"Saya juga tidak tahu apa yang akan di bahas oleh Tuan Kiandra," jawab Dewi.
"Ya sudah kalau begitu tidak apa-apa. Terima kasih, Wi. Aku dan Kyra akan segera kesana," ucap Kaivan.
Dewi mengangguk dan pamit keluar. Kaivan menatap Kyra yang terlihat gelisah, Kyra menyisir rambutnya. Namun, pandanganya kosong menatap pantulan wajahnya di cermin.
"Sini aku bantu sisir rambut kamu!" Kaivan mengambil alih sisir dari Kyra, lalu perlahan menyisir rambut panjang istrinya itu.
"Mau diikat atau di biarkan terurai?"
"Ikat."
Kaivan pun meraih sebuah ikat rambut, perlahan mengikat rambut sang istri, setelah selesai dia menyimpan sisir di atas meja rias.
"Sudah cantik, rapi, ayo kita sarapan bersama om dan tante kamu!"
"Tidak mau, kita sarapan di kamar saja!" tolak Kyra.
"Lho kenapa? tadi kamu dengar kan, Dewi bilang om dan tante kamu menunggu ingin sarapan bersama."
Kyra terdiam dia berpikir alasan apa yang tepat untuk menolak ajakan Kaivan, walau bagaimanapun dia belum siap jika ibu tirinya dan Kaivan mengetahui segala sandiwaranya selama ini.
"Kyra, ayo. Kasihan om dan tante kamu, dia sudah menyempatkan waktu untuk menemui kamu. Hal itu harus di hargai, Kyra!"
"Tidak mau, om Kian mirip papah. Aku sedih karena papa sekarang gak mau ketemu aku lagi," ucap Kyra dengan wajah yang dibuat sedih.
Kaivan menghela nafas, tertipu dengan akting Kyra. Namun, dia terus membujuk Kyra, Kyra yang kesal akhirnya melemparkan sesuatu di atas meja rias. Tak terduga apa yang di lemparkan Kyra mengenai kening Kaivan.
"Kyra, kamu tidak boleh melempar barang seperti itu, berbahaya! untung hanya terkena keningku, bagaiman kalau terkena bagian lain," ucap Kaivan.
"Aku gak mau, jangan paksa aku sarapan sama om Kian," ucap Kyra.
Kaivan menghela nafas terus memandangi Kyra yang terus menunduk meremas ujung bajunya.
"Ya sudah kalau begitu, nanti aku minta Dewi temani kamu sarapan di sini. Aku akan menemui om dan tante kamu, sarapan bersama mereka karena menghargai kedatangan mereka. Tapi, sebelum aku pergi dari kamar ini kamu harus di hukum dulu.".
"Hukum?"
"Ya, karena kamu tidak menurut jadi harus di hukum. Hukuman kamu harus cium pipi dan keningku 100 kali."
Kyra melebarkan bola matanya mendengar ucapan Kaivan, tentu saja dia tidak mau jika harus mencium Kaivan. Dia juga takut jika Kaivan berbincang dengan om nya, nanti bisa saja om Kian akan lebih leluasa menceritakan tentang dirinya.
"Tidak mau cium, aku mau ikut makan sama om dan tante."
Kaivan tersenyum kini mendapat senjata baru untuk mengancam Kyra agar gadis itu mau menuruti ucapannya, mereka pun keluar kamar. Seperti biasa Kaivan menggenggam tangan Kyra hingga sampai di dekat ruang makan. Kiandra dan istrinya tersenyum melihat Kaivan menggenggam tangan Kyra.
"Kai, kenalkan ini Kiandra om nya Kyra dan itu ambar istrinya," ucap Zaina.
Kaivan tersenyum lalu menyalami kedua orang yang baru saja di kenalkan padanya. Ambar tersenyum melihat adab yang di tunjukan oleh Kaivan, di jaman modern ini jarang sekali anak muda yang mengedepankan adab dan sopan santun di depan orang tua.
"Ayo kita sarapan bersama," ucap Zaina.
Semua orang mengangguk. Saat yang lain sibuk dengan makanan masing-masing, Kaivan justru sibuk mengurus sarapan Kyra.
