"Kenapa? Jangan bilang kalau Abang suka juga sama si Lila?" tanya Varo, tersenyum sinis.
Ia tahu, Akbar sudah lebih dulu mengenal gadis bernama Lila. Tatapan sang kakak pun terlihat hangat saat menatap wajah gadis itu, begitu pun sebaliknya. Ekspresi wajah Lila bahkan seketika berubah saat melihat wajah Akbar.
"Suka sama dia?" tanya Akbar, seraya memandang wajah Lila dari kejauhan. "Lila itu bukan type Abang, Varo. Kamu lupa, dia itu cuma anak pembantu. Yang masukin dia kerja di sini juga Abang."
"Saya pegang kata-kata Abang. Jangan sampai Abang menjilat ludah Abang sendiri."
Akbar menarik napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan, tersenyum kecil seraya menyandarkan punggung di sandaran kursi. Ia memang sudah lama mengenal Lila. Gadis itu sosok yang ceria, dan keduanya pun sudah sering menghabiskan waktu bersama meski hanya sekedar makan berdua. Ia merasa nyaman saat dekat dengannya, tapi jika untuk dijadikan kekasih, rasanya Lila jauh dari type wanita idamannya.
"Kamu tepati janji kamu, Abang pun sama. Kamu boleh memiliki wanita manapun, kamu boleh menghabiskan uang sebanyak yang kamu mau, tapi ingat ..." Akbar menahan ucapannya sejenak, memandang wajah Varo dengan tajam. "Jangan pernah menginginkan satu hal yaitu, Presiden Direktur, jabatan yang saat ini diduduki sama Ayah. Paham?"
"Saya sama sekali nggak tertarik sama semua itu, Bang. Harus berapa kali lagi saya menjelaskannya sama Abang."
"Kamu udah besar, Varo. Dulu mungkin iya, kamu belum dewasa, belum tau seperti apa rasanya memiliki kekuasaan, tapi sekarang berbeda. Dengan kamu berada di sini saja, sudah cukup membuktikan kalau kamu--"
"Abang adalah panutan saya, mana mungkin saya berani merebut posisi yang Abang inginkan," sela Varo, bahkan sebelum Akbar menyelesaikan apa yang hendak diucapkan. "Meskipun Abang dingin sama saya, meskipun Abang nggak suka sama saya, tapi saya tetap menganggap Abang Kakak saya. Tolong, percaya sama saya, Bang."
Akbar terdiam sejenak, menghela napas panjang, tersenyum sinis. "Tak ada alasan buat Abang suka sama kamu, Alvaro. Kamu hanya anak haram dari wanita yang sudah merebut kebahagiaan Ibu Abang sendiri. Jika kamu jadi Abang, apa kamu akan suka sama anak hasil asmara terlarang Ayahnya sendiri?"
Varo terdiam, apa yang baru saja diucapkan oleh Akbar masuk akal. Langsung ke intinya, terdengar tajam bahkan terasa menusuk relung hatinya yang paling dalam. Namun, tidak ada yang bisa ia ucapkan lagi karena semua itu fakta. Sang ibu adalah duri dalam rumah tangga ayahnya. Merebut kamar utama istri sah, bahkan ibu kandung dari Akbar Brawijaya terpaksa angkat kaki dari rumah itu karena tidak ingin satu rumah dengan madu suaminya.
Akbar seketika berdiri tegak. "Baiklah, kamu bebas bekerja di restoran ini. Kelola dengan baik dan naikkan keuntungan restoran, tapi ingat, jangan pernah menginginkan hal yang lebih dari ini, oke?" ujarnya, lalu berjalan meninggalkan Akbar.
"Abang serius?" tanya Varo, sontak berdiri tegak, melangkah mengikuti sang kakak. "Saya boleh terus kerja di sini sebagai manager?"
Akbar mengabaikan pertanyaan sang adik. Ia merasa, adiknya itu tidak terlalu bodoh hingga membuatnya harus mengulangi apa yang baru saja ia ucapkan. Pria berusia 35 tahun itu tersenyum lebar, menatap wajah Lila lalu menghentikan langkah tepat di depan meja kasir.
"Kalau ada yang berani macam-macam, atau atasan kamu menggunakan kekuasaannya untuk menindas kamu, bilang sama saya, Lila. Biar saya pecat dia," ucapnya, lalu melirik wajah Varo yang berdiri tepat di sampingnya.
"Jawab dulu pertama saya, Bang. Saya boleh terus kerja di sini sebagai Manager?" rengeknya, membuat Lila speechless.
"Dih, nih cowok bisa ngerengek juga ternyata. Nggak lucu banget sih," batin Lila, tersenyum sinis, lalu mengalihkan pandangan mata kepada Akbar.
"Anda tenang aja, Pak Akbar. Kalau ada yang berani menyalah gunakan kekuasaannya dan menindasku, aku tak akan segan melaporkan dia kepada Anda," jawab Lila dengan senyum kecil.
"Kalau sama Abang aja senyum-senyum kayak gitu. Giliran sama saya, juteknya minta ampun," decak Varo dalam hatinya.
"Siapa lagi yang mau menyalah gunakan kekuasaan. Kalau kamu kerjanya gak bener, ya wajar dong kalau saya tegur," decak Varo, menatap sinis wajah Lila.
"Sudah cukup," pinta Akbar, menatap wajah Varo dan Lila secara bergantian. "Saya pergi dulu, Lila. Semoga kamu betah kerja di sini."
Lila membungkuk, memberi hormat seraya tersenyum lebar. "Baik, Pak Akbar. Semoga harimu menyenangkan. Terima kasih banyak."
Varo dengan sinis mengulangi kalimat yang baru saja diucapkan oleh Lila. "Semoga harimu menyenangkan," ledek Varo dengan kesal. "Kalau sama saya aja juteknya minta ampun. Heuuh ...."
***
Malam hari tepatnya pukul 21.30, restoran sudah tutup, para karyawan pun satu-persatu meninggalkan tempat itu, begitu pun dengan Lila. Sebagai manager, Varo menjadi orang terkahir yang meninggalkan restoran karena harus memeriksa dengan teliti para karyawan menyelesaikan pekerjaan mereka dengan baik sebelum mengakhiri jam kerja mereka.
Varo melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, menatap ke arah kiri dan kanan, berharap bertemu dengan Lila yang sudah pulang terlebih dahulu. Padahal, mereka bisa saja pulang bersama karena keduanya memang tinggal di rumah yang sama. Pucuk dicinta bulan pun tiba, sosok Lila terlihat sedang berjalan di trotoar, sendirian, di tengah kegelapan malam.
"Ko dia jalan kaki sih?" decak Varo, memarkir mobilnya di tepi jalan, tepat di samping Lila.
Gadis itu sontak menghentikan langkahnya, menoleh dan menatap mobil Ferarri berwarna hitam. "Mobil siapa ini?" tanyanya dalam hati, seketika menghela napas panjang saat melihat Alvaro keluar dari mobil tersebut. "Akh, sial. Tuh cowok mau apa lagi sih?" decaknya, kesal.
"Kenapa jalan kaki, Lila? Masuk, saya kasih tumpangan," ujar Varo, menghentikan langkah tepat di depan Lila.
"Nggak usah. Silahkan lanjutkan perjalanan Anda, Tuan Muda. Aku lagi nungguin taksi ko," jawab Lila, dengan datar.
"Beneran, gak mau numpang mobil saya? Kita 'kan searah. Hmm ... bukan searah lagi sih, tapi serumah," kata Varo seraya tersenyum lebar.
"Nggak usah, Tuan Muda. Aku bisa pulang sendiri."
"Yakin?"
Lila menganggukkan kepala, masih dengan raut wajah yang sama.
Varo merasa kecewa, menarik napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan. "Hmm ... baiklah, saya panggilin taksi, ya."
"Gak usah. Silahkan Anda pulang, Anda pasti lelah setelah bekerja keras seharian."
"Ngeselin banget sih," decak Varo dalam hatinya.
"Baiklah, saya pulang dulu kalau begitu. Hati-hati di jalan, Lila. Jangan sampai kamu ketemu sama preman. Ingat, sekarang udah jam stengah 10 malam lho."
Lila mendengus kesal, menarik pergelangan tangan Varo dengan paksa, membukakan pintu mobil untuknya lalu memaksanya masuk ke dalam mobil. "Baaay ... semoga Anda selamat sampai tujuan, Tuan Muda," ujarnya seraya menutup pintu mobil, dengan senyum lebar.
***
Satu jam kemudian, Lila akhirnya tiba di kediaman Brawijaya setelah berjalan kaki selama hampir satu jam dengan ditemani kegelapan dan semilir angin malam. Kegelapan yang mencekam tidak membuatnya takut, dinginnya angin malam pun tidak mengurungkan niatnya untuk pulang dengan berjalan kaki karena ia bisa menabung uang yang seharusnya digunakan untuk membayar taksi. Rumah mewah dua lantai pun sudah terlihat dari kejauhan, tapi kedua matanya tertuju kepada mobil Ferarri milik Alvaro yang terparkir tepat di depan pintu pagar.
"Astaga, lagi ngapain Tuan Muda di situ? Bukannya masuk," decak Lila, terdiam sejenak lalu kembali melangkah dengan tubuh lelah.
"Kamu beneran jalan kaki?" teriak Varo sedikit emosi, gadis yang ditunggu-tunggu akhirnya datang, setelah menunggu hampir satu jam.
"Sebenarnya mau Anda apa sih? Di restoran Anda menggangguku, di rumah pun Anda menungguku! Aku lelah, Tuan Muda. Tolong beri aku ruang sedikit aja buat bernapas!" seru Lila, seperti biasa, kedua matanya memerah karena kelelahan.
"Siapa yang mengganggu kamu, Lila? Saya kayak gini karena saya suka sama kamu!"
Bersambung ....