"Kaivan, kamu di sini juga, siapa dia?"
"Ya, ini kan tempat umum siapapun boleh berada di sini," jawab Kaivan.
Orang yang bertanya kepada Kaivan itu terus menatap Kaivan yang menggenggam tangan Kyra. Sementara Kyra menatap orang itu dengan tatapan tajam seolah tidak menyukai kehadiran orang tersebut.
"Siapa dia, Van?" lagi-lagi orang itu bertanya.
Saat Kaivan hendak menjawab pertanyaan orang itu, tiba-tiba datang seorang lelaki dan menarik tangan orang itu.
"Aletha, kamu di sini. Aku cari kemana-mana rupanya kamu bicara dengan dia, kamu masih ada hubungan dengan dia?" lelaki itu menunjuk Kaivan.
"Maaf, saya sudah tidak ada hubungan dengan istri anda karena saya kesini datang dengan istri saya, dan kita bertemu tak sengaja," jawab Kaivan menepis ucapan lelaki itu.
Aletha melebarkan bola matanya mendengar jawaban Kaivan, dia menatap wanita cantik yang kini dalam rangkulan Kaivan. Belum pernah dia melihat wanita itu sebelumnya dan dia juga tidak mendengar kabar Kaivan yang sudah menikah.
"Istri, kapan kau menikah, Van. Pasti kau berbohong?!" ucap Aletha tak percaya.
"Aku tidak berbohong, dia memang istriku. Yang tahu kapan aku menikah hanya Ardi!"
Aletha menggelengkan kepala masih tidak percaya dan terus memandangi Kyra, sementara lelaki yang merupakan suami Aletha merasa kesal dengan respon istrinya.
"Memangnya kenapa kalau dia istrinya Kaivan. Kau keberatan, Aletha? Kau masih mengharapkan Kaivan?" tanya Soni.
Aletha gelagapan di tanya seperti itu oleh sang suami. Jelas dia keberatan jika ada wanita lain yang menjadi istri Kaivan, karena dia masih sangat mencintai Kaivan. Namun, tidak mungkin mengatakan hal itu kepada sang suami, pasti akan menjadi perang dunia jika itu dia lakukan.
"Tidak, Mas. Aku hanya tidak percaya karena selama ini tidak pernah mendengar Kaivan dekat dengan wanita manapun."
"Lagi pula sudah bukan urusanmu, Kaivan mau dekat dengan wanita manapun atau menikah dengan wanita manapun karena kau hanya mantan kekasihnya Kaivan!" ucap Soni lalu menarik kasar tangan Aletha.
Kaivan menghela nafas menatap kepergian Aletha yang ditarik paksa oleh sang suami. Dari cara suaminya bertanya dan memperlakukan Aletha dengan kasar tadi, jelas suaminya tidak tulus menyayangi Aletha. Namun, Kaivan tidak boleh memikirkannya lagi karen Aletha hanya masa lalu untuknya.
Melihat Kaivan yang masih menatap kepergian mantan kekasihnya itu membuat Kyra kesal, entah mengapa ada rasa tidak suka melihat Kaivan yang seolah mengkhawatirkan perempuan lain.
Kyra mencoba melepaskan genggaman tangannya dari Kaivan, tetapi Kaivan menyadari hal itu dan menatap Kyra.
"Jangan di lepas, kamu mau kemana?"
"Pulang, aku mau pulang aja."
"Ini masih sore, kita masih bisa berjalan-jalan sebentar lagi."
"Aku mau pulang sekarang!"
"Eh ... Itu ada permen kapas kamu mau gak?" tanya Kaivan menunjuk pedagang permen kapas yang baru datang dengan sepedanya.
Kyra mencebikkan bibir mendengar Kaivan berbicara, seakan-akan menyamakan Kyra dengan anak-anak yang bisa dibujuk dengan permen kapas. Kaivan membawa Kyra berjalan menuju penjual permen kapas tersebut walau dengan wajah Kyra yang masih di tekuk.
"Bang, mau permen kapasnya dua ya!" ucap Kaivan.
Pedagang itu memberikan dua permen kapas pada Kaivan, setelah Kaivan membayar dia pun memberikan 1 untuk Kyra, lalu kembali menggandeng Kyra dan mereka duduk di kursi taman.
"Kyra, apa kamu punya cerita masa kecil yang kamu ingat dengan permen kapas?" tanya Kaivan.
Kyra menggelengkan kepala nya. Begitu banyak kenangan indah bersama sang ibu saat dia masih kecil dulu, tapi rasanya tak ada kenangan dengan permen kapas.
"Dulu saat aku masih kecil, ayah jualan permen kapas. dia bisa membuat permen kapas menjadi indah dengan berbagai macam bentuk, ayah bilang itu salah satu bentuk karya seni," Kaivan tiba-tiba bercerita tentang ayahnya dan membuat Kyra terdiam.
Lelaki tampan itu membuka bungkus dari permen kapas itu, meminta Kyra untuk memakannya. Namun, Kyra ragu karena dia tidak terlalu menyukai makanan yang di gemari anak-anak itu.
"Makanlah dan lihatlah bintang-bintang di langit sana. Dari ribuan bintang yang berkilau, ada satu bintang yang paling terang. Nenek pernah memberikan nasehat, siapapun aku, dari mana asalku, aku harus jadi bintang paling bersinar. Jika tidak untuk orang lain setidaknya bisa bersinar untuk hidupku sendiri meski berdiri di dalam gelapnya dunia." ucap Kaivan seraya menunjuk langit
Kyra menatap bintang-bintang di langit sesuai dengan yang ditunjuk Kaivan, ada rasa damai hingga tidak sadar dia memakan permen kapas yang tadi dia pegang.
"Kyra, kau juga harus jadi bintang paling bersinar. Untuk hidupmu sendiri, menerangi jalan hidupmu yang mungkin sekarang terasa gelap."
Kyra mengangguk, dia masih menatap bintang-bintang yang bertaburan di langit sambil memakan permen kapas, Kaivan tersenyum melihat Kyra yang terlihat sangat tenang. Lelaki tampan itu membelai rambut Kyra dan di selipkan di belakang telinganya hingga dia bisa menatap cantiknya wajah sang istri tanpa penghalang.
"Kyra, siapa orang yang paling bersinar di ingatan kamu?"
"Mamah," jawab Kyra.
"Kenapa, sepertinya mamah paling spesial buat kamu?"
"Karena cuma mamah yang sayang tulus sama aku, cuma mamah yang mau mendengar semua cerita aku, cuma mamah yang gak pernah lelah menuruti keinginan aku. Akan tetapi, mamah sudah menjadi bintang di langit yang jauh dariku sekarang."
Kaivan tersenyum, dia senang Kyra mulai mau berbicara banyak dengannya. Setelah permen kapas itu habis Kyra bangkit dari duduk dan meminta pulang lagi. Kaivan pun akhirnya menuruti keinginan Kyra, mereka kembali berjalan menuju rumah mewah milik Kyra. Tanpa mereka sadari sejak tadi Kiandra memperhatikan mereka dari kejauhan.
"Kyra, mulai sekarang aku akan jadi orang yang tulus menyayangi kamu, jadi tempat cerita kamu, dan orang yang tak akan lelah menuruti permintaan kamu!"
Kyra tersenyum mendengar ucapan Kaivan, ada rasa haru. Namun, dia tutupi sebab dia tidak ingin mudah percaya dengan kata-kata manis yang mungkin saja hanya sebuah kepalsuan.
Setelah sampai di rumah dan mereka hendak tidur Kyra kembali berulah. Namun, bukannya marah Kaivan hanya menggelengkan kepala.
"Kenapa kamu melakukan ini?"
Kyra berpura-pura ketakutan dan mengeluarkan air mata palsunya, dia sengaja menguji kesabaran Kaivan.
"Huhuhu ... Mamah, Kyra mau mamah aja, gak ada yang mau nurutin maunya Kyra selain mamah," ucap Kyra mengucek matanya seperti anak kecil.
Kaivan menghela nafasnya mengingat ucapannya yang baru dia ucapkan beberapa jam tadi. "Memangnya kamu mau apa, bilang jangan mengotori kasur seperti ini!"
Kaivan mengelengkan kepalanya melihat kasur yang biasa di tiduri nya kotor karena ditaburi bedak dan eye shadow yang sudah dihancurkan. Sementara bagian tempat tidur Kyra masih bersih.
