Bab 8. Mata-mata

1099 Kata
Lila terdiam, kembali membuka kedua mata, terkejut dengan pertanyaan ibunya. Bagaimana jika sang ibu tau bahwa uang tabungan yang akan ia gunakan untuk berkuliah telah dibawa kabur oleh temannya sendiri? "Mampus aku. Kalau Ibu sampai tau, gimana? Ibu pasti bakalan kecewa dan marah banget sama aku. Uang itukan hasil kerja keras kita berdua selama ini," batinnya, ketar ketir. "Sayang, kenapa kamu diem aja? Kenapa kamu gak daftar kuliah sekarang aja? Bisa sambil kerja, 'kan?" tanya Ratih, seraya mengusap kepala putrinya dengan lembut dan penuh kasih sayang. Lila masih bergeming, kedua matanya kembali terpejam pura-pura terlelap dan tidak mendengar ucapan sang ibu. Rasanya tidak mungkin berkata jujur, berbohong pun ia tidak kuasa. Gadis berusia 20 tahun itu memilih diam, dan akan mencari cara agar uang tersebut kembali. "Maafin aku, Bu. Maaf karena aku gak bisa ngejawab pertanyaan Ibu. Jika aku berbohong, maka akan ada kebohongan-kebohongan lainnya lagi untuk menutupi satu kebohongan ini, aku gak bisa, Bu," batin Lila lagi, diam-diam menitikkan air mata. "Hmm ... kamu udah tidur ternyata," decak sang ibu. Ratih meletakan kepala Lila di atas bantal dengan sangat hati-hati. Menutup separuh tubuhnya menggunakan selimut tebal. Mengusap satu sisi wajahnya dengan lembut sebelum akhirnya melayangkan kecupan singkat di kepalanya. "Maafin Ibu, Nak. Maaf karena kamu terlahir dari seorang Ibu yang miskin. Maaf karena kamu harus bekerja keras sendirian untuk mewujudkan cita-cita kamu," gumam Ratih, matanya memerah dan berair. Wanita paruh baya itu pun memutar badan, meringkuk membelakangi putrinya, diam-diam terisak. Lila sontak membuka kedua mata, menatap punggung sang ibu dengan perasaan sedih. Air mata yang sedari tadi ia tahan pun akhirnya luruh juga. Bukan salah ibunya mereka hidup miskin, bukan salahnya pula mereka harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, dan tidak ada penyesalan sedikit pun di hati seorang Lila karena terlahir dari seorang ibu miskin. Ia justru bangga karena memiliki ibu kuat dan tangguh seperti Ratih yang rela bekerja keras sendirian sejak ditinggalkan oleh ayah kandungnya. "Aku bangga sama Ibu. Jangan pernah meminta maaf seperti itu sama aku karena Ibu gak salah apa-apa. Aku sayang Ibu dan aku janji akan bekerja keras hingga aku jadi orang sukses," ucap Lila dalam hatinya, seraya melingkarkan pergelangan tangannya di perut sang ibu, memeluknya dari belakang. *** Keesokan harinya tepatnya pukul 07.00. Tubuh Lila menggeliat, kedua matanya berkedip pelan seraya merentangkan kedua tangan. "Huaaa ... jam berapa ini?" gumamnya perlahan membuka kedua mata, menatap jam dinding yang menempel di tembok kamarnya. "Astaga, udah jam tujuh? Asem, aku kesiangan. Kenapa Ibu gak bangunin aku sih?" Gadis itu bangkit dengan tergesa-gesa, berlari menuju kamar mandi lalu masuk ke dalam sana. Restoran tempat ia bekerja biasa buka jam delapan pagi dan 30 menit sebelumnya, seluruh karyawan harus sudah berada di sana. Sudah dapat dipastikan, dirinya pasti akan terlambat tiba di restoran dan ia malas mendengar ocehan manager barunya, siapa lagi kalau bukan Alvaro Brawijaya. Pria yang telah ia tolak mentah-mentah cintanya. 25 menit kemudian, ia pun sudah siap untuk berangkat kerja, membuka pintu kamar dengan tergesa-gesa seraya melingkarkan tas usang di bahu kirinya. Namun, langkahnya seketika terhenti saat melihat Evelyn berdiri di depan pintu. "Nyo-Nyonya," sapa Lila dengan napas terengah-engah dan gugup tentu saja. "Kamu mau berangkat kerja?" tanya Evelyn, memandang tubuh Lila dari ujung kaki hingga ujung rambut. "I-iya, Nyonya. Maaf, saya sudah terlambat. Permisi, Nyonya," jawab Lila, hendak melangkah. "Tunggu sebentar, Lila. Saya mau bicara sama kamu," tegur Evelyn dengan dingin. Lila sontak menahan langkahnya. Kembali berdiri tepat di depan Evelyn dengan kepala menunduk dan takut. Apa mungkin Evelyn sudah mengetahui tentang apa yang terjadi semalam dan sengaja mendatangi kamarnya untuk melabrak dan memintanya menjauhi putranya. Jika tidak, untuk apa Evelyn mendatanginya pagi-pagi begini? Batin Lila, membayangkan salah satu adegan di drama Korea yang pernah ia tonton, di mana seorang ibu melemparkan segepok uang kepada seorang wanita agar wanita tersebut menjauhi anaknya. Lila menggelengkan kepala samar, khayalannya terlalu jauh melayang. "Saya mau kamu jadi mata-mata saya, Lila," ucap Evelyn, seketika membuyarkan lamunan panjang seorang Lila. "Hah? Ma-maksud Anda apa, Nyonya? A-aku jadi mata-mata siapa dan siapa yang harus aku mata-matai?" tanyanya, seraya menatap wajah Evelyn. "Siapa lagi kalau bukan Varo, Lila. Dia manager di restoran tempat kamu kerja, 'kan?" "Mematai-matai Tuan Muda? Akh ... Nyonya Evelyn terlalu banyak nonton Drakor kayaknya. Masa anaknya sendiri mau dimata-matai," tanya Lila dalam hatinya, tanpa berani menanyakannya secara langsung. "Kamu awasi Varo, jangan sampai ada karyawan di sana yang mendekati dia. Saya gak mau dia pacaran sama sembarangan wanita," ucap Evelyn lagi, membuat kedua kaki Lila melemas. "Pokoknya, kamu laporkan apapun yang terjadi di restoran. Sama satu lagi, kamu tau 'kan si Akbar?" "I-iya, saya tau, Nyonya," jawab Lila, semakin gugup. "Kalau si Akbar dateng ke restoran dan bicara empat mata sama Varo, kamu dengerin apa yang mereka bicarakan dan laporkan sama saya. Saya yakin, dia gak akan tinggal diam setelah tau Varo mulai masuk ke perusahaan." Lila terdiam, tidak tahu harus berkata apa. Apa yang baru saja diucapkan oleh Evelyn sudah terjadi kemarin dan ia tidak tahu apa yang sudah dibicarakan oleh kedua saudara itu. Meski tau pun, rasanya ia tidak akan melaporkannya kepada Evelyn karena tidak ingin ikut campur dengan urusan orang lain. Lantas, apa ia akan menerima tawaran Evelyn untuk menjadi mata-matanya? Batin Lila, dilema. "Kenapa kamu diem aja? Kamu denger saya ngomong apa?" tanya Evelyn dengan tegas dan penuh penekanan. "Iya, saya denger, Nyonya," jawab Lila, kepalanya kembali tertunduk. "Pokoknya, saya gak mau Varo pacaran sama bawahannya sendiri. Dia terlalu berharga untuk dimanfaatin sama wanita-wanita di luaran sana," decak Evelyn seraya memalingkan wajah ke arah samping. "Eu ... kalau nggak ada lagi yang mau Anda bicarakan, boleh saya pergi sekarang, Nyonya? Saya udah terlambat soalnya," tanya Lila, seraya menatap arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Evelyn menarik napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan, berbalik lalu melangkah meninggalkan Lila tanpa sepatah katapun lagi. Sementara Lila hanya terdiam, menatap punggung Evelyn dengan kesal. "Kenapa harus aku yang memata-matai orang yang sangat ingin aku hindari? Ya Tuhan," decaknya dalam hati, berbalik dan melangkah berlawanan arah dengan sang majikan. Akan tetapi, pergelangan tangannya tiba-tiba ditarik oleh seseorang ke dalam gudang yang berada tepat di sampingnya. Pintu gudang pun di tutup dan kunci seketika. Kedua mata Lila membulat, menatap wajah Varo yang menghimpit tubuhnya tepat di belakang pintu. "Anda mau apa, Tuan Muda? Lepasin nggak? Kalau Anda gak mau lepasin aku, aku bakalan teriak!" ancam Lila, marah. "Teriak aja, palingan didengar sama Ibu," jawab Varo, tersenyum simpul. "Sebenarnya mau Anda apa, Tuan Muda?" "Kamu mau memata-matai saya?" "Nggak, siapa bilang?" "Terima saja tawaran Ibu saya, dan jadilah mata-mata beliau. Laporkan apapun yang saya lakukan di restoran. Lagian, saya gak keberatan diawasi terus sama kamu." "Gila!" Bersambung ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN