"Jangan bercanda, Tuan Muda. Nggak lucu," decak Lila, tidak menganggap serius ucapan Varo. "Anda pernah bilang sama aku kalau aku bukan type Anda, 'kan? Jadi, stop ganggu hidupku. Jangan pikir karena Anda kaya raya, Anda bisa mempermainkan aku sesuka Anda." Lila hendak melangkah memasuki pintu pagar.
Akan tetapi, pergelangan tangannya seketika ditarik, memaksanya menghentikan langkah. "Tunggu dulu, Lila. Saya nggak bercanda. Saya serius."
Lila menghempaskan telapak tangan Varo dengan keras. "Apaan sih? Lepasin!" decaknya.
Varo berdiri tepat di depan Lila, memandang wajahnya dengan sayu. "Saya suka sama kamu, Lila. Saya nggak bohong dan saya juga nggak bermaksud mempermainkan kamu. Eu ... maukah kamu menerima perasaan saya?"
"Iya, saya mau, Tuan Muda."
Alvaro tersenyum lebar. Akhirnya ia mendapatkan jawaban yang diingkan. Cintanya disambut dengan tangan terbuka.
"Itu 'kan jawaban yang ingin Anda dengar?"
Senyuman di kedua sisi bibir Alvaro seketika sirna. Keningnya mengerut.
"Jangan pikir, karena Anda orang kaya, Tuan Muda di rumah ini, Anda bisa merayu semua wanita? Anda pikir, dengan status Anda sebagai Tuan Muda, dan aku anak pembantu, Anda bisa mempermainkan aku? Pernyataan cinta Anda nggak masuk akal, Tuan Muda. Aku tau, Anda cuma mau main-main sama aku."
Varo terdiam, perasaannya hancur dan kecewa. Ia yang sempat melayang ke udara seakan dihempaskan begitu saja. Ia pikir, Lila akan menerima perasaanya.
"Kenapa Anda diem aja?"
Varo memejamkan mata sejenak, mencoba untuk bersikap tenang, lalu kembali menatap wajah Lila. "Stop membandingkan saya dengan kamu dan berhenti memanggil saya Tuan Muda," ujarnya dengan penuh penekanan. "Bukankah kamu sudah sepakat akan memanggil saya dengan sebutan 'Mas'? Saya memang Tuan Muda di rumah ini, tapi saya tidak sespesial seperti yang kamu katakan tadi. Satu lagi, saya benar-benar menyukai kamu dan nggak ada niat sedikit pun untuk bermain-main sama kamu, Lila."
"Anda pikir aku akan percaya?"
"Terserah kamu mau percaya atau tidak."
"Ya udah, jawaban aku 'TIDAK'. Silahkan Anda cari wanita lain yang selevel dengan Anda. Aku dan Anda ibarat langit dan bumi, Tuan Muda."
"Berhenti memanggil saya 'Tuan Muda'!" bentak Varo, dengan kesal.
"Terus, aku harus memanggil Anda 'Mas', gitu?" teriak Lila tidak mau kalah.
"Apa karena Bang Akbar? Kamu suka sama dia?"
Lila mendengus kesal, mengusap wajahnya kasar, memandang wajah Varo dengan tajam. "Aku ini cuma anak pembantu, Tuan Muda. Mana berani aku menyukai Pak Akbar? Meskipun aku suka sama dia, aku hanya akan menyimpannya dalam hati, karena apa ..." Lila menahan ucapannya sejenak. "Karena aku cuma anak pembantu. Aku hanya orang miskin yang gak punya apa-apa. Mana mungkin pria sempurna seperti Pak Akbar sudi menerima cintaku. Aku sadar diri, Tuan Muda. Aku ini cuma orang miskin!"
Ceklek!
Pintu pagar tiba-tiba dibuka dari dalam. Seorang wanita paruh baya dengan jaket rajut dan rambut diikat di ujung kepala berdiri di belakang pintu. Baik Lila maupun Varo sontak menoleh ke arah samping, menatap wanita itu dengan terkejut.
"Ibu," seru Lila, segera memundurkan langkahnya.
"Lagi ngapain kamu di situ, Ndok? Kenapa nggak masuk?" tanya Ratih, wanita berusia 65 tahun, asisten rumah tangga yang sudah bekerja selama lebih dari 10 tahun di rumah itu.
Lila tersenyum lebar, dengan gugup. "I-iya, Bu. Ini aku mau masuk," jawabnya, melangkah memasuki pintu pagar.
Ratih mengalihkan pandangan mata kepada Varo. "Tuan Muda juga lagi ngapain di sini? Nggak masuk juga?"
"I-iya, Bi. Saya juga mau masuk. Eu ... tolong bukakan pagarnya ya, Bi," jawab Varo, gugup dan canggung.
Lila yang hendak berjalan memasuki halaman seketika mengurungkan niatnya, berbelok ke arah pagar lalu membukakannya agar mobil sang majikan bisa melaju memasuki halaman. Sementara Varo yang segera masuk ke dalam mobil hanya menatap wajah gadis itu dengan perasaan tidak karuan.
"Ternyata, kamu beneran suka sama Bang Akbar, Lila. Asal kamu tau aja, kamu bukan type-nya dia. Sayang sekali, cinta kamu bertepuk sebelah tangan, tapi saya nggak akan pernah menyerah untuk mendapatkan hati kamu," batin Varo, seraya memutar stir mobil, melintasi Lila begitu saja.
***
Di kamar yang berukuran empat kali empat meter, Lila meringkuk dengan menutup hampir seluruh tubuhnya menggunakan selimut tebal. Matanya terpejam, tapi pikirannya melayang. Pernyataan cinta Varo masih terngiang-ngiang di telinganya. Meski ia menolak mentah-mentah perasaan pria itu, tapi hatinya merasa tidak tenang.
"Dia pikir, aku bakalan percaya apa sama pernyataan cinta dia. Kalau bukan untuk main-main, Tuan Muda pasti hanya ingin bersenang-senang sama aku. Setelah puas, aku bakalan dibuang seperti sampah," batin Lila, seraya menggelengkan kepala dengan kedua mata terpejam.
Ratih yang berbaring di samping Lila seketika mengerutkan kening. Menatap wajah sang putri dengan perasaan bingung.
"Kamu kenapa, Lila?" tanyanya.
Lila membuka kedua mata, tersenyum cengengesan seraya merubah posisi tubuhnya yang semula meringkuk, kini berbaring telentang. "Nggak ko, Bu. Aku gak apa-apa," jawabnya, seraya menatap langit-langit kamar.
"Apa ada masalah di tempat kerja kamu?"
Lila menggelengkan kepala.
"Eu ... terus, sedang apa kamu sama Tuan Muda tadi? Ibu gak sengaja ngedenger pembicaraan kalian."
Lila seketika menoleh dan menatap wajah sang ibu dengan perasaan malu. "Nggak ko, Bu. Nggak terjadi apa-apa antara aku sama Tuan Muda. Dia cuma lagi gabut aja."
"Ibu baru tau kalau kalian seakrab itu."
"Hah? Ki-kita nggak akrab sama sekali ko, Bu," jawab Lila seketika gugup.
Ratih menarik napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan, seraya menatap langit-langit kamar. "Keluarga ini sangat rumit, Lila. Jangan pernah masuk ke dalam kehidupan mereka. Kita ini cuma orang miskin. Kita bahkan hanya numpang di rumah ini."
"Aku tau, Bu. Aku juga sadar diri ko. Itu sebabnya aku menolak Tuan Muda."
"Benar, 'kan?"
Lila hanya terdiam seraya tersenyum simpul.
"Berarti Ibu nggak salah denger tadi."
"Ibu mendengar semuanya?"
"Telinga Ibu masih normal, Lila."
Lila hanya menarik napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan, kembali meringkuk tepat di samping sang ibu, memeluknya dengan mata terpejam.
"Ibu tenang aja, aku gak akan termakan rayuan gombal Tuan Muda atau siapapun laki-laki yang mendekatiku," ucapnya dengan pelan. "Bagiku, laki-laki di dunia ini sama aja. Laki-laki yang sudah mengucap ijab qobul aja berani mengkhianati janjinya, apa lagi mereka yang hanya bermodal kata-kata manis. Aku nggak mau nasibku sama seperti Ibu, ditinggalkan sama Ayah saat usiaku masih lima tahun. Hmm ... apa aku pindah aja dari rumah ini, ya."
"Mau pindah ke mana? Ngekost lagi?" tanya Ratih, seraya mengusap punggung tangan sang putri. "Dari pada uangnya dipake buat ngekost, lebih baik ditabung, katanya kamu pengen kuliah? Uang tabungan kamu yang 20juta masih ada, 'kan? Kenapa nggak dipake buat daftar kuliah aja?"
Bersambung ....