"Kai, dia bisa ambil makanan yang ia mau sendiri. Jangan terus kamu manjakan," ucap Zaina.
"Tidak apa-apa, Nyonya. Saya senang melakukan hal ini untuk Kyra," ucap Kaivan.
Kyra tersenyum tipis lalu memandang Zaina dengan tajam, setelah itu menikmati makanan di hadapannya. Setelah memastikan Kyra menyukai dan menikmati makanannya barulah Kaivan mengambil makanan untuknya. Selesai makan Kiandra mengungkapkan niatnya datang ke rumah tersebut.
"Kyra, apa kabar? Maaf ya om dan tante baru datang menjenguk mu. Bahkan saat kamu menikah om tidak datang karena tidak tahu," ucap Kiandra.
"Nenek lampir paksa aku menikah!" ucap Kyra menunjuk Zaina.
Zaina melebarkan bola matanya, dia melupakan paman Kyra tersebut. Dia belum menyiapkan alasan mengapa tidak memberitahukan Kiandra tentang pernikahan Kyra.
"Maaf, saya terpaksa melakukan itu. Karena Kyra harus ada yang melindungi, selama ini dengan keadaanya yang seperti ini banyak lelaki yang hampir melecehkannya. Maka dari itu saya mencari orang untuk menjadi suami sekaligus pelindung Kyra," jawab Zaina.
Kyra mencebikkan bibirnya mendengar ucapan Zaina. Semua yang di katakan pasti hanya bualan, jelas-jelas dia membayar Kaivan untuk menikahinya agar mudah saat proses pengesahan harta warisan dari Gandana nanti.
"Jadi begitu alasannya. Semoga Kaivan benar-benar bisa menjadi suami yang baik dan melindungi Kyra, ya! Kyra sebenarnya anak baik, dia seperti ini karena kehilangan orang-orang yang dia sayang. Mungkin dengan kehadiran Kaivan bisa Membuat Kyra kembali seperti dulu," ucap Kiandra.
"Aamiin ... Semoga itu semua terwujud. Saya juga selalu berdoa seperti itu setiap hari," ucap Kaivan.
Kiandra mengangguk dan tersenyum menatap Kaivan, sementara Zaina dengan ekspresi datar seolah malas menanggapi ucapan Kiandra yang menurutnya tidak penting.
"Karena Kyra sudah menikah, menurut saya lebih baik Kyra tinggal terpisah dengan kamu Zaina," ucap Kiandra.
"Lho, kenapa seperti itu, Mas Kian?" tanya Zaina terkejut.
"Kewajiban dan tanggung jawab orang tua untuk mengurus dan mendidik anak berpindah kepada suami jika anak itu sudah menikah. Jangankan kamu hanya ibu tiri, aku juga punya anak kandung wanita. Andai Dita menikah nanti pasti semua tanggung jawabku berpindah pada suaminya Dita," ucap Kiandra.
Zaina meneguk air putih di gelas, tidak pernah terpikir olehnya sampai ke arah sana. Tentu saja Zaina tidak akan melepaskan Kyra sebelum rencana untuk menguasai harta warisan itu berhasil dia dapatkan. Dia berpikir alasan apa yang bisa dia pakai untuk menahan Kyra agar tidak keluar dari rumah itu. Setidaknya sampai ulang tahun yang ke dua puluh dua, dan Zaina mendapat tanda tangan juga cap jari milik Kyra.
"Oh jadi seperti itu ya, Mas Kian. Tapi aku akan kesepian kalau tidak ada Kyra di sini, lagipula mereka kan belum punya rumah pribadi," ucap Zaina dengan mimik wajah yang di buat sedih.
Ambar menghela nafas, muak mendengar Zaina menyebut nama suaminya dengan lembut. Mengingat dulu pernah memergoki wanita itu menggoda suaminya. Beruntung Kiandra lelaki setia sehingga tak tergoda oleh Zaina, tidak seperti Kalindra yang tergoda dengan rayuan wanita gatal itu.
"Mbak Zaina tidak perlu khawatir, masalah rumah untuk Kyra dan suaminya sudah kami siapkan. Karena pada saat pernikahan Kyra kami tidak tahu, jadi anggap saja rumah ini hadiah pernikahan untuk mereka," ucap Ambar.
