3. Ide Perjodohan

1076 Kata
Hari ini Khalyana sudah boleh pulang. Genap tiga hari dia menginap di rumah sakit. Beberapa luka sudah mulai mengering, perban di kepala juga sudah dilepas. Badan Khal masih sakit-sakit, tapi kata dokter itu bukan masalah, besok-besok ia akan pulih dengan cepat. Hasil CT scan, juga tidak ada masalah. Tapi hati Khalyana masih galau, papanya masih banyak mendiamkannya. Ia sudah berulang kali minta maaf, Pak Khalid juga sudah bilang memaafkan. Tapi perlakuan Pak Khalid pada Khal belum kembali seperti semula. Beliau masih banyak diam, tidak bicara jika tidak penting, dan lebih menyakitkan lagi, papanya itu terlihat ber-raut muka sedih. "Papa, Maafkan Khal." Khal memegang tangan Papanya, wajahnya ia tampakkan dengan mimik muka memelas memohon belas kasihan. Pak Khalid, berbalik badan menghadap putrinya. "Papa sudah maafkan Khal, tapi papa belum bisa maafkan diri papa sendiri." Jawaban Pak Khalid justru membuat Khalyana semakin terpojok, ia diam tak meneruskan percakapan itu. Kini mereka sudah perjalanan, di mobil pun masih saling diam. Ohya, tentang Sano, rupanya keluarga Sano memindahkan Sano ke klinik pemerintah yang lebih terjangkau. Di rumah sakit griya sehat sentausa biayanya sangat mahal. Mengetahui itu, sebenarnya Khal sedih. Dia merasa bersalah, kecelakaan itu karena Khal memintanya mengebut, apalagi kecelakaan itu terjadi saat Sano menjemputnya. Khal meminta nomer rekening melalui pesan SMS pada Sano, ia ingin membantu biaya rumah sakit. Tapi ditolak oleh Sano, justru laki-laki itu merasa tersinggung. *** Sudah sepekan sejak kecelakaan itu, Khalyana belum diperbolehkan beraktivitas di luar rumah, yang melarang buka dokternya, tapi papanya. Pak Khalid memang se-protektif itu. Jadilah berbagai jadwal pemotretan, pengambilan video untuk konten dan paid promote sengaja ia tunda, atau bahkan dibatalkan. Aktivitas Khal sebatas makan, minum, menonton film, olahraga kecil-kecilan bikin konten i********: dan t****k yang ia bisa lakukan sendiri di rumah atau dibantu asisten rumahnya. Pagi ini, ia sudah cukup bosan. Badannya yang sudah sembilan puluh persen pulih mengajaknya ingin segera kembali ke kampus. Ia ingin bertemu Sano, ia khawatir akan kondisi kekasihnya itu. Apalagi luka Sano lebih serius, ia takut itu sangat berdampak pada akt aktivitas Sano di kampus. "Papa, siang ini Khal boleh ke kampus? Khal rindu teman-teman, Papa. Khal ingin belajar di kelas, Khal bosan di rumah. Pliss Papa!" Khal merayu papana melalui telepon. Pada saat itu, Pak Khalid memang sudah di kantornya, beliau sudah berangkat sebelum Khal bangun. Sebenarnya bisa saja Khal langsung pergi tanpa izin dari papanya, ia bisa saja menyuap para asisten rumah tangga agar mereka diam tidak lapor Pak Khalid. Tapi Khal memang bandel, tapi tidak pernah membantah papa kesayangannya itu. Ia selalu berbakti, ia tidak mau mengecewakan dan membuat papanya sakit hati. "Baiklah, tapi tunggu Pak Khomar akan datang mengantar jemput kamu. Kamu boleh menyetir sendiri." Khal melompat lompat saking senangnya mendengar itu, meskipun ia harus menunggu lebih lama, tidak masalah, asal ia bisa keluar rumah. "Dan," tambah Pak Khalid, "pulang harus dengan Pak Khomar juga, sebelum magrib sudah sampai rumah." Lanjutnya. "Siap! Papa! Terimakasih! I love you!" Khalyana berseru-seru riang sekali, wajar saja, sepekan ini ia tidak keluar rumah sama sekali, ia nyaris gila merindukan udara luar, jajanan kantin, teman-teman kampus, dan tentunya Sano. Pak Khalid hanya bisa menggeleng-geleng mendengar putrinya berseru-seru. Dalam hati, laki-laki paruh baya itu masih berpikir, bagaimana cara terbaik menjaga Khal yang dunianya semakin berubah. Kampus itu telah merubah putrinya. Sejak kecil sampai