#Jalan yang Tidak Pernah Kembali
Mobil van itu meluncur membelah kegelapan malam yang terasa begitu pekat. Lampu jalan yang semula berjejer rapi kini semakin jarang terlihat, digantikan oleh bayangan pohon-pohon tinggi di kiri-kanan jalan yang tampak seperti tangan hitam raksasa, siap menyergap siapa pun yang melintas di bawahnya.
Lara meremas ujung bajunya kuat-kuat. Perasaan tidak enak merayap di dadanya, menciptakan sesak yang sulit dijelaskan.
"Lucy..." Lara berujar pelan, suaranya hampir hilang ditelan deru mesin. "Ini bukan jalan menuju Bangkok, kan?"
Tidak ada jawaban. Lucy masih terpaku menatap layar ponselnya. Wajah cewek itu tampak datar begitu datar hingga menciptakan aura dingin yang membuat bulu kuduk Lara berdiri. Ia seolah menatap orang asing, bukan Lucy yang selama ini ia kenal.
"Lucy, aku nanya sama kamu," ulang Lara, kali ini dengan nada yang lebih ditekan.
Lucy akhirnya menoleh. Sebuah senyuman tersungging di bibirnya, namun senyum itu terasa kosong dan matanya tetap sedingin es. "Kamu terlalu banyak berpikir,Ra. Ini hanya jalur tikus supaya kita lebih cepat sampai."
"Cepat sampai ke mana?"
"Ke hidup baru kamu."
Harusnya itu menjadi kalimat penyemangat, namun entah kenapa kalimat itu justru terdengar seperti sebuah vonis akhir di telinga Lara.
Tiba-tiba, mobil itu berhenti mendadak. Di depan sana, bukan gedung kantor yang megah atau hotel yang menyambut mereka. Melainkan sebuah bangunan besar dengan pagar besi tinggi yang dipenuhi karat. Cahaya lampu remang-remang yang kekuningan menyinari tempat itu, membuatnya tampak begitu suram. Tidak ada papan nama, tidak ada tanda-tanda kehidupan normal.
Dua orang pria bertubuh bongsor berdiri di depan gerbang dengan tatapan yang sangat tajam. Pintu van dibuka paksa dari luar, mengeluarkan bunyi engsel yang memilukan.
"Keluar!"
Pria itu berbicara dalam bahasa yang asing, bukan bahasa Indonesia, bukan juga bahasa Thailand yang sempat Lara dengar di bandara tadi.
Lara menoleh ke arah Lucy dengan mata yang dipenuhi kepanikan. "Ini... tempat apa, Luc?"
Lucy turun terlebih dahulu. Saat ia berbalik badan, Lara melihat tatapan yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Tidak ada rasa kasihan, tidak ada kehangatan.
"Mulai sekarang, kamu harus menuruti apa pun kata mereka," ucap Lucy dengan nada datar.
Jantung Lara seolah merosot hingga ke perut. "Lucy...?"
"Aku tidak punya pilihan lain, Ra."
Kalimat itu terasa lebih menyakitkan daripada tamparan fisik mana pun.
"Maksud kamu apa...?"ucap Lara
Lucy tidak menjawab. Salah satu pria tadi langsung menyambar lengan Lara, menariknya dengan sangat kasar hingga ia terseret keluar dari mobil.
"Lepaskan! Lucy! Tolong aku!" Lara menjerit histeris. Namun Lucy hanya diam mematung. Ia tidak bergerak, tidak menolong, bahkan tidak sudi lagi menatap wajah Lara.
"Lucy! Tolongin aku! Kamu janji bakal jagain aku.."
"Bawa dia."
Perintah singkat itu memutuskan segala harapan. Dunia Lara runtuh untuk kedua kalinya dalam hidupnya. Dan kali ini... tidak ada lagi Ibu yang bisa ia panggil namanya.
Gerbang besi itu terbuka perlahan, suaranya berdecit panjang..mirip suara monster yang siap menelan mangsanya bulat-bulat. Dan Lara baru saja melangkah masuk ke sana, tanpa tahu bahwa ia tidak akan pernah keluar sebagai orang yang sama lagi.
Bau pertama yang menyambut Lara bukan bau darah, melainkan sesuatu yang jauh lebih menyesakkan: bau lembap dari kain yang tidak pernah kering, bercampur dengan asap rokok, keringat, dan aroma parfum manis yang sudah membusuk.
DUM!
Pintu besi di belakangnya tertutup dengan dentuman keras. Suara itu tidak hanya mengunci ruangan, tetapi juga mengunci semua harapan di d**a Lara. Tangannya masih dicengkeram erat oleh pria tadi. Jari-jarinya yang kasar dan kuku-kuku yang menghitam seolah menegaskan satu hal: Lara tidak memiliki pilihan untuk melarikan diri.
"Jalan."
Satu kata yang diucapkan dengan nada sedingin es.
Lara melangkah perlahan. Rasanya seperti sedang berjalan di dalam mimpi buruk yang tak kunjung usai. Ia berharap ini hanyalah bunga tidur dan ia akan terbangun kapan saja, namun rasa perih di lengannya benar-benar nyata.
Lorong itu terasa sangat panjang. Lampu neon di langit-langit berkedip-kedip seolah hampir mati. Dindingnya kusam dengan cat yang mengelupas di sana-sini. Lara menelan ludah, ia tidak berani lagi bertanya setelah melihat pengkhianatan di mata Lucy tadi.
Di ujung lorong, terdapat sebuah ruangan besar dengan pintu yang terbuka lebar. Suara-suara dari dalam mulai terdengar—tawa kasar, percakapan dalam bahasa asing, dan... suara isakan seseorang yang diredam. Langkah Lara semakin berat, jantungnya berdegup kencang seolah ingin melompat keluar.
"Masuk!"
Sebuah dorongan keras di punggung membuat Lara nyaris tersungkur. Saat ia berhasil menguasai diri dan menatap sekeliling, ia sadar bahwa dunia yang ia kenal telah benar-benar tamat.
Ruangan itu sangat luas namun terasa begitu pengap. Ada puluhan wanita yang duduk di kursi plastik. Ada yang tertunduk lesu, ada yang memeluk lututnya sendiri, namun semuanya memiliki satu kesamaan: mata mereka telah mati. Tidak ada cahaya kehidupan di sana.
"Ini... apa?" gumam Lara dengan tubuh gemetar. Tidak ada yang memberikan jawaban.
Seorang pria mengenakan kemeja hitam rapi menghampirinya. Rambutnya klimis dan ia mengulas senyum tipis.. sebuah senyuman yang terasa sangat salah di tempat seperti ini.
"Baru?" tanyanya dalam bahasa Indonesia yang terdengar kaku dan berantakan.
Penjaga tadi mengangguk singkat. Pria berkemeja hitam itu memperhatikan Lara dari ujung rambut hingga ujung kaki. Tatapannya begitu lama, seolah sedang menilai kualitas barang dagangan yang baru saja tiba.
"Lumayan."
Satu kata itu sanggup membuat perut Lara mual seketika. "Maksud kalian apa?" Lara akhirnya memberanikan diri untuk bersuara, meski nadanya sangat bergetar. "Ini bukan kantor. Katanya aku akan bekerja..."
"Memang bekerja," potong pria itu dengan nada santai sembari melangkah mendekat. "Aku tidak berbohong. Ini adalah tempat kerja."
Lara menggelengkan kepala dengan cepat. "Tidak. Lucy bilang aku akan menjadi staf admin..."
Pria itu tertawa kecil,suara tawa yang kering dan hambar. "Dan kamu akan menjadi itu."
Tiba-tiba, seorang wanita di pojokan ruangan tertawa hambar. "Semua orang juga dibilangi hal yang sama saat pertama kali datang," gumamnya tanpa menoleh sedikit pun. Wanita itu tampak sangat kurus dengan bekas lebam keunguan di lengannya.
"Staf admin..." lanjutnya lirih. "Benar... admin untuk dosa orang lain."
"Diam!" bentak sang penjaga. Wanita itu langsung tertunduk, sebuah reaksi refleks yang menunjukkan betapa ia sudah terbiasa dengan ancaman.
Lara merasa dunianya benar-benar hancur menjadi puing-puing. "Duduk," perintah pria berkemeja hitam itu.
Lara tetap bergeming di tempatnya. "Aku tidak mau."
Pria itu terdiam sejenak. Ia menatap Lara selama beberapa detik, lalu tiba-tiba...
PLAK!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Lara, membuat kepalanya tersentak ke samping. Dunianya terasa berputar dan telinganya berdenging hebat.
"Di sini," suara pria itu kini berubah menjadi sedingin es, "kamu tidak punya hak untuk mengatakan 'mau' atau 'tidak'. Mengerti?"
Keadaan mendadak senyap. Tidak ada yang berani bergerak. Lara perlahan mengangkat wajahnya. Pipinya terasa panas membara dan matanya mulai berair, namun ia sekuat tenaga menahan air mata itu agar tidak jatuh. Ia menatap pria itu dengan amarah yang mulai membakar di balik rasa takutnya.
"Lucy... menjual aku, ya?" suaranya terdengar serak.
Tidak ada jawaban yang keluar, namun kesunyian di ruangan itu sudah menjadi jawaban yang paling telak bagi Lara.
"Duduk," ulang pria itu lagi.
Kali ini Lara menuruti perintah tersebut. Bukan karena takut, melainkan karena seluruh tenaganya seolah telah tersedot habis. Ia duduk di kursi plastik di antara wanita-wanita lain yang bahkan tidak memedulikan kehadirannya. Di tempat ini, setiap orang hanyalah sebuah angka yang menunggu giliran.
Beberapa menit berlalu, atau mungkin berjam-jam. Waktu seolah membeku di sana. Seorang pria membawa papan catatan mulai memanggil kode satu per satu. Bukan nama asli, melainkan identitas baru yang dingin.
"D-17."
Seorang wanita berdiri dengan tubuh gemetar hebat, lalu dibawa keluar dan tidak perna kembali lagi.
"F-03."
Wanita lainnya menyusul dengan langkah gontai.
Lara menelan ludah dengan susah payah. "Ini... acara apa?" bisiknya pada wanita di sebelahnya.
Wanita itu tidak menoleh sama sekali. "Seleksi."
"Seleksi apa?"
"...Harga."
Kata itu terasa begitu berat dan menghantam d**a Lara. "Tidak mungkin..."
Wanita di sebelahnya akhirnya menoleh sedikit. Matanya benar-benar kosong melompong. "Semua orang di sini awalnya juga mengatakan hal yang sama."
"L-28!"
Suara itu terdengar sangat keras dan lantang. Lara hanya diam, ia belum menyadari bahwa itu adalah kodenya.
"L-28!" ulang pria tadi. Penjaga di belakang Lara langsung menendang bahunya dengan kasar. "Hei! Itu kamu!"
Dunia Lara kembali berputar. Kakinya terasa lemas seperti jely, namun ia dipaksa untuk berdiri. Dengan langkah kaku, ia mengikuti penjaga itu keluar dari ruangan, menuju kegelapan yang jauh lebih dalam.