Orang yang ditunjuk oleh Lila sontak berlari kencang saat gadis itu meneriakkan namanya.
"Hey, mau lari ke mana kamu? Kembalikan uangku!" teriak Lila, berlari mengejar, bahkan mengabaikan Varo yang masih berdiri di tempatnya.
"Astaga, saya dicuekin? Ini serius cowok setampan saya dicuekin?" decak Varo seraya tersenyum sinis. Beberapa detik kemudian, pria itu pun turut berlari mengejar Lila. "Tunggu saya, Lila! Kamu kenapa? Siapa yang kamu kejar?" serunya, tapi diabaikan.
Tubuh Lila memang mungil, kakinya pun kecil, tapi larinya begitu kencang bak kuda liar membuat Varo kewalahan. Meskipun begitu, pria itu sama sekali tidak menyerah, berlari di belakang Lila, mencoba untuk meraihnya, melewati pengunjung hotel yang sedang berlalu lalang, hingga mereka pun benar-benar keluar dari dalam hotel berbintang lima tersebut.
"Dasar b******k! Berhenti lo!" teriak Lila seraya berlari kencang, tapi pria berpakaian serba hitam yang sedang ia kejar semakin jauh di depan. "Woooy!" teriaknya lagi.
"Aku nggak boleh kehilangan dia. Dia harus balikin uang 20juta yang udah dia ambil dariku," ujarnya dalam hati, mempercepat langkah kakinya.
Mereka pun tiba di tepi jalan, pria itu hampir terkejar karena hendak menyebrang jalan di tengah padatnya kendaraan yang berlalu lalang.
"Akhirnya," decak Lila, tinggal beberapa meter lagi, ia berhasil menangkap orang yang telah mengambil uangnya.
Akan tetapi, telapak tangannya tiba-tiba diraih dari belakang, langkahnya sontak terhenti, tapi matanya tertuju kepada pria itu yang segera menghilang dalam sekejap mata. Menghentikan taksi yang melintas di sana lalu masuk ke dalamnya.
"Haaa ... jangan pergi lo!" teriak Lila, histeris. Mencoba melepaskan genggaman tangan Varo yang mencengkram erat pergelangan tangannya.
"Kamu kenapa, Lila? Siapa yang kamu kejar?" tanya Varo dengan napas terengah-engah.
Lila menghempaskan telapak tangan Varo, memandang wajahnya dengan tajam dan penuh emosi. Napasnya tersengal-sengal, dadanya sesak. Ia hampir saja menangkap pria itu, tapi gagal karena Alvaro yang tiba-tiba menghentikan langkahnya.
"Sebenarnya mau lo apa, hah? Kenapa lo berhentiin gue? Lo liat, orang yang bawa duit gue kabur. Haaaa!" teriak Lila, suaranya terdengar lantang hingga menarik perhatian orang yang sedang berlalu lalang.
"Astaga, kenapa kamu jadi marah-marah sama saya?" tanya Varo, bingung.
"Kenapa? Kenapa kata lo?" bentak Lila, matanya mulai memerah dan berair. "Apa lo tau, dia itu udah bawa kabur duit gue! 20juta duit gue hilang gara-gara lo. Gue tau lo kaya raya, gue tau duit segitu nggak ada apa-apanya buat lo, tapi bagi gue, duit itu adalah keringat dan darah gue. Gue bahkan harus mengubur cita-cita gue gara-gara duit gue dibawa kabur sama tu orang!"
Alvaro terdiam, dua kali ia melihat buliran bening di mata Lila. Hatinya terhenyak, kesedihan Lila seolah menembus relung jiwanya yang paling dalam. Padahal, hubungan mereka tidak sedekat itu hingga ia harus turut merasakan apa yang tengah dirasakan oleh gadis berusia 20 tahun itu. Sepahit itukah kehidupan yang dijalani oleh Lila Artamevia? Batin Varo, speechless.
Lila berjalan melintasi Varo begitu saja seraya mengusap air mata yang membasahi kedua sisi wajahnya. Andai saja Alvaro tidak datang, mungkin ia bisa mendapatkan kembali uang miliknya.
"Hidup gue jadi sial gara-gara ketemu sama lo," gumam Lila dengan suara pelan, tapi terdengar samar-samar di telinga Varo.
"Sial?" gumam Varo, berbalik, menatap punggung Lila yang tengah berjalan menuju lobi hotel. "Selain anak haram, saya juga anak pembawa sial? Haa ... seharusnya saya gak ikutan ngejar dia tadi," ucapnya lagi, penuh penyesalan.
***
Waktu terus berlalu, jarum jam berputar pada porosnya. Pengunjung restoran mulai berdatangan hingga memenuhi setiap meja yang berada di sana. Kebanyakan dari mereka adalah tamu yang sedang bermalam di hotel tersebut, tidak sedikit pula pengunjung lain yang dengan sengaja ke sana karena ingin sekedar mencicipi makanan yang dibuat oleh chef profesional.
Hotel tersebut hanyalah satu dari sekian banyak bisnis yang dijalani oleh Brawijaya. Masih ada bisnis lainnya, yang menghasilkan pundi-pundi uang hingga pria berusia 65 tahun yang memiliki dua istri itu dinobatkan sebagai orang terkaya di negara Indonesia.
Alvaro yang baru hari pertama menjabat sebagai manager restoran hanya berdiri memperhatikan para pengunjung. Namun, pandangan matanya lebih banyak dihabiskan untuk menatap wajah Lila yang ekspresi wajahnya seketika berubah-ubah bak aktris profesional. Gadis itu nampak tersenyum ramah saat berhadapan dengan pengunjung, tapi berubah murung ketika tengah sendirian.
"Hmm ... meskipun lagi sedih, si Lila profesional juga ternyata. Tetap ramah di depan pengunjung. Saya jadi ngerasa bersalah sama dia," gumam Varo, memandang wajah Lila yang tengah melayani pembayaran pengunjung restoran.
"Apa saya ganti aja uang dia, ya? 20juta mah cetek buat saya," batin Alvaro, semakin lekat dalam menatap wajah Lila, tapi segera memalingkan wajah ke arah samping ketika gadis itu menyadarinya. Varo tiba-tiba gugup dan salah tingkah.
"Ngapain sih dia ngeliatin aku kayak gitu? Nyebelin banget," batin Lila, menatap wajah Varo sekejap, lalu berjongkok seraya memijit pundaknya yang mulai terasa pegal.
"Kamu bisa beristirahat sebentar, Lila," ujar Varo yang tiba-tiba sudah berdiri tepat di belakangnya.
Lila sontak berdiri tegak. "Hah? Ng-nggak usah, aku baik-baik aja, Tuan Muda," jawabnya dengan datar, kembali menatap ke depan, menanti pengunjung yang hendak melakukan pembayaran.
"Yakin, kamu baik-baik aja?"
Lila bergeming, hanya helaan napasnya saja terdengar nyaring, seolah tengah memikul beban yang teramat berat di pundaknya.
"Eu ... saya minta maaf atas kejadian tadi pagi," ujar Varo terbata-bata, seraya menyandarkan bokongnya di meja kasir. "Kalau kamu mau, saya bisa ganti uang kamu yang 20juta itu. Kalau kamu mau itu juga."
Lila menarik napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan, menoleh dan menatap wajah Varo dengan sinis. "Atas dasar apa Anda mau mengganti uangku? Memangnya Anda yang membawa kabur uang aku? Jangan mentang-mentang Anda orang kaya, seenaknya aja Anda mau ganti uangku. Jangan Anda pikir aku ini wanita matre, ya."
"Astaga, Lila. Jangan keras-keras ngomongnya, malu 'kan didenger sama karyawan lain," decak Varo seraya menatap sekeliling.
Lila sontak melakukan hal yang sama. Ia baru menyadari tengah menjadi pusat perhatian rekan kerjanya sendiri. Tidak sedikit dari mereka yang terlihat saling berbisik, menatapnya dan sang manager dengan tatapan sinis.
"Astaga," decak Lila, menundukkan kepala. "Lebih baik Anda jauh-jauh dariku, Tuan Muda. Aku nggak mau kalau sampai ada gosip yang menyebar di sini. Aku masih butuh pekerjaan."
"Bagaimana kalau mereka sampai tau kamu tinggal di rumah saya?"
Lila sontak menoleh dan menatap wajah Varo. "Hah? Ja-jangan bilang siapa-siapa kalau aku tinggal di rumah Anda, Tuan Muda."
Varo tersenyum lebar. "Oke, saya akan menjaga rahasia kamu, tapi--"
"Tapi apa?"
"Jangan panggil saya Tuan Muda, tapi panggil saya Mas Varo, Alvaro. Paham?"
"Hah?"
Bersambung ....