SMA, Khal adalah anak rumahan, aktivitasnya selain sekolah adalah les piano dan les berenang. Dia gadis yang pintar, ceria dan kooperatif. Tapi sekarang, dia memakai baju-baju pendek, senang berjoget di depan kamera, dan yang paling dibenci Pak Khalid adalah bergaul terlalu dekat dengan laki-laki. Satu bulan lagi ekspansi bisnis ke Singapura harus segera dimulai, segala dokumen sudah siap, kontrak kerja sudah tertanda tangani. Awalnya, Ia hanya butuh menunggu waktu yang tepat untuk mengatakan ini pada Khal. Tapi setelah peristiwa kecelakaan malam itu, ia tidak lagi tega meninggalkan Khal sendiri di Indonesia. Ya, Khal harus ikut. Atau….atau...harus ada orang yang ia percaya untuk menjaga putrinya, tapi siapa? Pak Khalid sangat dilema, ia bingung harus bagaimana. Ia butuh waktu kurang lebih enam bulan sampai satu tahun tinggal di Singapura. Kalau pun bisa kembali ke Indonesia, pasti dalam waktu sebentar, tidak sampai satu pekan. Bisnis yang ia rintis di sana butuh pantauans khusus dan intensif. Pada siang itu, saat pikirannya sedang kacau, Allah menggerakkan tangan Pak Khalid untuk membuka handphone, lalu bermain f*******:. Ya, laki-laki paruh baya itu jarang sekali membuka media sosial, ia tidak suka. Tapi siang itu, tiba-tiba ia ingin saja membukanya. Scrolling status beberapa rekan bisnis yang muncul di beranda, mengomentari beberapa unggahan, memberi like pada foto yang ia rasa bagus. Dan kemudian, jarinya menemukan sebuah gambar, seorang pemuda sedang memberi surprise ibunya. Ia membelikan mobil kepada ibunya di hari ulang tahun. Gambar itu sebenarnya bukan unggahan pemuda itu, itu unggahan salah seroang rekannya yang juga rekan pemuda itu, pemilik akun menulis caption "Selamat ulang tahun Tante Yulia, semoga panjang umur, selamat juga untuk hadiah mobil dari putra kesayangan @HaydarKamil." Ya, pemuda itu bernama Haydar Kamil. Pak Khalid tahu betul pemuda itu, ia pemilik restauran Dapur Pantura, yang memiliki cabang di berbagai kota. Selain restoran, ia juga memiliki gerai oleh-oleh khas pantura yang selalu bersanding dengan restorannya. Pak Khalid mengenalnya karena mereka sempat beberapa kali terlibat proyek kerja sama. Pak Khalid mendapat tawaran untuk memasukkan Dapur Pantura menjadi salah satu destinasi dari perusahaan travel yang ia miliki. Sampai sekarang, proyek kerjasama itu beberapa masih berjalan. Entah kenapa, melihat video Haydar memberi hadiah ulang tahun pada ibunya dan sang ibu menangis bangga, membuat Pak Khalid ikut terharu. Zaman sekarang, masih ada anak muda yang tinggi sekali baktinya kepada orangtua. Besar sekali kasih sayangnya pada ibunya. Setelah itu, Pak Khalid menjadi penasaran untuk menyelidiki lebih lanjut seperti apa Haydar itu dari media sosialnya. Setelah stalking, Pak Khalid menemukan bahwa yang di-posting Haydar pada media sosialnya hanyalah promo-promo restoran, bahkan ia tidak memposting tentang acara surprise ulang tahun berhadiah mobil tadi. Hal ini justru membuat Pak Khalid semakin penasaran, anak itu rendah hati, batinnya. Ia merenung sebentar, sepertinya pemuda ini cocok untuk menjaga Khalyana. Tapi mereka tidak saling kenal, kalau pun saling kenal, mana mau Khalyana dititipkan pada orang lain. Huftt pikiran Pak Khalid sudah mulai melanglang buana ke mana-mana. Aha! Bagaimana kalau mereka menikah saja? Masalah beres, kan? Batin pak Khalid. Ia seperti menemukan ide paling cemerlang, segera ia perintahkan seseorang untuk menghubungi pemilik restoran Dapur Pantura itu untuk datang ke kantornya, dengan modus kerjasama kerja. Perihal nanti jadi menjodohkan dengan putrinya atau tidak, itu urusan nanti, yang penting bertemu dulu. Kita nilai dulu, batinnya bersemangat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN