Bab 2
Bau minyak kayu putih yang menyengat menusuk indra penciuman Lara, memaksanya untuk kembali ke alam sadar.
"Kenapa semuanya gelap?" rintih Lara saat matanya mulai menangkap cahaya lampu yang bergoyang di langit-langit.
Dia merasakan usapan lembut di dahinya, dingin namun menenangkan.
"Ibu... apa yang terjadi padaku?" tanya Lara dengan suara yang masih sangat lemah. Ibunya cuma diam, matanya sembab dan wajahnya menyiratkan duka yang begitu mendalam.
"Minum dulu, Nak." Ibunya bergumam sambil mengarahkan gelas berisi air hangat ke bibir Lara.
Lara meminumnya sedikit, tapi ingatan itu perlahan kembali.. suara pintu yang terbanting, wanita bernama Bika, dan pengakuan kehamilan itu.
"Ini cuma mimpi, kan, Bu?" Lara berharap dengan nada yang sangat memilukan.
Ibunya tidak menjawab, dia justru memalingkan wajah dan mulai terisak pelan di samping tempat tidur. Lara bangkit dengan paksa meski kepalanya masih terasa seperti dipukul palu godam.
"Aku harus melihatnya sendiri," batin Lara sambil menyingkirkan selimutnya.
Dia melangkah keluar kamar dengan kaki gemetar, berpegangan pada dinding kayu rumah yang terasa dingin. Di ruang tamu, suasana sudah tidak lagi sakral.. ruangan itu kini berubah menjadi panggung drama yang memuakkan.
"Lara!" Andre memanggil begitu melihat istrinya muncul di ambang pintu kamar.
Pria itu mencoba mendekat dengan wajah penuh penyesalan, tapi langkahnya langsung terhenti. Bika menarik lengan Andre dengan sangat kuat, mencengkeram kain baju pengantin pria itu hingga kusut.
"Jangan berani-berani kamu mendekatinya, Andre!" sergah Bika dengan mata yang berkilat tajam. Andre hanya bisa terpaku, tubuhnya kaku dan dia tidak melakukan perlawanan apa pun untuk melepaskan diri.
"Lihat itu, Lara," cibir Bika sambil menatap Lara yang berdiri lemah. "Suamimu ini adalah ayah dari anak yang aku kandung," tambah Bika dengan nada kemenangan.
Lara memegang dadanya yang terasa sesak, seolah ada tangan tak kasat mata yang meremas jantungnya.
"Jadi itu bukan mimpi?" Lara berujar lirih, suaranya hampir hilang ditelan kebisingan ruangan.
Bika tertawa sinis, tawa yang membuat seluruh tamu undangan kembali berbisik-bisik. "Mimpi? Ini adalah kenyataan pahit yang harus kamu telan bulat-bulat!" tandas Bika kejam.
Wanita itu kemudian berbalik ke arah penghulu yang masih duduk mematung dengan buku catatan terbuka.
"Pak Penghulu, Anda dengar sendiri, kan? Pria ini harus bertanggung jawab!" tuntut Bika dengan suara melengking. Penghulu itu tampak bingung, dia membetulkan letak kacamatanya dengan tangan gemetar.
"Tapi, akad ini sudah sah secara agama," jelas sang penghulu dengan nada ragu.
"Aku tidak peduli!" Bika mencecar sambil memukul meja kayu kecil di depannya. "Aku hamil! Aku tidak mau anakku lahir di luar pernikahan karena pria pengecut ini!" serunya lagi.
Bika menoleh ke arah Andre, tatapanya kini dipenuhi paksaan yang menakutkan. "Nikahi aku sekarang juga, Andre! Di sini, di depan semua orang!" perintah Bika tanpa tahu malu.
Seisi ruangan kembali geger, para tetangga mulai saling berbisik dengan nada menghakimi. "Keterlaluan sekali wanita itu," celetuk salah satu tamu di sudut ruangan. "Kasihan Lara, nasibnya benar-benar malang," sahut yang lain dengan nada iba yang justru terasa menyakitkan bagi Lara.
Lara berjalan perlahan menuju tengah ruangan, mengabaikan tarikan tangan ibunya yang mencoba menahan. Setiap langkah yang ia ambil terasa seperti menginjak pecahan kaca, perih dan menghancurkan harga dirinya. Dia berhenti tepat di depan Andre yang masih menunduk, tidak berani mengangkat wajahnya sama sekali.
"Andre, lihat aku," pinta Lara dengan nada yang mendadak dingin dan datar. Andre perlahan mengangkat kepalanya, matanya merah dan dipenuhi air mata yang belum sempat jatuh.
"Lara, aku bisa jelaskan semuanya... aku—" Andre mencoba berdalih dengan suara terbata-bata.
PLAK!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Andre, membuat suara dentuman yang bergema di seluruh penjuru rumah. Seluruh ruangan mendadak senyap, bahkan suara isakan ibu Lara pun terhenti seketika.
"Menjelaskan apa lagi?" Lara mencecar dengan napas yang mulai memburu karena amarah. "Kamu menghancurkan hari spesialku! Kamu menghancurkan semua impian yang kita bangun selama ini!"teriak Lara tepat di depan wajah Andre.
Air mata kini mengalir deras di pipi Lara, merusak riasan pengantin yang sejak subuh disiapkan dengan penuh cinta. "Kamu membuatku menjadi bahan tertawaan di sini!" Lara meracau sambil memukul d**a Andre berulang kali.
Andre cuma diam,membiarkan serangan Lara mengenainya tanpa ada niat untuk menghindar atau membela diri.
"Cukup, Lara! Kamu hanya menyakiti dirimu sendiri!" Ibunya mengingatkan sambil mencoba merangkul bahu putrinya.
Lara melepaskan rangkulan ibunya, dia menatap Andre dengan pandangan yang kini dipenuhi rasa jijik yang luar biasa. "Aku dulu berpikir kamu adalah pria terbaik yang pernah kutemui," tutur Lara dengan nada yang bergetar hebat. "Tapi ternyata, kamu tidak lebih dari seorang pengecut yang bersembunyi di balik janji palsu," tambahnya lagi.
Lara menoleh ke arah Bika yang menatapnya dengan senyum miring, seolah puas melihat kehancuran itu. "Dan kamu, ambil saja pria ini," kata Lara pada Bika dengan suara yang tajam. "Pria yang tega mengkhianati istrinya di hari pernikahan sendiri... dia sangat cocok dengan wanita sepertimu," cibir Lara telak.
Lara kembali menatap Andre untuk terakhir kalinya, menatap pria yang beberapa menit lalu ia panggil suami. "Aku merasa jijik denganmu, Andre! Sangat jijik!" Lara menandaskan dengan penuh penekanan pada setiap katanya.
Tanpa menunggu balasan, Lara memutar tubuhnya dan melangkah menuju pintu depan yang masih terbuka lebar. Dia mengabaikan panggilan ibunya, mengabaikan seruan pamannya, dan mengabaikan tatapan kasihan dari para tamu.
Bisikan-bisikan itu masih mengekor di belakangnya, terdengar seperti dengungan lebah yang sangat mengganggu. "Dia mau ke mana?" tanya seorang tamu dengan nada penasaran yang menjengkelkan. "Biarkan saja, dia pasti sangat malu," balas yang lain dengan santainya.
Lara terus berlari,mengabaikan kain gaun pengantinnya yang mulai kotor terkena debu jalanan. Dia cuma ingin pergi sejauh mungkin dari rumah yang kini terasa seperti neraka baginya.
Di belakangnya, sayup-sayup terdengar suara Bika yang kembali memaksa penghulu untuk memulai akad baru. Dunia yang ia bangun dengan penuh harapan, kini resmi menjadi puing-puing yang tak lagi berharga.
Lara berhenti di sebuah jembatan kecil, napasnya tersengal dan dadanya terasa ingin meledak. Dia melihat cincin emas di jarinya, simbol ikatan yang kini justru terasa seperti belenggu yang kotor. Dengan satu gerakan cepat, Lara melepas cincin itu dan melemparkannya ke dalam aliran sungai yang keruh di bawahnya.
"Semuanya sudah berakhir," gumam Lara sambil menatap air yang menelan satu-satunya sisa cintanya.
Angin sore berembus pelan di atas jembatan kecil itu. Air sungai mengalir keruh di bawah kaki Lara, membawa pergi cincin emas yang baru saja ia lemparkan beberapa detik lalu. Lingkaran kecil itu tenggelam tanpa suara, seperti semua mimpi yang ia bangun bersama Andre selama ini.
Lara menatap permukaan air yang beriak. Tangannya masih gemetar. Gaun pengantin putih yang ia kenakan kini tidak lagi terlihat seperti pakaian suci. Ujungnya kotor oleh debu jalan, beberapa helai melati di kerudungnya sudah jatuh entah ke mana.
Ia menarik napas panjang. Namun udara yang masuk ke paru-parunya terasa berat, seolah ada tangan tak kasat mata yang terus menekan dadanya. Suara orang-orang dari arah rumahnya masih terdengar samar di kejauhan. Tamu yang belum pulang, tetangga yang sibuk bergunjing, dan anak-anak kecil yang berlarian tanpa mengerti bahwa hari ini adalah hari kematian bagi masa depan Lara.
Lara menutup matanya. Satu bayangan muncul: wajah Andre saat berbisik pengecut, “Maafkan aku, Lara.”
"Bodoh..." Suara Lara terdengar parau. "Kenapa aku percaya begitu saja..."
Selama ini ia percaya bahwa kesabaran akan membawa kebahagiaan. Bahwa hidup sederhana sebagai anak yatim yang hanya memiliki Ibu sudah cukup. Ternyata dunia tidak sebaik itu padanya. Langit mulai berubah warna. Semburat jingga muncul di ufuk barat saat suara langkah kaki terdengar dari belakang.
“Lara!”
Lara menoleh. Ibunya berdiri di ujung jembatan dengan napas terengah-engah. Begitu sampai di depan Lara, wanita itu langsung memeluknya erat. Pelukan itu hangat, namun Lara bisa merasakan tubuh ibunya bergetar hebat.
“Kenapa kamu lari seperti ini, Nak…” bisik ibunya. Lara menunduk di bahu wanita itu. “Lara tidak kuat, Bu…” Tangisnya pecah lagi.
Ibunya hanya mengusap rambut Lara perlahan, seperti ketika Lara masih kecil dan pulang dengan lutut berdarah. Namun kali ini, lukanya tidak terlihat. Lukanya ada di tempat yang jauh lebih dalam.
Setelah beberapa saat, ibunya menarik tubuhnya sedikit menjauh dan memegang wajah Lara dengan lembut. “Lihat Ibu.”
Lara mengangkat wajahnya. Mata ibunya merah, namun tatapannya tetap berusaha kuat. “Tidak ada yang perlu kamu malu dari kejadian hari ini. Kamu tidak melakukan kesalahan apa pun.”
“Tapi semua orang melihatnya, Bu... Paman juga dipermalukan karena aku.”
“Mereka akan bicara,” potong ibunya tegas. “Tapi ingat satu hal: Kamu tidak kehilangan apa-apa hari ini. Kamu justru diselamatkan dari pria yang salah sebelum semuanya terlambat.”
Lara tidak menjawab. Kata-kata itu logis, namun hatinya masih terlalu sakit untuk menerima kenyataan sesederhana itu. Beberapa menit kemudian mereka berjalan pulang bersama. Langkah Lara terasa berat. Ketika rumah terlihat dari kejauhan, bisikan tetangga kembali menyambutnya seperti duri.
“Kasian sekali, ya... ditinggal di hari nikahnya.”
“Padahal sudah sah tadi.”
Lara menunduk, tangannya mengepal. Ibunya menggenggam tangannya lebih erat. “Jangan dengarkan.”
Mereka masuk ke dalam rumah. Ruang tamu yang tadi pagi penuh tawa kini terasa asing. Kursi palstik masih berserakan. Piring-piring makanan setengah kosong teronggok di meja.
Paman Lara berdiri di dekat pintu, sedang berbicara dengan beberapa sesepuh kampung dengan wajah yang masih merah padam karena amarah yang tertahan. Begitu melihat Lara masuk, sang Paman hanya mendesah berat, tidak sanggup berkata apa-apa lagi. Harga diri keluarga besarnya seolah sudah habis diinjak-injak oleh skandal Andre.
Lara berjalan melewati mereka menuju kamarnya. Ia menutup pintu perlahan. Di depan cermin retak itu, ia menatap dirinya sendiri. Riasannya sudah luntur, matanya bengkak.
Perlahan ia melepas kerudung pengantin dari kepalanya. Rangkaian melati jatuh ke lantai satu per satu, seperti serpihan harapannya yang hancur. Lara duduk di tepi tempat tidur, menutupi wajahnya dengan telapak tangan saat tangisnya kembali mengalir tanpa suara.
Di luar kamar, malam mulai turun. Rumah itu kembali sunyi. Namun kesunyian itu tidak bertahan lama. Sekitar satu jam kemudian— Suara ribut terdengar dari luar rumah. Awalnya pelan, lalu semakin keras menjadi teriakan kepanikan.
Lara mengangkat kepalanya. “Apa itu…?”
Ia membuka pintu kamar. Ibunya sudah berdiri di ruang tengah dengan wajah pucat pasi. Bau menyengat dari sesuatu yang terbakar mulai menusuk hidung.
“Asap!”
"Apii.. apiii.."