Bab 2. Dikurung di Kamar

921 Kata
Lila terdiam, menatap perut kotak-kotak putra dari majikannya. Selain parasnya yang tampan, Alvaro juga memiliki tubuh sixpack dan bahu yang lebar membuatnya terpana, dan ini adalah pertemuan pertama mereka. "Liat apa kamu?" tanya Varo dengan sinis. Lila sontak memutar badan dengan perasaan gugup. "Maaf, Tuan. I-ini teh hangatnya mau disimpen di mana?" "Jadi dia putra kedua keluarga ini. Hmm ... cakep sih, tapi songong. Mentang-mentang orang kaya," batin Lila seraya menarik napas dalam-dalam. "Bawa lagi aja teh hangatnya, saya gak butuh," jawab Varo masih dengan nada suara yang sama. Lila kembali memutar badan dengan wajah memerah. "Nggak bisa, Tuan Muda. Nyonya memintaku membawakan ini buat Anda. Kalau dibawa lagi ke belakang, nanti aku dimarahi sama Nyonya." "Saya bilang ng--" Varo menahan ucapannya karena Lila tiba-tiba masuk ke dalam kamar bahkan tanpa diminta. "Astaga, gak sopan banget sih main masuk-masuk aja ke kamar orang. Gak tau sopan santun," decaknya, seraya memutar badan, menatap punggung wanita bernama Lila dengan perasaan kesal. Sementara Lila, dengan wajah lelah dan perasaan malas melangkah menuju sofa yang berada di sudut kamar, meletakan apa yang ia bawa di atas meja lalu menatap sekeliling kamar. "Jadi kayak gini kamarnya orang kaya. Ini sih 10 kali lipat lebih luas dari kamar pembantu," batin Lila, seraya menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya secara perlahan sebelum akhirnya memutar badan. Gadis itu seketika terkejut karena Varo tiba-tiba sudah berada dihadapannya. "Tu-Tuan!" serunya dengan mata membulat. "Suruh siapa kamu masuk ke kamar saya?" tanya Varo dengan dingin, memandang wajah Lila dengan tajam. "Apa kamu tau, masuk kamar orang tanpa izin namanya gak sopan, gak punya tata krama. Emangnya orang tua kamu gak ngajarin sopan santun, hah?" Lila sontak memundurkan langkahnya dengan gugup, aroma alkohol tercium dari hembusan napas Varo membuatnya semakin ketakutan. Tatapan mata pria bernama lengkap Alvaro Brawijaya itu nampak sayu dan menahan rasa kantuk, tapi tersirat sesuatu yang menakutkan bak mata hewan buas yang kelaparan dan siap untuk menerkam. "Maaf, Tuan. Aku cuma mau pekerjaanku cepat selesai dan istirahat," jawab Lila dengan gugup. "Eu ... baiklah kalau begitu, aku permisi, Tuan. Selamat beristirahat." Lila membungkukkan tubuhnya dalam-dalam, memberi hormat lalu hendak melangkah. Akan tetapi, Varo tiba-tiba meraih bagian belakang pakaian yang ia kenakan dan menggenggam erat, menahan langkahnya. "Mau ke mana kamu, hah? Kamu bisa masuk kamar ini seenaknya, tapi kamu gak bisa keluar sesuka hati kamu," ujar Varo dengan dingin. Lila sontak menahan langkahnya, kembali menatap wajah Varo dengan mata memerah. "A-Anda mau ngapain, Tuan? A-aku minta maaf kalau sikapku gak sopan, aku cuma menuruti perintah dari Nyonya Besar. Aku mohon ampuni aku dan izinkan aku keluar. Lepasin aku, Tuan," ucapnya dengan terbata-bata. "Kamu baru kerja di sini, 'kan?" "Sebenarnya, Ibuku yang bekerja di sini. Karena nggak sanggup bayar kontrakan, aku terpaksa ikut tinggal di sini bersama Ibuku, Tuan," jawab Lila, rasa