Tring..
Suara HP Renaldi berbunyi, ternyata itu w******p dari Afgan yang meminta bantuannya.
" Eh eh.. Siapa lagi yang w******p aku, oh Afgan, hah.. Dia minta bantuan ku, oke deh bestie. " kata Renaldi di dalam hati.
" Please di, lu mau bantu gua kali ini saja, please. " kata Afgan di dalam hati sambil memohon agar Renaldi mau membantunya.
[Renaldi Ketu GMT : Oke.]
[Afgan GMT : Thanks bro]
[Renaldi Ketu GMT : Santai bro]
" Alhamdulillah Renaldi mau membantuku. Huh.. " kata Afgan di dalam hati yang membuatnya menarik nafas panjangnya saat Renaldi menjawab mau membantunya.
"Sudah om izinkan saja Afgan untuk mengantarkan makan siang untuk Titah ke kamarnya."
"Tapi di.."
"Tenang saja om, Renal yang jamin deh kalau Titah itu makan makanan siang yang di antar Afgan ke kamarnya. Apa lagi kan Afgan itu apa Fan ?" tanya Renaldi memberi kode pada Fandi.
"Afgan punika laki-laki ingkang Titah remen pak-dhe." jawab Fandi yang mengerti kode dari Renaldi.
"Oh begitu ya sudah boleh, tapi Titah jangan berduaan di kamarnya bersama kamu, Afgan." kata pak Nano yang mengizinkan Afgan mengantarkan makan siang untuk Titah.
"Iya om."
"Di.." pak Nano memberikan kode pada Renaldi.
"Iya om, siap om." Renaldi mengerti saat pak Nano memberinya kode.
Tok.. Tok.. Tok.. Tok..
Suara pintu kamar di ketuk oleh Renaldi, Afgan dan Fandi.
"Duh siapa lagi sih di luar ganggu saja." keluh Titah.
"Ngapain sih, sana pergi Titah nggak mau makan sana pergi." Titah mengusir Afgan, Renaldi dan Fandi. tidak juga membukakan pintu kamarnya untuk Renaldi, Afgan dan Fandi.
"Et.. Dah.. Di.. Adik sepupu elu itu ya benar-benar galak juga ya kalau lagi marah kaya beruang yang lapar dan sedang mencari mangsa."
"Fandi, em.. Rasain." Afgan menginjak kaki Fandi kembali saat Fandi mengejek pujaan hatinya.
"Aw.. Gan sakit tau.." Fandi kesakitan saat di injak kakinya oleh Afgan.
"Bomat.. Rasain itu emangnya enak hmm."
"Tunggu, tunggu sebentar deh dari tadi di meja makan sama di depan kamarnya Titah kok kayanya Afgan belain Titah terus wah ada apa nih, jangan-jangan, jangan-jangan nih.." kata Renaldi meledek Afgan.
"Jangan-jangan elu mulai ada rasa ya gan sama Titah ya gan ?" tanya Fandi yang meledek Afgan.
"A-apa a-aku suka sama Ti-Titah.." kata Afgan yang gugup saat di ledek oleh Fandi dan Renaldi.
"Ciye sampai gugup nih yeah.." kata Renaldi yang masih meledek Afgan.
"Ciye mukanya merah Ciye.." kata Fandi masih meledek Afgan.
"Ih kalian ini ya, di pegang ini dulu dong ya sebentar."
"Oke."
"Elu mau ngapain gan ?"
"Kepo lo.."
**
[My beautiful girl ❤ : P]
[My beautiful girl ❤ : Buka pintunya dong, ku diluar nih]
[My beautiful girl ❤ : Di depan kamar kamu sekarang hehe]
**
"Siapa sih banyak banget chat masuk, eh dari my handsome Afgan. Hah dia ada di depan kamar." kata Titah yang kesenangan saat mengetahui kalau Afgan ada di depan kamarnya.
"My handsome Afgan.." kata Titah yang membuka pintu dan kesenangan saat melihat Afgan berada di depan kamarnya.
"Yes my beautiful girl." Afgan keceplosan memanggil Titah yang memeluknya.
"Ha.. A-apa ?" tanya Fandi terkejut dengan nama panggilan Afgan pada Titah.
"Ha.. A-apa kita nggak salah dengar nih tadi ?" tanya Renaldi yang sama terkejutnya dengan nama panggilan Afgan pada Titah.
" Haduh Afgan kenapa jadi keceplosan begini sih seharusnya nggak gini juga haduh.. " kata Afgan dalam hati.
"An-anu anu." kata Afgan yang akan menjelaskannya pada semua orang dengan pipinya yang merah.
"Apaan nih gan, itu pipi habis di cium Titah apa bagaimana tuh.."
"Hah.. Emangnya pipi gua kenapa di ?"
"Merah merona.."
"Ha.." Afgan yang terkejut saat mengetahui pipinya yang merah.
Deg deg deg suara jantung Afgan terdengar begitu kencang saat Afgan menatap dan dekat degan Titah.
"Ehem.. Hem.. Hem.. Gua sama Renal kaga di kasih masuk nih tah ke dalam kamar ?"
"Sssttt.. Sudah jangan ganggu mereka percuma juga gak bakalan di gubris dengan mereka karena dunia mereka sekarang serasa milik berdua dan kita di sini cuma dianggap ngontrak atau dianggap setan Fandi. Ayo langsung masuk saja ke kamar Titah." kata Renaldi yang tak ingin menganggu Titah dan Afgan.
----
"Empuk juga kasurnya." kata Renaldi yang tiduran di ranjang Titah.
"Emangnya kasur elu sama kasurnya Titah beda apa di, bukannya sama ya empuk juga ya."
"Oh jelas beda dong Fandi kasur gue sama kasur Titah. Kasur gua mah keras tau."
"Oh pantas.."
"Pantas apa ?"
"Iya pantas kepala elu keras banget di kek kasur elu itu hehe."
"Sialan loh Fan.."
"Sudah.. Sudah.. Jangan bertengkar di sini, ini kamar Titah tau bukannya lapangan untuk tauran."
"Kalian ngapain ke kamar Titah, mau bujuk Titah supaya ikut makan bersama dengan mak Lampir itu ya ?"
"Hah.. Mak Lampir ?" tanya Afgan kebingungan.
"Natasha maksudnya gan" jawab Renaldi.
"Oh..!!"
"Enggak kok, kita cuma mau antar makan siang ini buat kamu."
"Kita.. Lho saja kali gue dan Renal mah kaga."
"Hmmm.." keluh Afgan.
"Nah tah ya sudah nih makan siangnya sudah di antar dan di makan ya."
"Oke tapi temanin Titah makan siang di kamar ya sampai habis."
"Oke.." seru Renaldi, Afgan dan Fandi bersamaan.
-----
"Om.."
"Ya di, loh kamu mau kemana di ?"
"Mau nongkrong om biasa. Renal pamit dulu ya om."
"Oke, hati-hati ya."
"Iya om, tante"
"Assalamu'alaikum." Renaldi, Fandi dan Afgan memberikan salam pada pak Nano dan Natasha.
"Wa'alaikumussalam." pak Nano dan Natasha menjawab salam dari Renaldi, Fandi dan Afgan.
DI DEPAN RUMAH PAK NANO..
"Astaghfirullahalazim." kata Fandi yang berpura-pura kelupaan sesuatu.
"Lho ngapa Fan ?"
"Iya ngapa Fandi, ada yang lho lupa ?"
"Iya gue lupa sesuatu gan, nal. Gue lupa hari ini di suruh si embok jemput keponakan gue, jadi gue kaga bisa bareng kalian. Jadi kalian berdua saja duluan ke tongkrongan ya, gue nanti nyusul. Hehe."
"Oh gitu ya sudah gue dan Afgan duluan ya tongkrongan."
"Ok.." seru Fandi.
----
"Fandi sudah memberikan kode tuh. Itu artinya Afgan dan mas Renal atau aa Renaldi mau pergi. Ini saatnya Titah yang beraksi keluar rumah minta izin sama romo." kata Titah yang mengintip dari jendela kamarnya dan juga mendapatkan sebuah kode dari Fandi.
"Hai anak cantik." kata Natasha dengan ramah dan lemah lembut.
"Awas minggir lho. Gue nggak mau ngomong sama elu, gue mau ngomong sama romo. Hus.. Hus.. Hus.." kata Titah dengan jutek pada Natasha.
"Titah. Nduk, kamu ini kalau ngomong sama ibumu yang sopan dong."
"Ibuku satu pak, dia bukan ibuku. Dia istri bapak."
"Sudah mas, nggak apa-apa mungkin Titah belum siap untuk memanggil saya ibu, ya kan sayang ?"
"Ah sudah berisik banget sih lho. Pak.."
"Nggih nduk, enten menapa ?" tanya pak Nan.
"Aku izin ya." jawab Titah.
"Kersa teng pundi nduk ?"
"Miyos griya sekedhap kemawon kenging nggih."
"Sami sinten nduk. Utawi sami pak-lik Paijo, nduk ?"
"Ih sanes sami Paijo, Romo."
"Lah menawi sami pak-lik Paijo lajeng sami sinten ?"
"Sami kanca kula, Romo."
"Oh.... Nggih sampun."
"Kenging romo ?"
"Nggih nduk, kenging."
"Yes, nggih sampun romo. Kula pamit nggih." Titah pamit dan mencium tanggan pak Nano.
"Nggih.." seru pak Nano.
"Atos-atos di jalan nggih."
"Hmm.."
"Assalamu'alaikum." Titah memberikan salam.
"Wa'alaikumussalam." pak Nano dan Natasha menjawab salam dari Titah.