"Tapi apa Mas kian dan Mbak Ambar tidak merasa kasihan pada saya, kalau Kyra dibawa pergi suaminya pasti saya kesepian," ucap Zaina.
"Itu resiko sebagai orang tua, Mbak. Setelah anak menikah pasti sibuk dengan keluarga kecilnya, kita tinggal menikmati masa tua dengan suami. Mbak bisa menikah lagi kan, Mbak masih muda," ucap Ambar.
"Itu ...." ucapan Zaina menggantung tidak berniat melanjutkan saat melihat Ambar tersenyum dengan tatapan mengejek padanya. Zaina tahu Ambar sejak dulu tidak menyukainya, bahkan Ambar yang ikut membantu Rani dulu melabraknya saat dia masih jadi simpanan Kalindra.
"Kapan Kyra dan Kaivan akan menempati rumah baru mereka, dan dimana mereka tinggal?" tanya Zaina.
"Tidak sekarang, mungkin tiga bulan lagi setelah ulang tahun Kyra yang ke dua puluh dua. Mereka akan tinggal satu kompleks dengan kami," ucap Kiandra.
Zaina mengangguk, masih ada waktu untuk merencanakan ulang bagaimana mendapatkan semuanya. Kaivan menatap Kyra yang diam tanpa ekspresi lalu menatap Kiandra.
"Om, maaf saya ingin bertanya, memangnya kapan ulang tahun Kyra. Maaf karena saya belum mengetahuinya," ucap Kaivan.
Kiandra pun memberi tahu Kaivan tanggal ulang tahun Kyra, Kaivan mengangguk dan berencana memberikan sesuatu yang berkesan untuk istrinya itu.
Setelah obrolan itu selesai Zaina pamit karena ada pekerjaan di luar, sementara Kyra di bawa ke kamar Kyra oleh Ambar dan Kiandra berbincang dengan Kaivan.
"Suamimu tampan ternyata, Ra. Pacarnya Dita kalah tampan lho," ucap Ambar.
"CK ... Percuma tampan kalau hanya lelaki bayaran, Tante Ambar," ucap Kyra.
"Tante dengar alasan dia menerima bayaran itu karena neneknya, dia tak ingin neneknya sedih dan kecewa karena hampir kehilangan rumah dan toko kelontong peninggalan kakeknya."
"Ya bisa jadi dia punya alasan lain, jangan terlalu membanggakan dia lah. Kita belum kenal jauh seperti apa dia."
"Ya, Tante setuju dengan ucapan kamu kali ini. Tapi jawab jujur deh selama beberapa hari kamu menikah sama dia sudah ngapain aja sama dia?"
"Ngapain, gak ngapa-ngapain Tante.
"Masa sih, kalian tidur satu kamar, kan?" tanya Ambar.
Kyra menjawab pertanyaan Ambar dengan anggukan kepala, Ambar tersenyum lalu bertanya kembali kepada Kyra dengan lebih antusias.
"Nah selama tidur ngapain aja, kamu sudah di unboxing belum?"
"Ih Tante, emangnya aku paket yang dikirim pihak ekspedisi, pake di unboxing segala."
Ambar terkekeh karena Kyra tidak mengerti istilah yang di ucapkan olehnya, sementara Kyra merasa aneh pada tantenya karena menertawakan hal yang menurutnya tidak lucu.
"Kamu gak ngerti unboxing versi pengantin baru ya, maksudnya kamu dan Kaivan sudah belah duren belum, malam pertama, making love gitu?!"
Kyra melebarkan bola matanya mendengar ucapan tantenya. Benar-benar hal yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya melakukan hal itu dengan Kaivan.
Sementara di sisi lain Kiandra mengajak bicara Kaivan.
"Kalau kamu ingin tahu tentang Kyra lebih banyak boleh tanya pada saya," ucap Kian.
"Terima kasih, Om. Sebelumnya saya juga sudah bertanya pada Mbok Rah tentang masa kecil Kyra," ucap Kaivan.
"Sebenarnya saya kesini memang ingin bertemu langsung denganmu, dan ingin memberi sedikit informasi penting."
"Informasi penting tentang apa, Om?" tanya Kaivan.