takut terasa memenuhi d**a, dia merasa seperti terjebak di kandang singa. "Aku mohon, izinkan aku keluar, Tuan. Udah malam, besok aku harus kerja. Aku mohon!" Varo terdiam, memandang tubuh Lila dari ujung kaki hingga ujung kepala. Jaket berwarna hitam yang sudah sedikit usang serta celana jeans dengan warna yang sama nampak membalut tubuhnya, tas selempang dengan warnanya yang pudar pun nampak masih melingkar di pundaknya. Sepertinya, gadis itu baru saja pulang usai bekerja di luar. "Kamu anaknya Bi Ratih?" tanyanya, seraya melepaskan genggaman tangannya. Lila menganggukkan kepala. "Betul, Tuan." "Jadi, kamu numpang di rumah saya karena kalian gak sanggup bayar kontrakan?" Lila kembali menganggukkan kepala, rasa sesak kembali memenuhi d**a. Mengingat kehidupan pahit yang ia jalani bersama ibunya membuatnya putus asa. Ia terpaksa turut tinggal bersama sang ibu karena sudah tidak sanggup membayar kontrakan usai ditipu oleh temannya sendiri yang membawa kabur uang miliknya dengan dalih investasi, tapi tidak kunjung kembali sampai saat ini. Kedua mata Lila seketika berkaca-kaca, hingga buliran bening itu akhirnya bergulir membasahi kedua sisi wajahnya. "Hey, kenapa kamu nangis? Saya belum apa-apain kamu lho," seru Varo terkejut, sontak memundurkan langkahnya seraya memandang lekat wajah wanita yang berada di hadapannya itu. Lila mengusap kedua matanya yang membanjir. "Sekali lagi aku mohon maaf karena aku sudah bersikap gak sopan, masuk ke kamar Anda tanpa izin, Tuan Muda, tapi tidak sepatutnya Anda seperti ini," ucapnya seraya menahan isakan. "Hidupku udah terlalu berat, aku juga terpaksa tinggal di sini, Tuan. Aku tau, aku cuma orang miskin yang rendah, tapi bukan berarti Anda bisa berbuat seenaknya kayak gini." Varo speechless, sikap Lila terlalu berlebihan menurutnya. Ia tidak melakukan apa-apa, bahkan tidak menyentuh kulitnya sedikit pun. Namun, tangisan gadis itu benar-benar membuatnya bingung. Padahal, ia hanya ingin bermain-main dengan gadis berusia 20 tahun itu. "Kenapa Anda diam aja, Tuan? Izinkan aku keluar, aku udah capek seharian bekerja dan sekarang dikurung di kamar Anda," rengek Lila dengan d**a naik turun karena isakan. "Aku tau Anda majikan di sini, tapi Anda tak boleh berbuat seenaknya. Aku bukan w************n, Tuan Muda." Varo tersenyum menyeringai. "Siapa yang ngurung kamu di sini dan siapa yang bilang kamu w************n?" tanyanya dengan santai. "Saya juga nggak ngapa-ngapain kamu, nyentuh kamu aja nggak ko." "Hah? Jadi--" "Udah, sana keluar, dasar cengeng. Belum diapa-apain udah nangis. Lagian, saya juga gak berniat ngapa-ngapain kamu, Lila. Kamu bukan level saya." Lila membungkukkan tubuhnya untuk yang kedua kalinya. "Terima kasih, Tuan. Terima kasih," ujarnya dan hendak melangkah. "Tapi, kalau kamu berani masuk kamar saya tanpa izin lagi, saya gak jamin kamu bisa keluar dalam keadaan utuh. Kamu tau, saya nggak suka ada orang asing masuk kamar pribadi saya. Paham?" "Wanita miskin rendahan? Kamu gak tau, saya bahkan lebih rendah dari kamu," batin Varo seraya memalingkan wajah ke arah samping. Bersambung ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN