Bab 3

965 Kata
#Abu di Atas Puing Suci Udara panas yang menyesakkan langsung menghantam paru-paru Lara saat ia berlari keluar dari kamar. Bau sangit kayu jati yang terbakar hebat berbaur dengan aroma menyengat kain gorden yang meleleh, membuat matanya terasa sangat perih. Di ruang tengah,lidah api sudah merambat liar seperti makhluk tak kasat mata yang kehilangan kendali, melahap janur kuning yang baru tadi pagi dipasang dengan iringan doa-doa suci. "Ibu! Paman!" Lara berteriak sekuat tenaga hingga suaranya serak, namun suaranya kalah telak oleh deru kayu yang pecah dimakan api. "Lara! Lewat sini, Nak! Cepat!" Paman tiba-tiba muncul dari balik kepulan asap tebal, wajahnya sudah legam terkena jelaga. Pria itu menarik tangan Lara dengan kasar, menyeretnya keluar menuju halaman rumah yang kini riuh oleh teriakan panik para tetangga. Lara jatuh tersungkur di atas rumput kering, batuk hebat hingga dadanya terasa nyeri. Saat ia menoleh ke belakang, rumah kecil yang menyimpan seluruh kenangannya itu kini berubah menjadi obor raksasa di tengah pekatnya malam. "Ibu... Ibu di mana, Paman?!" Pamannya hanya diam terpaku, matanya melotot kosong menatap kobaran api yang kian membubung. "Tadi... tadi Ibu masuk lagi. Katanya ada sesuatu yang ketinggalan." Jantung Lara seolah berhenti berdetak detik itu juga. "Apa?! Lalu kenapa Paman membiarkannya?!" Tanpa berpikir panjang, Lara kembali berlari menuju neraka itu. Baju pengantinnya yang semula putih bersih kini telah berubah menjadi abu-abu kusam dan robek di sana-sini. Namun, saat ia hendak menerjang masuk, tangan-tangan tetangga langsung menahannya dengan kuat. "Lepaskan aku! Ibu ada di dalam! IBUUU!" Di tengah kekacauan itu, sesosok wanita muncul di ambang pintu yang sudah nyaris rubuh. Itu Ibu. Beliau tampak mendekap sebuah kotak kayu kecil—kotak yang berisi surat nikah almarhum Bapak dan lembaran uang hasil keringatnya mencuci selama bertahun-tahun. "Ibu! Ayo lari!" jerit Lara semakin kencang. Ibu mencoba melangkah, namun suara benturan keras membelah udara. Sebuah balok kayu besar yang membara jatuh tepat di depan Ibu. Lidah api dengan cepat menyambar kain kebaya yang dikenakan wanita itu. "LARA! JANGAN MASUK!" teriak Ibu dengan suara melengking. Tubuhnya terpental ke belakang, terjebak di pojok ruang tamu yang kini telah dikepung oleh lautan api. "IBUUUU!" Lara meronta-ronta seperti orang kesurupan, namun Paman dan warga mendekapnya begitu erat, tidak membiarkannya mati konyol ditelan hawa panas. Di balik tirai api yang semakin menebal, Lara sempat menangkap tatapan mata ibunya untuk terakhir kali. Tidak ada ketakutan di sana, yang ada hanyalah kesedihan yang begitu dalam. Bibir Ibu bergerak perlahan tanpa suara, namun Lara tahu apa artinya: Lari, Lara. Kamu harus hidup. BAAAAM! Atap ruang tamu ambruk total. Debu dan percikan api terbang tinggi menembus langit malam. Suara teriakan Lara seketika lenyap, tertelan oleh gemuruh reruntuhan itu. Dunia mendadak menjadi sepi, meskipun orang-orang di sekitarnya masih sibuk berteriak memanggil air. Lara jatuh berlutut. Matanya kosong menatap puing-puing yang masih membara. Di kejauhan, di balik kerumunan orang, ia menangkap bayangan seseorang yang berdiri di bawah pohon mangga. Seorang wanita mengenakan daster bunga-bunga, tangannya menggenggam