"Kyra gak mau tidur berdua, Kyra mau tidur sendiri!"
"Kalau gitu gak perlu kotori tempat tidurnya. Aku bisa tidur di sofa."
Kyra pura-pura menghapus air matanya. Dia tersenyum dalam hati kegirangan karena malam ini tidak tidur dekat dengan lelaki itu lagi. Karena setiap kali sadar dia tidur satu ranjang dengan lelaki itu jantung Kyra berdebar tidak karuan.
Dengan sangat sabar Kaivan membersihkan tempat tidur, mengganti seprai yang kotor dengan yang bersih, lalu membawa bantal dan selimut hingga dia tertidur di sofa. Namun, sebelum tidur Kaivan tetap membacakan ayat-ayat ruqyah terlebih dahulu.
"Dia pikir aku benar-benar gila, dan akan sembuh setelah setiap malam di bacakan surat itu olehnya," gumam Kyra dalam hati.
Kyra memejamkan mata, tapi bayangan saat mereka berjalan bergandengan tangan di taman kembali melayang di ingatannya. Dia juga mengingat wanita yang tiba-tiba mendatangi mereka tadi hingga ia membuka mata kembali.
"Ah ... Sial, kenapa aku kesal mengingat wajah wanita tadi," gumam Kyra dalam hati.
Kyra menatap Kaivan yang sedang duduk sambil membaca ayat-ayat Alquran. Wajah lelaki itu sangat damai membuat Kyra tidak sadar terus memandanginya.
"Kaivan, belum pernah ada seorang lelaki yang memperlakukanku dengan lembut seperti ini. Apalagi setelah aku berpura-pura gila, bahkan banyak yang mencemooh ku terang-terangan di hadapanku. Mereka pikir aku tidak akan marah karena aku gila, mereka tidak tahu aku berpura-pura. Tapi kenapa kamu berbeda, apa kamu benar-benar memiliki hati yang tulus seperti yang di katakan orang-orang terdekatku?" gumam Kyra dalam hati.
Lama memandang Kaivan dan mendengar suara merdu lelaki itu, hingga membuat Kyra lama-lama terpejam dan terlelap dalam mimpi indahnya.
Hingga pagi tiba dia kembali di bangunkan oleh suara merdu Kaivan yang mengaji di atas sajadah.
"Dia pasti sudah salat subuh," gumam Kyra.
Wanita itu berjalan memasuki kamar mandi dan langsung memutuskan untuk mandi, setelah mandi seperti biasa dia melihat tumpukan baju di atas kasur yang sudah rapi. Kaivan pasti telah membereskan dan menyiapkan baju ganti untuk nya, tanpa bertanya lagi kyra pun menggunakan baju tersebut.
Tok
Tok
Tok
"Masuk," ucap Kaivan.
"Tuan Kaivan, Nona Kyra. Maaf hari ini saya tidak bisa membawakan sarapan Tuan dan Nona ke kamar ini," ucap Dewi.
"Memangnya kenapa, Wi?"
"Nenek lampir marah, aku gak boleh sarapan?" tanya Kyra.
"Bukan begitu, Nona?" jawab Dewi.
"Lalu kenapa?" tanya Kaivan.
Kaivan pun sempat berpikir sama seperti kyra saat Dewi mengatakan tidak bisa membawakan makanan ke kamar mereka. Namun, belum sempat Kaivan bertanya alasannya, Kyra lebih dulu bertanya.
"Ada tuan Kiandra dan istrinya menunggu di ruang makan. Mereka ingin sarapan bersama dan ingin membahas sesuatu yang penting tentang Nona Kyra katanya," ucap Dewi.
Deg ...
Jantung Kyra tiba-tiba berdebar kencang mendengar om dan tantenya datang. Kyra menerka-nerka apa hal penting yang akan di bahas oleh om dan tantenya. Ia belum siap seandainya om dan tantenya mengatakan fakta tentang Kyra yang hanya berpura-pura gila kepada Kaivan. Ia juga takut untuk mengetahui reaksi Kaivan dan Zaina setelah mengetahui semuanya.
"Kira-kira om dan tantenya Kyra mau membahas tentang apa ya, Wi?" tanya Kaivan.