#Cermin yang Retak
Tangan pria di belakangnya menghantam meja dengan sangat keras hingga seisi ruangan menoleh.
"Di sini kamu tidak dibayar untuk berpikir!" gertak pria itu dengan mata yang melotot tajam. Ia menarik kursi Lara dengan kasar hingga gadis itu nyaris terjungkal. "Lihatlah sekelilingmu! Mereka semua dulunya juga mengatakan tidak bisa. Sekarang? Wanita di ujung sana bisa menghasilkan lima ribu dolar dalam sehari!"
Lara menelan ludah dengan susah payah. "Dengan cara merusak hidup orang lain?"
Pria itu menunjukkan senyum tipis yang terasa begitu mengerikan. "Memangnya kamu pikir hidupmu saat ini masih utuh?"
Pertanyaan itu menampar Lara lebih keras daripada apa pun. Ia benar-benar mati kutu.
"Target harian kamu adalah seribu dolar. Itu yang paling kecil," pria itu kembali berdiri tegak. "Jika tidak mencapai target, besok kamu tidak akan duduk di sini lagi. Kamu sudah tahu apa konsekuensinya, kan?"
Lara dipaksa untuk menatap layar kembali. Pesan dari Daniel87 masih ada di sana, menunggu balasan dari seseorang yang ia pikir nyata. Air mata Lara akhirnya jatuh tanpa suara. Tangannya kembali ke atas keyboard, bergerak semakin cepat seolah ingin segera mengakhiri siksaan batin ini.
"Hai, aku baru di sini," pesan itu terkirim.
Satu pesan terkirim. Satu langkah lebih dalam menuju kegelapan. Tidak ada tepuk tangan. Namun di dalam diri Lara, ada sesuatu yang pecah dan hancur total. Ia menyadari satu hal: neraka tidak selalu tentang api yang membara. Kadang-kadang, neraka adalah saat kamu masih bernapas, namun dipaksa untuk menghancurkan orang lain hanya agar bisa bertahan hidup sehari lagi.
***
Jam di dinding ruangan itu tidak pernah berbunyi, namun semua orang tahu persis kapan waktu kerja berakhir. Mereka tidak butuh melihat jam; cukup dengan menatap angka-angka di sudut layar yang seolah sedang menghisap nyawa mereka perlahan-lahan.
"Berhenti."
Satu kata itu pendek, namun mutlak. Seketika, semua jemari berhenti mengetik. Layar monitor masih menyala terang, menampilkan barisan percakapan yang belum tuntas. Ada kalimat yang menggantung, janji-janji manis yang belum ditepati, serta harapan orang di luar sana yang sebentar lagi akan hancur tanpa belas kasihan.
Lara menarik tangannya dari keyboard. Jari-jarinya terasa kaku, matanya perih luar biasa akibat terlalu lama menatap cahaya biru monitor. Namun rasa sakit fisik itu sama sekali tidak sebanding dengan angka yang tertera di sudut layar.
Total: $120.
Angka itu terlihat begitu kecil dan menyedihkan. Tidak sampai seperdelapan dari target yang diminta. d**a Lara mendadak terasa kosong, seolah ada lubang besar yang baru saja menganga di sana.
"Semua berdiri!"
Suara derit kursi terdengar serempak. Lara ikut berdiri, meskipun kakinya terasa gemetar hebat. Pria berkemeja hitam itu berjalan santai di depan barisan, seolah sedang menikmati pemandangan yang ada. Padahal bagi Lara, ini adalah masalah hidup dan mati.
"Aku selalu menyukai hari pertama," katanya enteng sembari menatap wajah mereka satu per satu. "Karena hari pertama akan menunjukkan siapa yang benar-benar bisa bertahan."
Tatapannya berhenti sejenak di wajah Lara. Lara bisa merasakan bulu kuduknya berdiri.
"Sebutkan hasil kalian."
Satu per satu angka disebutkan. Ada yang suaranya terdengar datar, ada pula yang terdengar lega karena merasa telah lolos dari maut.
"980 dolar."
"1.200 dolar."
"750 dolar."
Jantung Lara berdegup semakin kencang, rasanya begitu sesak di dalam d**a.
"L-28," suara itu memanggil kodenya.
Lara menegakkan punggung, berusaha sekuat tenaga menahan bahunya agar tidak gemetar.
"Berapa hasil kamu?" tanya pria itu lagi.
Ruangan mendadak menjadi sunyi senyap. Semua mata kini tertuju ke arah Lara.
"Seratus dua puluh dolar,"jawab Lara lirih, suaranya bergetar hebat.
Tiba-tiba terdengar suara tawa kecil dari beberapa sudut ruangan. Tawa itu tidak kencang, namun cukup untuk membuat pipi Lara memanas karena malu sekaligus takut setengah mati.
"Seratus dua puluh?"pria itu mengulang angka tersebut, seolah tidak percaya. Ia melangkah semakin mendekat ke arah Lara. Tiap bunyi langkah sepatunya di atas lantai marmer terdengar seperti hitungan mundur sebuah bom. "Target kamu berapa?"
Lara terdiam sejenak sebelum menjawab dengan suara serak, "Seribu dolar."
"Dan kamu hanya mendapatkan seratus dua puluh?" pria itu mengangguk pelan, seolah sedang mencatat kegagalan itu di dalam benaknya. "Tahu artinya apa? Artinya kamu tidak berguna sama sekali."
Kalimat itu diucapkan dengan datar, namun rasanya jauh lebih tajam daripada mata pisau mana pun.
"Bukan begitu, aku hanya,," Lara mencoba membela diri.
"Tidak mau melakukannya?" potong pria itu dengan cepat.
Lara menunduk dalam-dalam, tidak sanggup menatap mata pria itu yang setajam es. Pria itu menunjukkan senyum miring yang mengerikan.
"Semua orang di sini memiliki pilihan yang sama, Ra. Dan kamu secara sadar memilih untuk gagal," ia mundur sedikit lalu memberikan kode kepada para penjaga. "Bawa dia."
Dua penjaga langsung menyambar lengan Lara dengan sangat kasar. "Lepaskan! Aku bisa mencobanya lagi besok! Berikan aku kesempatan!" teriak Lara panik.
"Semua orang memang bisa mencoba lagi besok," balas pria itu dengan santai saat melihat Lara diseret menjauh. "Namun hukuman tetap harus berjalan hari ini."
Lara diseret melewati lorong remang-remang sampai akhirnya berhenti di depan sebuah pintu logam yang sangat tebal. Penjaga membuka pintu itu dengan kasar.
"Masuk!"
Lara didorong hingga terjatuh ke atas lantai yang terasa dingin membeku. Klik. Pintu langsung terkunci. Di dalam sana gelap total. Lara terpaku di tempatnya, ia tidak bisa melihat apa-apa. Tangannya meraba-raba udara, namun hanya menemukan dinding yang sempit dan dingin.
"Tempat apa ini...?" bisiknya dengan tubuh gemetar.
Beberapa menit berlalu dalam kegelapan yang sanggup membuat seseorang gila, sampai akhirnya terdengar suara dari pengeras suara di pojok atas ruangan.
"Selamat datang di ruang refleksi," suara pria tadi kembali terdengar. Tetap tenang, tetap dingin. "Di sini, kamu akan belajar bagaimana cara untuk bertahan hidup."
Lampu kecil menyala redup, cukup untuk menunjukkan isi ruangan yang ternyata hanya terdiri dari tembok kosong dengan satu cermin besar di hadapan Lara. Namun itu bukan cermin biasa. Kacanya tampak sedikit buram, membuat bayangan Lara terlihat aneh dan terdistorsi.
"Lihatlah diri kamu baik-baik," suara itu bergema lagi. "Ini adalah sosok yang tadi kamu coba lindungi dengan moralitas kamu yang tidak berguna itu."
Lara mengepalkan tangannya kuat-kuat. "Aku tidak salah..."
"Masa?" suara itu semakin menekan.
Tiba-tiba, sebuah layar kecil di samping cermin menyala terang. Layar itu menampilkan rekaman percakapan Lara dengan Daniel87 tadi siang. Pesan demi pesan muncul kembali, menunjukkan bagaimana Daniel mulai menaruh kepercayaan padanya.
"Ini adalah kamu," kata suara itu.
"Bukan, itu bukan aku!" bantah Lara, nafasnya mulai tidak teratur.
"Dia percaya pada kamu, dia mulai menceritakan segalanya, dan kamu malah berhenti tepat saat mangsa kamu sudah berada di depan mata." Layar itu berganti menampilkan foto Daniel87, seorang pria biasa yang tengah tersenyum tulus. "Dia memiliki keluarga, dia memiliki hidup. Dan kamu justru memilih untuk tidak menyelamatkan diri kamu sendiri."
Lara menutup telinganya dengan kedua tangan. "Cukup! Diam!"
"Kenapa? Karena kamu merasa bersalah?" suara itu semakin mengejar. "Lihatlah posisi kamu sekarang. Memangnya dunia peduli pada kamu? Dunia tidak menyelamatkan kamu saat diculik. Dunia tidak menyelamatkan nyawa ibu kamu. Dunia justru membiarkan kamu dijual di sini. Lalu sekarang,kamu masih ingin sok suci?"
Air mata Lara kembali jatuh, namun kali ini rasanya jauh lebih perih.
"Jika kamu tidak mengambil uang mereka, kamu akan kehilangan segalanya lagi," suara itu terdengar pelan, namun menekankan setiap katanya.
Keheningan melanda untuk waktu yang lama. Lara menatap bayangannya sendiri di cermin yang retak itu. "Aku tidak mau menjadi seperti mereka..." suaranya pecah.
"Terlambat," jawab suara itu dengan cepat. "Kamu sudah menjadi bagian dari kegelapan ini sejak pertama kali kamu menginjakkan kaki di sini."
Lampu mendadak mati. Lara kembali sendirian di dalam kegelapan total.
"Kamu punya dua pilihan untuk besok. Mencapai target kamu, atau kamu akan dipindahkan ke tempat yang jauh lebih hancur daripada ini."