Bab 5. Akbar Brawijaya

1008 Kata
"Kenapa? Kamu gak mau manggil saya dengan sebutan Mas? Mas Varo," tanya Varo seraya tersenyum lebar. "Atau, kamu mau rekan kerja kamu di sini tau kalau kamu tinggal di rumah saya?" Lila menarik napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan, hari ini benar-benar hari tersial dalam hidupnya. Dirinya harus kehilangan orang yang sudah membawa kabur uangnya, berhadapan dengan atasan baru yang merangkap sebagai majikannya di rumah. Bahkan, pria bernama lengkap Alvaro Brawijaya itu seakan-akan menindasnya. Padahal, tidak ada dendam di antara mereka, pertemuan mereka bahkan terbilang singkat. Sepertinya, hari-harinya akan terasa berat sejak kedatangan Varo. "Ya Tuhan," decak Lila, dengan mata terpejam. "Kenapa? Kamu gak mau manggil saya 'Mas'?" tanya Varo seraya tersenyum menyeringai. Lila tiba-tiba membungkukkan tubuhnya dalam-dalam. "Baik, Mas Varo," jawabnya singkat dengan wajah datar, menahan kesal, lalu kembali berdiri tegak. "Mentang-mentang orang kaya, seenaknya aja menindas aku kayak gini. Dasar red flag," batin Lila, kesal. Varo tersenyum lebar, memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana hitam yang ia kenakan. Rasanya benar-benar senang bisa bermain-main dengan gadis bernama Lila. Hidupnya yang jenuh dan monoton seakan lebih berwarna. Seolah menemukan mainan baru, ia yang semula malas belajar mengelola bisnis sang ayah kini akan dengan penuh semangat mengisi hari-harinya dengan bekerja sebagai manager restoran yang berada di salah satu hotel milik ayahnya itu. "Asik juga bermain-main sama dia. Lila lucu dan menggemaskan, berbeda dengan wanita-wanita yang pernah saya temui di luaran sana," batin Varo, memandang lekat wajah Lila. Wajah cantik Lila terlihat datar, menahan kesal, tapi justru itulah yang membuat Varo senang. Kesalnya Lila justru menjadi kebahagiaan tersendiri bagi Alvaro. Namun, gadis itu tiba-tiba tersenyum lebar, menatap seorang laki-laki berpakaian rapi, dengan jas hitam dan dasi senada memasuki area restoran. "Selamat datang, Pak Akbar," sapanya, ekspresi wajahnya berubah seketika. Varo sontak mengalihkan pandangan matanya, menatap ke arah yang sama seperti Lila. Matanya seketika membulat, merubah posisi tubuhnya, berdiri tegak seraya menatap wajah pria bernama Akbar, putra dari pernikahan sang ayah dan istri sahnya. "Bang Akbar?" gumamnya, terkejut. Akbar, pria berusia 35 tahun berpenampilan rapi lengkap dengan rambutnya yang tertata sempurna melangkah mendekati meja kasir, melewati karyawan yang bekerja di restoran tersebut, mereka pun sontak membungkuk memberi hormat. Sampai akhirnya, pria tampan dan dewasa itu menghentikan langkah tepat di depan meja kasir, menatap wajah Varo sekejap lalu mengalihkan pandangan mata kepada Lila, tersenyum ramah kepadanya. "Gimana, kamu betah kerja di sini?" tanyanya. "Alhamdulillah, saya betah, Pak Akbar. Terima kasih karena--" "Tunggu," sela Varo, bahkan sebelum Lila menyelesaikan apa yang hendak diucapkan. "Kalian saling kenal? Kamu kenal sama Bang Akbar?" tanyanya, menatap wajah Lila dan Akbar secara bergantian. "Abang? Jadi, Tuan Muda adiknya Pak Akbar? Astaga, kenapa aku sampai lupa kalau Pak Akbar adalah pemilik hotel ini dan Tuan Muda Alvaro adalah putra kedua dari Tuan Besar," batin Lila, seraya menggerakkan matanya ke kiri dan ke kanan. Akbar tersenyum sinis, balas menatap wajah Varo. "Kenapa kamu terkejut kayak gitu? Memangnya salah kalau saya mengenal Lila?" Varo memejamkan mata sejenak, lalu kembali menatap wajah sang Kakak. "Nggak ko, nggak salah. Saya cuma terkejut aja, saya pikir--" "Kita bicara sebentar, Varo," sela Akbar, seraya berbalik dan melangkah ke arah meja kosong yang berada di sudut restoran. "Hah? I-iya, Bang," jawab Varo, tersenyum lebar. Rasanya benar-benar senang bisa bertemu kembali dengan sang kakak, setelah sekian lama tidak melihat wajahnya. Ya, Akbar dan Varo memang tinggal terpisah. Sejak Varo kembali dari Amerika usai menyelesaikan pendidikan di sana, Akbar lebih memilih angkat kaki dari rumah Brawijaya. Ia menganggap Varo adalah rivalnya, kedudukannya sebagai pewaris merasa terancam dengan kehadiran Alvaro. Varo berjalan mengikuti sang kakak, sementara Lila hanya terdiam tanpa sepatah katapun, menatap dua laki-laki yang memiliki sifat yang berbeda meskipun mereka bersaudara. "Pak Akbar jauh banget sama Tuan Muda. Dia laki-laki idaman wanita. Baik, lembut dan sopan. Sedangkan adiknya ... hmm ... jangan ditanya lagi. Dia red flag, pake banget," batin Lila, membandingkan antara Alvaro Brawijaya dengan Akbar Brawijaya. *** Varo dan Akbar duduk saling berhadapan. Dua cangkir teh hangat pun sudah tersaji di atas meja, tapi belum tersentuh sedikit pun. Varo benar-benar gugup dan canggung. Sosok Akbar adalah kakak yang paling ia hormati, bahkan menjadi panutan baginya. "Abang apa kabar?" tanya Varo, tersenyum ringan. "Apa kamu mulai tertarik dengan perusahaan?" tanya Akbar dengan dingin. "Hah? Ng-nggak ko, Bang. Saya di sini dipaksa sama Ibu. Ya ... dari pada saya jenuh di rumah terus, lebih baik saya mengisi kekosongan saya dengan menjadi manager di restoran ini," jawab Varo, masih dengan senyuman yang sama. "Apa kamu mau semua orang tau kalau kamu hanyalah anak haram?" Senyuman yang semula mengembang di kedua sisi bibir Varo seketika menghilang. Ekspresi wajahnya tiba-tiba berubah, kedua tangannya mengepal. Pertanyaan sang kakak benar-benar merusak moodnya. "Maksud Abang apa?" tanya Varo dengan dingin. "Kamu udah melanggar janji kamu, Varo. Kamu pernah berjanji nggak akan pernah masuk ke perusahaan, tapi apa? Kamu tiba-tiba ada di sini." "Restoran ini hanya sebagian kecil dari perusahaan milik Ayah. Apa Abang merasa terancam dengan kedudukan kecil yang saya tempati ini?" Akbar terdiam seraya memalingkan wajah ke arah samping. Ia lupa, Varo bukan lagi anak kecil yang bisa ia atur hidupnya. Usia Alvaro sudah cukup dewasa untuk mengerti dan paham apa arti dari kata pewaris. Manusia mana yang tidak tergiur dengan harta dan kemewahan, manusia mana yang tidak ingin berada di puncak. Meski harta dan kemewahan itu sudah dinikmati oleh sang adik sedari kecil, tapi ada hal lain yang lebih menggiurkan dari pada itu, menjadi pewaris utama atas seluruh harta yang berjumlah triliunan milik sang ayah. Batin Akbar meradang, kedatangan Varo seakan mengancam kedudukannya sebagai ahli waris dan Direktur di seluruh perusahaan milik sang ayah. "Abang tenang aja. Saya nggak tertarik sama warisan Ayah," ucap Varo santai, seraya menyandarkan punggung di sandaran kursi. "Saya gak akan mengancam kedudukan Abang, tapi saya cuma minta satu hal." Akbar mengerutkan kening. "Minta satu hal?" Alvaro menganggukkan kepala, menoleh dan menunjuk wajah Lila yang tengah berdiri di tempat kerjanya. "Wanita itu milik saya. Jangan pernah menyentuh dia sedikitpun. Bagi saya, Lila lebih berharga dari apapun." "Kamu suka sama si Lila?" "Hmm ... anggap saja begitu." "b******k," batin Akbar, kedua tangannya diam-diam mengepal. Bersambung ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN