"Hadeh.... Titah kemana lagi lama banget." keluh Fandi yang menunggu Titah.
"Tuh kan benar kecurigaan gue dari tadi pasti Fandi bohong." kata Afgan di dalam hati.
*Flashback On*
" Kok dari tadi Fandi lihat kearah jendela kamar Titah sih. Jangan-jangan Fandi bohong lagi, apa gue juga izin nyusul saja ya, tapi alasannya ke Renaldi apa ? " tanya Afgan di dalam hati.
" Ah iya gue tau alasan apa sama Renaldi. " kata Afgan di dalam hati.
Baru setengah perjalanan Afgan menghentikan motornya, begitu juga dengan Renaldi yang menghentikan menghentikan motornya. Kemudian Renaldi menghampiri Afgan.
"Loh gan kok berhenti ?" tanya Renaldi.
"Haduh maaf Renal, gue baru ingat kalau gue harus jemput anduang ke bandara." jawab Afgan.
"Anduang ?"
"Nenek...."
"Oh.. Ya terus gimana kamu gak bisa ikut kumpul hari ini dong kan ada nenek kamu, gan ?"
"Kamu tenang saja nal, pasti gue datang kok habis jemput nenek gue di bandara tapi ya."
"Oh oke. Kalau begitu gue jalan duluan duluan ya gan ke tempat tongkrongan."
"Iya nal, sorry ya."
"Iya santai saja."
"Assalamu'alaikum." Renaldi memberikan salam pada Afgan.
"Wa'alaikumussalam." Afgan menjawab salam dari Renaldi.
"Sekarang saatnya menyelidiki Fandi."
Afgan pun memutar balikkan motornya menuju ke tempat Fandi kini berada sekarang.
*Flashback Off*
"Mudah-mudahan Fandi masih ada di depan gang." kata Titah jalan dengan terburu-buru.
"Duh siapa lagi nih yang telepon nggak tau apa aku lagi buru-buru." keluh Titah ketik ada yang meneleponnya.
"Duh kok nggak di angkat sih. Tah please angkat dong teleponnya." keluh Fandi saat ia menelepon Titah, tapi Titah tidak mengangkat telepon darinya.
"Alhamdulillah Fandi masih ada di sana."
"Fandi...." panggil Titah.
"Iya tah.." jawab Fandi.
"Haaaa.... Titah, kenapa sih harus Titah, Fandi." kata Afgan ketika melihat Titah bersama dengan Fandi.
"Yuk langsung saja kita ke sana."
"Iya, yuk Fandi."
"Oh ya tah, tadi gue telepon kok nggak diangkat sih ?" tanya Fandi.
"Titah kan lagi di jalan ke sini. Ih.... Fandi bagaimana sih." jawab Titah.
"Oh iya ya. Hehe...."
"Hmmmm...."
Titah dan Fandi kemudian menuju ke tempat biasanya Geng Motor Tiger (GMT) berkumpul. Begitu juga dengan Afgan yang diam-diam mengikuti Fandi dan Titah dari belakang.
Basecamp Geng Motor Tiger (BGMT).
"Mang eta Renal." kata Ridho menunjuk ke arah Renaldi.
"Mana Dho ?" tanya Rizky.
"Eta ky...." jawab Ridho.
"Oh iya eta Renal." kata mang Ferry.
"Assalamu'alaikum." Renaldi memberikan salam.
"Wa'alaikumussalam." semua anggota geng motor tiger menjawab salam dari Renaldi.
"Loh kok tumben nal." kata mang Ferry yang melihat Renaldi datang sendirian ke basecamp.
"Oh iya mang. Fandi dan Afgan nyusul katanya." sambung Renaldi.
"Eh ya sudah biarin kenape bang. Terserah die mau datang sendiri kek atau rame-rame kek. Kenape abang yang ngatur ye jadinye. Oh ya nal minum dulu nih." kata empok Ida.
"Makasih ye mpok."
"Iye...." seru empok Ida.
Tak beberapa lama sesudah Renaldi sampai Fandi dan Titah pun tiba di basecamp, begitu juga dengan Afgan yang baru tiba di basecamp.
"Assalamu'alaikum." Titah, Fandi dan Afgan memberikan salam.
"Wa'alaikumussalam." semua anggota geng motor tiger menjawab salam dari Fandi, Titah dan Afgan.
"Loh Fandi, elu sama Titah, bukannya elu bilang tadi sama gue kalau elu itu mau jemput keponakan elu ya kok malah sama Titah sih dan elu juga Afgan, elu bukannya bilang sama gue mau jemput nenek lho ke bandara ?" tanya Renaldi.
"Oh keponakan gue kaga jadi main nal. Terus gue di telepon Titah, dia bilang mau ikut nongkrong ya sudah gue jemput saja ke rumah om lho. Ya kan Tah ?"
"Haaaa..." kata Titah kebingungan.
"Bilang saja iya gitu." bisik Fandi.
"Oh iya, iya benar itu a.."
"Oh...." seru Renaldi.
"Kalau gue salah lihat hari nal. Kirain minggu ini ternyata minggu depan. Hehe....."
"Oh.... Ya sudah mpok es teh manis buat adik sepupu saya ya dan gorengan buat adik sepupu saya juga nanti Renal bayar sekalian punya Renal."
"Oke siap atuh kasep."
.....
Keesokan Harinya....
Seperti biasa aku dan keluarga pamanku sarapan pagi bersama. Titah melihat Natasha melihat ke arah ku, kemudian Titah memberikan kode padaku.
Setelah memberikan kode, Titah juga sengaja menyindir Natasha. Membuat Natasha tersedak karena mendapatkan sindiran dari Titah, adik sepupuku.
Di Rumah Pak Nano
"Di, Titah mana ?" tanya pak Nano.
"Masih di kamarnya om." jawab Renaldi.
"Biar aku saja mas yang panggil Titah ke kamarnya." kata Natasha.
"Jangan tante, biar aku saja. Tante di sini saja temani om Nano." sambung Renaldi.
"Tapi Renal...."
"Sudah biarkan saja Renal yang panggil sekarang ini hanya dia yang bisa membujuk Titah." kata pak Nano.
"Iya mas.." kata Natasha patuh.
"Ya sudah om, saya ke kamarnya dulu ya."
"Iya nal.."
Kost'an Mas Edo
Di Kamar Kost Afgan..
"Ada jadwal kuliah lagi hari ini, kok bisa lupa kaya gini ya, oh ya Titah sudah sarapan apa belum ya WA dulu deh." kata Afgan.
**
[My beautiful girl ❤ : Hai.. Met pagi, sudah bangun belum ? Jangan lupa sarapan ya.]
**
Di Rumah Pak Nano
"Siapa sih pagi-pagi sudah WA ? Ah palingan juga Ana atau nggak Sinta." kata Titah.
Tok.. Tok.. Tok..
Suara pintu kamar Titah di ketuk oleh Renaldi.
"Tadi WA, sekarang pintu. Siapa sih ah palingan juga si Natasha, si mak Lampir. Ah.... Sabodo teuing."
Tok.. Tok.. Tok..
Suara pintu kamar Titah masih di ketuk oleh Renaldi.
"Dik, Tah...." panggil Renaldi.
"Oh aa Aldi, iya kenapa a ?" tanya Titah.
"Sarapan yuk om Nano dan tante Natasha sudah menunggu tuh." jawab Renaldi.
" Haaaa.... Em si mak Lampir itu pasti sedang mencoba caper dan juga simpati dari aa Aldi dan romo deh. " kata Titah di dalam hati.
"Dik...." panggil Renaldi lagi.
"Iya a.." jawab Titah lagi.
"Ayo buruan. Di tunggu, katanya om Nano kalau kamu nggak ikut sarapan nanti mas juga nggak boleh ikut sarapan sama om Nano, kamu nggak kasihan apa sama mas Aldi, dik. Hiks.." kata Renaldi yang coba membujuk Titah dengan berpura-pura sedih.
"Iya ah.." keluh Titah lagi.
"Banyak ngeluh kamu, dik."
"Sabodo teuing. Ini untuk aa ya aku mau keluar kamar dan untuk aa juga ya aku mau sarapan kalau bukan karena aa nggak mau Titah."
"Iya yuk.."
Kost'an Mas Edo
Di Kamar Kost Afgan..
"Kok Titah nggak bales sih apa jangan-jangan koutanya habis, WA Renal saja deh." kata Afgan yang menunggu balasan dari Titah.
Di Rumah Pak Nano
"Ya sudah yuk sarapan." kata pak Nano.
"Nah sayang, ini untuk kamu ya roti bakar." sambung Natasha memberikan sarapan pagi untuk Titah.
"Ih apaan sih nggak usah caper ya ke Titah, nggak mempan tau. Lagian aku bisa ambil dan juga siapkan sendiri kok sarapan untukku sendiri, jadi ini ku kembalikan roti mu." kata Titah menolak pemberian dari Natasha.
"Sebentar ya om ada telepon, bi Cengek...." kata Renaldi.
"Nggih di, ya sudah di makan nduk sarapannya."
"Nggih pak."
**
[Afgan GMT : Assalamu'alaikum nal.]
[Renaldi Ketu GMT : Wa'alaikumussalam gan, kenapa ?]
[Afgan GMT : Sudah berangkat ?]
[Renaldi Ketu GMT : Belum gan, kenapa ?]
[Afgan GMT : Nggak apa-apa. Oh ya Titah masih di rumah ?]
[Renaldi Ketu GMT : Ada gan. Eh tunggu dulu deh ada apa nih tumben anda menanyakan adik sepupu saya. Jangan-jangan....]
[Afgan GMT : Gak ada apa-apa Renal, gue cuma nanya saja, kalau koutanya dia masih ada ?]
[Renaldi Ketu GMT : Nggak tau Afgan. Coba nanya saja sendiri.]
[Afgan GMT : Sudah Renal, tapi kaga di bales sama dia.]
[Renaldi Ketu GMT : Eh Afgan Syah Reza. Bilang saja kamu itu tadi w******p dia tapi gak di bales, kenapa jadi mutar muter dan juga basa basi ke gue gan, gan.... Pake nanya gue sudah berangkat ke kampus apa belum. Hadeh.. Hadeh.. Afgan.]
[Afgan GMT : Hehe..]
[Renaldi Ketu GMT : Ya sudah nanti gue bilang deh ke Titah kalau elu tadi w******p dia dan suruh bales gitu ya.]
[Afgan GMT : Oke deh Renal, makasih ya.]
[Renaldi Ketu GMT : Ya sama-sama mas Afgan Syah Reza.]
[Afgan GMT : Assalamu'alaikum.]
[Renaldi Ketu GMT : Wa'alaikumussalam mas Afgan.]
**