Lila melangkah meninggalkan kamar sang majikan dengan tubuh gemetar. Telapak tangannya bahkan sampai berkeringat dingin, segera menutup pintu sesaat setelah ia tiba di luar kamar.
"Akhirnya aku bisa keluar dari kamarnya Tuan Muda," gumamnya seraya menarik napas dalam-dalam, merasa lega, lalu kembali menoleh dan menatap pintu bercat coklat tersebut. "Lagian, siapa lagi yang mau balik ke kamar ini? Meskipun dibayar 100juta juga, gak bakalan mau aku masuk ke sana lagi."
Lila mengusap dadanya yang sempat teras sesak, melangkah menuju tangga lalu berjalan menuruni satu-persatu anak tangga menuju lantai satu. Di ujung tangga, Evelyn sang majikan nampak berdiri dengan wajah kebingungan.
"Gimana, Varo udah tidur?" tanyanya, menatap wajah Lila yang tengah berjalan di tangga.
"Ko nanya ke aku? Emangnya aku baby susternya Tuan Muda apa?" batin Lila, merasa tidak habis pikir.
"Belum, Nyonya," jawab Lila singkat, menghentikan langkah tepat di depan Evelyn.
Evelyn berjalan menaiki tangga begitu saja, bahkan tidak mengatakan sepatah katapun lagi, mengabaikan Lila yang masih berdiri di tempatnya. Perasaannya dilanda rasa cemas usai bertengkar dengan suaminya, bahkan putra semata wayangnya itu harus merasakan perihnya tamparan Brawijaya. Ia ingin memastikan sendiri, apakah sang putra baik-baik saja.
"Varo, ini Ibu. Boleh Ibu masuk?" serunya, segera mengetuk pintu, sesaat setelah ia tiba di depan kamar sang putra, tapi diabaikan, hanya keheningan yang terasa di dalam sana. "Varo! Ibu masuk, ya!"
Tanpa basa-basi lagi, Evelyn membuka pintu kamar lalu melangkah masuk ke dalamnya. Aroma alkohol tercium terasa menusuk hidung hingga wanita berusia 45 tahun itu harus mengibas-ngibaskan telapak tangannya tepat di depan wajah untuk menghalau aroma yang tidak sedap itu.
"Astaga, berapa banyak kamu minum, Varo? Kamarnya bau banget," gumamnya, seraya menatap sekeliling kamar.
Varo yang sedang meringkuk pun seketika bangkit dengan perasaan kesal. Baru saja mengusir wanita yang sempat menganggu waktu istirahatnya, kini datang kembali pengganggu lainnya. Batin Varo, kesal.
"Astaga, Bu. Mau ngapain lagi Ibu ke sini? Belum cukup Ibu mengutus anaknya Bi Ratih tadi?" tanya Varo dengan sinis. "Lebih baik Ibu keluar, saya ngantuk."
Varo kembali berbaring, bahkan menutup seluruh tubuhnya menggunakan selimut tebal, begitupun dengan kepalanya. Namun, Evelyn dengan cepat menarik selimut tersebut hingga membuka separuh tubuh pria berusia 25 tahun itu.
"Ibu mau bicara sebentar sama kamu, Varo," ujarnya dengan kesal.
"Besok lagi aja bicaranya, Bu. Saya ngantuk banget," rengek Varo dengan suara manja.
"Nggak bisa, Ibu gak bisa tidur nyenyak sebelum memastikan kamu baik-baik aja."
Varo seketika duduk tegak, merentangkan kedua tangan seraya menatap lekat wajah sang Ibu. "Lihat, saya baik-baik aja, Bu. Hati dan jiwa saya juga baik-baik aja. Jadi, tidurlah dengan nyenyak dan gak usah khawatirin saya. Oke?" Varo kembali meringkuk seraya menarik selimut.
"Ucapan Ayahmu tadi nggak usah diambil hati," ujar Evelyn, duduk di tepi ranjang. "Besok, datanglah ke restoran dan mulai belajar mengelola perusahaan di sana. Kata Ayahmu, sebagai pewaris kamu harus mulai dari nol. Paham?"
Varo yang sudah memejamkan mata seketika menarik pelupuknya dengan kesal. "Pewaris apaan si, Bu? Saya sama sekali nggak tertarik menjadi pewaris. Ibu lupa, masih ada Bang Akbar. Dia yang lebih layak jadi pewaris, bukan saya."
"Astaga, Varo. Akbar ya Akbar, kamu ya kamu. Kalian akan mendapatkan bagian masing-masing, tapi Ibu mau kamu mendapatkan bagian paling banyak. Ibu mau--"
"Cukup, Bu. Cukup!" sela Varo dengan suara lantang, bahkan sebelum sang Ibu menyelesaikan apa yang hendak diucapkan. "Ahli waris? Warisan? Bagian yang lebih banyak? Saya nggak tertarik dengan semua itu, Bu. Saya cuma pengen hidup tenang."
Evelyn menarik napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan, memalingkan wajah ke arah samping sejenak, lalu kembali menatap wajah Alvaro Brawijaya. "Kamu mau kita diusir dari rumah ini? Kamu mau kita berdua jadi gembel, hah? Nggak, Varo. Ibu nggak mau. Kalau kamu mau ngeliat Ibu mati, silahkan lakukan apapun yang kamu inginkan, tapi jangan harap kamu bisa ngeliat Ibu hidup bahagia," bentaknya, lalu berdiri tegak dan melangkah ke arah pintu.
Akan tetapi, langkah Evelyn seketika terhenti, kembali memutar badan dan menatap wajah sang putra dengan tajam. "Kalau besok kamu nggak dateng ke restoran, Ibu gak mau ngeliat muka kamu, selamanya. Lebih baik Ibu mati dari pada ngeliat anak kesayangan Ibu melarat seumur hidup!" bentaknya, lalu kembali berbalik dan melanjutkan langkahnya yang sempat tertahan.
Alvaro mendengus kesal, menatap kepergian sang Ibu hingga wanita bernama lengkap Evelyn Prasasti itu benar-benar keluar dari dalam kamar. Dadanya seketika sesak, pikirannya berkecamuk. Ia memang begitu menikmati harta yang dimiliki oleh orang tuanya, hidup serba berkecukupan, dan dihormati ke mana pun ia pergi karena dirinya adalah putra dari orang terkaya di negara Indonesia, tapi dirinya sama sekali tidak menginginkan hal yang lebih dari itu karena masih ada Akbar Brawijaya, putra dari pernikahan sang ayah dan istri sahnya.
"Ibu ngomong apaan sih? Gak jelas banget," decaknya, tidak menganggap serius ucapan sang ibu.
***
Keesokan harinya.
Lila nampak berdiri di depan meja kasir. Menunggu pelanggan pertama datang karena restoran yang berada di lantai dasar hotel berbintang lima itu baru saja buka pada pukul 08.00 WIB. Seragam restoran berwarna merah terang nampak membalut tubuh langsingnya, dilengkapi topi dengan warna senada sebagai identitas karyawan yang bekerja di sana. Lila sontak berdiri tegak saat melihat seorang pria berjas hitam lengkap dengan dasi senada, melangkah memasuki restoran dengan satu tangan dimasukan ke dalam saku celana bahan yang ia pakai.
"Selamat datang," sapanya dengan senyum lebar.
Sementara karyawan lain pun melakukan hal yang sama, menyambut pelanggan pertama mereka dengan ramah dan sopan. Pria berpenampilan layaknya CEO di drama Korea itu pun tersenyum simpul, memandang wajah Lila dengan sinis, menghentikan langkah tepat di depan meja kasir.
"Kamu kerja di sini ternyata," decaknya.
Lila terdiam, memandang lekat wajah pria tersebut seraya mengerutkan kening. Otak kecilnya mencoba untuk mengingat, pikirannya melayang, hingga kedua matanya akhirnya membulat saat mengingat pertemuannya dengan putra sang majikan, semalam.
"Tu-Tuan Muda?" sapanya, dengan terkejut.
"Hmm ... apa wajah tampan saya sulit dikenali? Semalam 'kan kita--"
"Anda mau makan apa, Tuan Muda? Apa Anda mau mencicipi menu spesial di restoran ini?"
"Sial, pelanggan pertama kita, dia? Hmm ..." batin Lila, tersenyum canggung.
"Saya ke sini bukan mau makan, Lila, tapi mulai sekarang saya adalah atasan kamu," jawab Varo dengan santai.
"Apa? A-Anda atasan aku di restoran ini?" tanya Lila, lalu tertawa nyaring. "Hahahaha ... jangan bercanda, Tuan Muda. Anda ini orang kaya, mana mungkin Anda bekerja di restoran ini. Gak lucu tau!"
"Saya gak kerja di sini, tapi saya adalah pemilik restoran ini. Kamu lupa, hotel ini milik siapa?"
Bukannya menanggapi penjelasan Alvaro Brawijaya, yang dilakukan oleh Lila adalah berteriak seraya menunjuk seseorang yang sedang berjalan tepat di depan restoran.
"Hey, kamu!" teriaknya dengan kedua mata membulat, tiba-tiba berlari keluar dari meja kasir, mengejar orang tersebut. "Hey, jangan lari kamu! Kembalikan uangku!"
Bersambung ....