jeriken kosong. Bika. Wanita itu menunjukkan senyum miring yang sanggup membuat darah membeku, sebelum akhirnya ia menghilang di balik kegelapan kebun. Lara ingin mengejarnya, ingin berteriak menuntut keadilan, namun tubuhnya sudah tidak lagi sanggup menanggung beban itu. Ia pingsan begitu saja di atas tanah, di samping ronce melati yang kini telah hangus menghitam. Tiga Hari Kemudian... Desa ini mulai terasa asing bagi Lara. Ke mana pun ia melangkah, orang-orang akan menatapnya dengan pandangan kasian yang justru terasa mengusik. Ia duduk di bawah pohon kamboja, tepat di depan gundukan tanah merah yang masih basah. Tidak ada nisan mewah, hanya kayu seadanya yang bertuliskan nama ibunya. Lara sudah tidak sanggup lagi menangis. Air matanya seolah telah habis, ikut terbakar bersama rumahnya tiga hari yang lalu. "Lara..." Suara lembut itu memecah kesunyian. Lucy, teman lama yang sudah lama merantau ke kota, berdiri di belakangnya. Penampilannya sangat modis, kontras sekali dengan suasana pemakaman yang suram ini. "Aku turut berduka ya, Lara. Baru dengar kabarnya tadi pagi, aku langsung berangkat ke sini," kata Lucy sambil mengusap bahu Lara dengan lembut. Lara hanya terdiam, memandangi tangannya yang masih kotor oleh tanah. Rumah hancur. Harta tak punya. Ibu telah tiada. Bahkan Paman pun kini enggan berurusan dengannya karena merasa malu akibat skandal Andre dan utang pemakaman yang menumpuk. "Kamu tidak bisa diam di sini terus, Lara. Mulut orang kampung itu sangat kejam. Bika dan Andre... mereka sudah kabur ke kota, mungkin untuk menikah," lanjut Lucy, suaranya pelan namun terasa menusuk tepat di hati Lara. Lara mengepalkan tangannya kuat-kuat. "Aku tidak punya apa-apa lagi, Luc." "Itulah sebabnya aku datang ke sini. Ada lowongan kerja di Thailand sebagai staf admin di perusahaan ekspor-impor. Gajinya sangat besar, Ra. Kamu bisa memulai hidup baru di sana, menabung, lalu kembali lagi ke sini untuk membangun kembali rumah Ibu." Lara menoleh, ada secercah harapan yang muncul di matanya yang sayu. "Thailand? Tapi aku tidak punya paspor, bahkan aku tidak punya uang untuk keberangkatan..." "Sudah, semuanya akan diurus oleh kantor, Ra. Kamu hanya perlu membawa diri saja. Anggaplah ini sebagai jalan dari Tuhan agar kamu bisa keluar dari neraka ini," Lucy tersenyum sangat manis, senyum yang membuat seseorang yang tengah hancur seperti Lara merasa ingin percaya begitu saja. Lara menatap nisan ibunya sekali lagi. "Baiklah. Aku ikut." Dua Hari Kemudian... Perjalanan ini terasa seperti mimpi buruk yang tidak kunjung usai. Setelah menempuh perjalanan udara yang melelahkan dan dilanjutkan dengan perjalanan darat melalui perbatasan yang berliku, Lara mulai merasakan ada sesuatu yang janggal. Mobil van gelap yang mereka tumpangi tidak berhenti di Bangkok. Kendaraan itu justru terus melaju ke arah timur, memasuki kawasan hutan lebat dengan jalanan tanah yang sunyi senyap. "Luc, sebenarnya kita ada di mana? Ini bukan jalan menuju kantor, kan?" tanya Lara, kegelisahan mulai merayap di hatinya. Lucy yang duduk di kursi depan di samping sopir sama sekali tidak menoleh. Ia tampak sibuk dengan ponselnya. "Sabar, Lara. Kantor pusatnya memang sedikit masuk ke dalam supaya pajaknya lebih murah."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN