Bab 1
Bab 1: Puing-Puing Putih
Sejak subuh, rumah kecil itu dipaksa terjaga. Suara sutil yang beradu dengan wajan besi di dapur terdengar seperti tabuham musik yang tak ada habisnya.
Aroma tumisan bawang merah, gurih santan yang mendidih, hingga uap nasi kuning dari dandang besar merayap keluar, menyelinap lewat celah pintu kamar yang kayu jatinya sudah keropos dimakan usia. Di ruang tamu, tikar pandan baru digelar hati-hati untuk menutupi lantai keramik yang retak di sana-sini—sebuah usaha sederhana, atau mungkin lebih tepatnya, cara mereka menyembunyikan kemiskinan di hari yang paling bersejarah bagi keluarga itu.
Kursi palstik biru pinjaman dari Pak RT berjejer kaku dari teras sampai ruang tengah. Semuanya rapi, seolah benda-benda mati itu pun ikut menahan napas, menunggu janji suci yang sebentar lagi akan diucapkan.
Lara duduk tegak di depan meja rias. Cermin di hadapannya sudah buram dan dipenuhi noda hitam di pinggirannya, tapi hari ini, pantulan di sana terasa asing. Di balik kaca yang tidak sempurna itu, Lara melihat sosok wanita yang hampir tidak ia kenali.
Wajah yang biasanya pucat karena sering lembur di pabrik tekstil, kini merona kena sapuan kuas perias kampung. Kebaya putih tulang dengan payet sederhana membalut tubuh rampingnya. Di kepalanya, rangkaian melati segar menjuntai, menyebarkan aroma wangi yang kuat. Harusnya menenangkan, tapi entah kenapa saraf di leher Lara justru terasa kaku.
"Tunggu sebentar, Nak. Jangan banyak gerak dulu," suara lembut itu memecah lamunannya.
Ibu mencondongkan tubuhnya yang mulai ringkih. Jemarinya yang kasar—buah dari puluhan tahun mencuci baju tetangga demi biaya sekolah Lara.. begitu telaten merapikan ronce melati yang sedikit miring. Mata Ibu berkaca-kaca. Ada binar kebanggaan yang tulus di sana, jenis kebahagiaan yang jarang sekali muncul di wajah wanita yang sudah kenyang penderitaan itu.
"Ibu..." panggil Lara pelan, suaranya hampir kalah oleh degup jantungnya sendiri.
"Kamu cantik sekali, Nak. Ayahmu... andai dia masih ada, dia pasti menangis melihat putrinya seanggun ini," suara Ibu bergetar. Beliau mengusap bahu Lara dengan gerakan pelan, seolah berat untuk melepaskan. "Setelah ini, kamu bukan lagi milik Ibu seutuhnya. Hidup berumah tangga itu tidak mudah, Lara. Kamu harus sabar. Andre pria yang baik, dia akan menjagamu."
Lara meraih tangan ibunya, menggenggam telapak yang pecah-pecah itu lalu menciumnya lama. "Andre sudah janji, Bu. Setelah menikah, Ibu tidak usah lagi mencuci baju orang. Kami yang akan jaga Ibu. Ibu tidak akan sendirian lagi."
Ibu hanya tersenyum tipis. Sebuah senyuman yang damai tapi sulit dibaca—seperti rasa legah yang terlalu dalam, seolah tugasnya di dunia ini baru saja genap. "Apa pun yang terjadi nanti... apa pun badainya, jangan pernah merasa sendirian, Lara. Ingat itu. Ibu selalu ada di sini, di setiap doamu."
Langkah kaki Lara terasa melayang saat pintu kamar dibuka. Ruang tamu yang semula riuh mendadak hening. Ratusan pasang mata tertuju padanya. Ada yang kagum, ada juga tatapan iri dari beberapa gadis kampung. Namun, bagi Lara, dunianya cuma tertuju pada satu titik: Andre.
Andre duduk di depan meja kayu kecil bertaplak putih. Ia mengenakan baju koko putih dan peci hitam, tampak sangat bersahaja. Pria itu adalah cinta pertama Lara, orang yang menjanjikan masa depan di tengah kemiskinan yang mencekik mereka. Saat mata mereka bertemu, Andre melempar senyum tipis—senyum yang selama tiga tahun ini selalu menjadi tempat Lara pulang.
Namun, andai Lara lebih jeli, ia pasti menyadari ada yang salah. Di balik senyum itu, ada gelisah yang merayap di mata Andre. Ada keringat dingin di pelipisnya meski kipas angin berputar kencang.
"Bisa kita mulai?" suara Pak Penghulu memecah suasana.
Prosesi itu berlangsung khidmat. Paman Lara menjabat tangan Andre dengan mantap. Suasana mendadak sakral. Detak jam dinding tua di ruang tengah seolah berdentum lebih keras dari biasanya.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau, Andre Bin Yusuf, dengan keponakan saya, Lara Binti Harun, dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan perhiasan emas sepuluh gram, dibayar tunai!"
Andre menarik napas panjang. Suaranya sedikit gemetar tapi tegas. "Saya terima nikahnya dan kawinnya Lara Binti Harun dengan mas kawin tersebut, tunai!"
"Sah?" tanya Pak Penghulu ke arah saksi.
"SAH!" seru para tamu serempak.
Gemuruh doa menyusul. Air mata Lara luruh, merusak sedikit riasan di pipinya. Ia merasa beban hidupnya—kemiskinan, hinaan yatim, dan rasa lelah yang koronis—terangkat seketika. Di kepalanya, ia sudah membayangkan hidup sederhana yang bahagia.
Andre meraih jemari Lara untuk menyematkan cincin. Genggamannya panas, terasa licin karena keringat. Saat Lara mencium tangan suaminya, Andre mendekat ke telinga dan membisikkan kalimat yang harusnya jadi janji abadi.
"Sekarang kamu milikku, Lara. Selamanya."
Tapi, kalimat itu tidak pernah benar-benar tuntas menjadi kenangan indah.
BRAKK!
Pintu jati tua itu dihantam keras sampai menabrak dinding semen. Bunyi benturannya memutus doa yang sedang dibacakan Pak Ustadz. Seluruh hadirin tersentak. Beberapa piring berisi kue suguhan jatuh ke lantai.
Semua mata menoleh ke pintu. Di sana berdiri seorang wanita dengan napas memburu. Rambutnya berantakan, basah oleh keringat dan air mata. Gaun bunga-bunganya lusuh dan kotor oleh lumpur di bagian bawah, seolah dia baru saja berlari menembus sawah. Tatapannya liar, menyapu ruangan dengan kemarahan yang meluap, sampai akhirnya matanya yang merah terkunci pada Andre.
"Pernikahan ini tidak boleh terjadi!" teriak wanita itu. Suaranya melengking, menghancurkan kesunyian. "Hentikan semua kegilaan ini!"
Lara merasakan tangan Andre di jemarinya mendadak lemas. Dingin. Seolah nyawa pria itu baru saja ditarik paksa.
"Bika...?" suara Andre nyaris hilang, tapi dalam keheningan itu, nama tersebut terdengar seperti vonis mati.
Wanita bernama Bika itu melangkah maju, menepis tangan tetangga yang mencoba menghalanginya. Ia tidak peduli tatapan orang. Ia terus berjalan sampai berdiri tepat di depan meja akad, di hadapan Lara yang masih mematung dengan melati yang mulai terasa mencekik leher.
"Siapa kamu? Berani-beraninya mengacau di sini!" teriak Paman Lara, wajahnya merah padam.
Bika tertawa sumbang, lebih mirip rintihan daripada ejekan. Ia menatap Lara dengan kebencian yang murni.
"Aku? Kalian ingin tahu siapa aku?" Bika menoleh ke arah kerumunan warga. "Tanya pada pria yang baru saja kalian sebut 'suami' itu! Tanya dia, apa yang dia lakukan di kota setiap akhir pekan!"
Dunia Lara mulai berputar. Ia menatap Andre, memohon agar pria itu berdiri dan mengusir wanita ini. "Andre, katakan sesuatu... siapa dia? Kenapa dia bicara begitu?"
Tapi Andre hanya diam. Ia menunduk dalam-dalam sampai dagunya menyentuh d**a. Bahunya gemetar hebat.
Bika kemudian melakukan gerakan yang menghentikan detak jantung semua orang. Ia meletakkan tangan di atas perutnya yang masih rata. Namun cara ia mengusap perut itu—dengan penuh kepedihan—menjelaskan segalanya.
"Aku hamil, Andre," suara Bika mendadak lirih tapi tajam. "Anak di rahimku ini anakmu! Kamu janji mau tanggung jawab, tapi kamu malah lari ke sini dan nikah sama wanita lain?"
Keheningan setelahnya jauh lebih mengerikan daripada teriakan mana pun.
Bisik-bisik tetangga meledak. "Hamil?" "Anak Andre?" "Jadi Lara nikah sama laki-laki b***t?"
Lara merasa oksigen di sekitarnya habis. Ia menatap Andre dengan pandangan hampa. "Andre... tatap aku. Katakan kalau dia bohong. Katakan ini cuma fitna!" Lara berteriak sampai suaranya pecah.
Andre perlahan mengangkat wajahnya. Tidak ada amarah. Tidak ada pembelaan. Cuma ada rasa bersalah yang pengecut.
"Maafkan aku, Lara... aku... aku tidak bermaksud... Bika, harusnya kita tidak bicara di sini..."
Setiap kata "maaf" dari Andre terasa seperti paku yang dipukul masuk ke jantung Lara. Ia melepaskan tangan Andre seolah tangan itu adalah bara api.
Suasana kacau total. Ibu Lara tiba-tiba memegangi dadanya, wajahnya pucat pasi, napasnya tersengal.
"Keluar! Kalian semua keluar!" Paman Lara mencoba mengusir orang-orang, tapi warga malah semakin merangsek masuk, haus akan drama.
Di tengah kekacauan itu, Bika menatap Lara dengan senyum kemenangan yang pahit. "Kamu lihat, Lara? Gaun putihmu tidak ada artinya. Kamu baru saja menikahi seorang pembohong."
Lara tidak mendengar apa-apa lagi. Telinganya berdenging hebat. Ia melihat ibunya jatuh pingsan di atas tikar pandan baru itu. Ia melihat tetangga yang tadi memujinya kini menatapnya rendah.
Dunia Lara runtuh.
Hal terakhir yang ia rasakan sebelum semuanya gelap adalah aroma melati di kepalanya yang mendadak berubah bau busuk .. bau dari masa depannya yang mati sebelum sempat dilahirkan.