Bab 5

873 Kata
#Kata-Kata yang Mencuri Nyawa Pagi di tempat itu tidak pernah benar-benar terasa seperti pagi. Tidak ada sinar matahari yang berani menyelip masuk ke celah-celah dinding beton yang dingin. Tidak ada suara ayam berkokok atau aroma masakan rumah yang menggugah selera. Yang ada hanyalah bunyi klik pintu besi yang memicu rasa mual, langkah sepatu bot yang berat,serta suara orang-orang yang hanya tahu cara menggonggongkan perintah. "Bangun," suara itu terdengar sangat datar, tanpa emosi sedikit pun. Lara membuka matanya perlahan. Langit-langit abu-abu yang kusam kembali menyambut penglihatannya. Sempat sedetik ia lupa di mana ia berada, sampai bayangan Lucy, gerbang berkarat, dan pipinya yang masih berdenyut nyeri akibat tamparan kemarin langsung menariknya kembali pada kenyataan yang pahit. "Bangun!" suara itu meninggi, kali ini dibarengi dengan ujung sepatu bot yang menendang kaki Lara dengan kasar. Lara langsung terduduk dengan jantung yang berdegup kencang. Tubuhnya terasa begitu berat. Bukan hanya karena kelelahan fisik, tetapi karena otaknya dipaksa memikirkan nasib yang bahkan belum sanggup ia terima dengan akal sehat. "Cepat. Ini hari pertama kamu,"perintah pria itu lagi. Seharusnya kalimat itu terdengar biasa saja bagi seseorang yang baru mendapatkan pekerjaan. Namun di sini? Kalimat itu terdengar seperti sebuah fonis mati. Lara bersama beberapa wanita lain digiring keluar dari kamar yang pengapnya luar biasa. Mereka melewati lorong yang sama seperti semalam, namun kali ini berbelok ke arah yang berbeda. Area ini jauh lebih terang dan terlihat lebih modern. Saat pintu di ujung lorong terbuka, langkah Lara langsung terhenti. Ruangan di depannya sangat berbeda dengan bagian lain dari gedung ini. Dindingnya putih bersih dengan pencahayaan yang terang benderang. Deretan komputer berjajar rapi di atas meja panjang, lengkap dengan kursi putar yang terlihat empuk. Beberapa orang sudah duduk di sana, mata mereka terpaku menatap layar masing-masing dengan ekspresi kosong. Jika tidak ada penjaga yang membawa senapan di pojokan, tempat ini mungkin sudah terlihat seperti kantor startup di kota besar. Hanya mirip, namun atmosfernya jauh berbeda. "Selamat datang di tempat kerja kalian," suara pria berkemeja hitam kemarin kembali terdengar. Ia berdiri di depan dengan tangan yang dimasukkan ke saku celana. Senyumnya tipis, namun matanya tetap sedingin es. "Di sini, kalian akan bekerja sebagai admin," lanjutnya dengan nada santai. Beberapa wanita di sebelah Lara mulai saling melirik. Ada yang tampak bingung, namun ada juga yang terlihat sedikit lega karena mengira mereka benar-benar akan mendapatkan pekerjaan yang layak. Tapi Lara? Ia justru merasa ada sebuah lubang yang semakin membesar di dalam dadanya. "Pekerjaannya mudah," pria itu berjalan bolak-balik di depan mereka. "Kamu hanya perlu mengobrol dengan orang-orang melalui aplikasi yang sudah kami siapkan. Target kalian hanya satu: buat mereka percaya pada kamu, lalu buat mereka mengirimkan uang." Suasana mendadak menjadi senyap. Otak mereka seolah membutuhkan waktu untuk mencerna maksud dari kalimat mengerikan itu. "Menipu...?" bisik Lara dengan suara yang sangat pelan. Namun, pendengaran pria itu ternyata sangat tajam. Ia menoleh dan menunjukkan senyum miring yang menyebalkan. "Jangan menggunakan bahasa yang kasar seperti itu. Kita hanya membantu mereka mengambil keputusan." Beberapa penjaga di pojokan tertawa hambar. Tidak ada yang lucu bagi Lara. "Duduk!" perintah tegas itu langsung membuat semua orang bergerak dengan kaku. Lara duduk di salah satu kursi kosong. Tangannya terasa begitu dingin saat menyentuh permukaan meja. Di depannya, monitor sudah menyala, menampilkan layar putih dengan kotak obrolan yang masih kosong. Kemudian, seorang pria yang lebih muda berdiri tepat di belakangnya. "Nama kamu sekarang bukan Lara," katanya dengan nada datar. Lara menoleh, alisnya berkerut dalam. "Lalu siapa?" Pria itu mengetik sesuatu dengan cepat. Tidak lama kemudian, muncul sebuah profil di layar. Foto seorang wanita yang sangat cantik dengan senyum manis yang terlihat sempurna. "Nama kamu adalah Alina, usia dua puluh empat tahun. Mulai sekarang, kamu adalah dia," tegas pria itu. Jantung Lara semakin terasa sesak. "Aku tidak bisa.." "Semua orang di sini bukan dirinya sendiri," potong pria itu dengan cepat. Ia terdiam sejenak, lalu menunjuk ke arah pintu keluar ke arah kegelapan yang Lara tahu jauh lebih mengerikan daripada ruangan ini. "Jika kamu tidak menginginkan ini, kami memiliki banyak 'pekerjaan' lain di bagian belakang." Lara terdiam, menatap layar dengan nanar. Foto Alina itu memang sangat cantik, namun terlihat begitu palsu di matanya. "Kamu akan mengobrol dengan pria-pria dari luar negeri. Skripnya sudah tersedia di sini," lanjut pria itu sembari membuka dokumen berisi kalimat-kalimat yang telah disusun dengan rapi. Hai, aku baru di sini. Aku merasa kesepian, maukah kamu menemaniku? Aku sedang membutuhkan sedikit bantuan... Jari-jari Lara gemetaran saat membaca baris demi baris kalimat itu. "Ini salah..." gumamnya lirih. Pria itu menunduk sedikit hingga bibirnya tepat berada di samping telinga Lara. "Yang salah itu dunia, Ra, bukan kamu," bisiknya dengan nada dingin. "Sekarang, mulai." Layar komputer berkedip-kedip. Sebuah notifikasi masuk dari akun bernama Daniel87. Pesan pertamanya begitu sederhana: "Hi". Namun bagi Lara, kata itu terasa begitu berat untuk dibalas. "Balas," perintah suara di belakangnya. Lara tetap bergeming. "BALAS!" suaranya berubah menjadi bentakan yang keras. Lara menarik napas dalam-dalam. Tangannya bergerak dengan sangat pelan di atas keyboard. Huruf demi huruf ia ketikkan sementara hatinya terasa hancur berkeping-keping. "Hai," ia mengetik kata itu lalu berhenti. Jari-jarinya menggantung di udara. Di dalam kepalanya, tiba-tiba terdengar suara ibunya yang lembut: Jangan pernah mengambil apa yang bukan hakmu, Lara. Tangannya langsung ditarik menjauh dari meja. Napasnya mulai pendek karena rasa bersalah yang menyesakkan. "Aku... aku tidak bisa," bisiknya dengan nada bergetar. BRAK!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN