kaki karena perobekan cukup parah." Perawat itu menjelaskan, Pak Khalid menghela nafas lega tapi sejenak kemudian terkejut dengan kalimat "pasien yang satu." "Yang satu?" Khalid terkejut, "siapa yang satunya?" Ia menatap Khalyana. Putrinya itu hanya bisa menggigit bibir dan menunduk dalam-dalam. "Dia adalah Sano, Pa. Kami tadi pulang dengan naik motor Sano." Belum sampai Khal menyelesaikan kalimatnya, Pak Khalid langsung memotong karena terkejut. "APAA??" Suara Pak Khalid bahkan setengah berteriak, penjaga UGD sampai memberi kode agar tenang. "Maafkan Khal, Papa." Khal menangis memohon maaf, Pak Khalid masih menatapnya tak percaya. Pak Khalid terkejut bukan main. Sedari kecil, Khalyana hampir tidak pernah naik motor. Pak Khalid khawatir putri kesayangannya masuk angin. Dan sekarang, putrinya naik motor malam-malam bersama laki-laki, dan mengalami kecelakaan. Nafas Pak Khalid berderu memburu, beliau sungguh masih sulit menerima kenyataan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN