"Kenapa aku tidak boleh menyimpan benda ini, bukankah ini ditemukan dekat jasad mamaku?!"
"Aku membawa benda itu diam-diam dari ruang kerja papaku, kalau ketahuan oleh papaku bisa berabe."
"Jadi, benda ini tetap akan di simpan oleh om Kian?"
Daniel mengangguk, lalu menarik kembali benda yang sedang dipegang oleh Kyra. Setelah memasukkan benda itu ke saku, dia memberikan sebuah kotak kepada sepupunya itu.
"Apa ini?" tanya Kyra saat lihat benda yang diberikan oleh Daniel kepadanya.
"Hadiah untuk pernikahanmu, karena saat resepsi aku tidak datang."
"Gak perlu kamu beri hadiah, pernikahan itu bukan pernikahan sungguhan. Dia menikahiku karena di bayar oleh nenek lampir itu!"
Kyra menyeruput cappucino float seraya membayangkan wajah tampan lelaki yang sudah beberapa malam menemani tidurnya. Daniel tersenyum melihat sepupunya yang terlihat sedang melamun.
"Dia tampan?" tanya Daniel seraya tersenyum menatap Kyra.
"Biasa saja," jawab Kyra ketus.
"Lebih tampan siapa, dia atau aku?" tanya Daniel menggoda.
Kyra menatap Daniel dan mencebikkan bibirnya. Sebenarnya dulu Kyra dan Daniel memiliki sifat yang hampir sama sejak kecil. Hangat dan senang bercanda juga menggoda orang, tetapi Kyra berubah setelah sang mama meninggal. Kyra menjadi tertutup, pendiam, tidak suka berteman apalagi setelah beberapa kali berteman dan pacaran dengan orang-orang yang hanya memanfaatkan saja.
"Kau dan dia sama, tidak tampan sama sekali."
"Papa bilang, dia lelaki baik dan pantas untuk kamu."
"Papa mu berlebihan, mana ada lelaki baik yang bekerja di club' malam!"
"Jangan menilai orang dari pekerjaan, dia di sana bekerja sebagai pelayan kan! Yang bekerja di perkantoran, memakai dasi, jas, dan baju rapi saja belum tentu orang baik. Justru bisa jadi mereka orang yang tidak baik yang dengan mudah memakan uang yang bukan miliknya, koruptor!" ucap Daniel membeberkan fakta yang dia tahu.
"Aku datang kesini bukan untuk mendengar ceramah mu, Daniel. Sudahlah jika tak ada hal penting lagi yang ingin kau sampaikan lebih baik aku pulang!"
"Ra, jaman sekarang susah cari lelaki yang tulus. Rata-rata semua modus."
"Ya termasuk kamu!" Kyra menunjuk Daniel dengan telunjuknya.
"Aku bukan lelaki modus, justru para wanita yang modus kepadaku. Tapi aku serius, Ra. Jika suamimu orang yang tulus maka jangan sia-siakan dia!"
Kyra mendengus mendengar ucapan Daniel, dia menyeruput cappucino float lalu berdiri dan melirik j2 mengisyaratkan mereka akan pulang. Daniel hanya mengangguk tidak lagi bisa menahan Kyra. Namun, tetap memaksa Kyra untuk menerima hadiah pernikahan yang dia berikan. Sebenarnya sejak lama mamanya Daniel meminta anaknya untuk menghibur Kyra, agar Kyra tidak berlarut dalam kesedihan setelah di tinggal papanya. Akan tetapi, Kyra malah berperan pura-pura gila dan mengurung diri di rumah sehingga Daniel tidak bisa menuruti apa yang di minta mama nya.
Sepanjang perjalanan pulang Kyra terus melamun, gadis berwajah cantik itu mengingat benda yang baru saja dia lihat. Benda itu terlihat familiar di matanya tapi dia lupa di mana pernah melihat benda seperti itu sebelumnya.
"Kita sudah sampai, Nona." J2 membukakan pintu mobil untuk Kyra.
Kyra keluar dari mobil dan melangkah masuk ke pintu rahasia yang menghubungkan garasi belakang rumah dengan kamarnya. Setelah sampai kamar ia langsung membersihkan diri di kamar mandi, cukup lama berendam di dalam bath up untuk menjernihkan pikirannya.
Saat sedang menikmati air hangat di dalam bathtub yang di beri aroma Jasmine oil, tiba-tiba pintu kamar mandinya ada yang mengetuk.
"Kyra, kamu ada di dalam?"
Kyra melebarkan bola matanya mendengar suara bariton yang menanyakan keberadaan dirinya. Suara itu milik lelaki berwajah tampan yang tak lain adalah suaminya.
"Astaga jam berapa ini, aku terlalu asik berendam hingga tak mengingat waktu. Kenapa Kaivan cepat sekali pulang!" ucap Kyra panik.
Dia bergegas membersihkan tubuhnya dengan air mengalir, lalu memakai handuk kimono dan berjalan ke luar kamar mandi. Kaivan tersenyum memandang wajah sang istri yang terlihat segar setelah mandi. Aroma Jasmine oil masih menempel pada kulit mulus Kyra.
"Sudah hampir maghrib, kamu masih berendam. Aku takut kamu masuk angin," ucap Kaivan.
Kyra tidak menjawab ucapan Kaivan, dia hanya memandang Kaivan dari atas sampai bawah. Suaminya itu juga terlihat segar dan tampan, nampaknya dia sudah mandi sebelum pulang ke rumah Kyra.
"Bajumu, sudah aku siapkan. Bisa kan pakai baju sendiri?"
"Bisa," ucap Kyra singkat lalu berjalan meraih baju yang sudah di siapkan Kaivan.
dia membawa baju itu dan kembali masuk ke dalam kamar mandi.
Kaivan mengerutkan keningnya karena merasa jika Kyra sedang malu sehingga memutuskan memakai baju di dalam kamar mandi.
Setelah selesai memakai baju, Kyra duduk di ujung ranjang dan memainkan boneka Barbienya seperti biasa. Kaivan duduk di sebelah Kyra dan menatap wajah cantik sang istri dari samping.
"Ra, kamu masih ingat cara salat?"
Kyra mendongakkan wajahnya lalu menatap mata sang suami."Sedikit ingat, sedikit lupa."
"Nanti ikutin aku salat ya, biar kamu ingat kembali bagaimana gerakan dan bacaannya!"
Lelaki berwajah tampan itu ingin pelan-pelan mengajarkan istrinya mengingat Tuhan. Mungkin dengan cara seperti itu Kyra bisa mendapat keajaiban dan kembali menjadi orang normal seperti yang diharapkan oleh Kaivan.
Tak lama kemudian suara adzan magrib pun terdengar, Kaivan mulai membujuk Kyra menggunakan mukena. Namun, Kyra menolak dan melempar mukena itu kembali. Kaivan menghela nafas masih terus mencoba hingg akhirnya Kyra mengigit kencang tangannya.
"Aku tidak mau ... Aku tidak mau ..." Kyra berteriak, hingga akhirnya Kaivan menyerah membujuk Kyra karena takut ketinggalan waktu salat magrib.
Kaivan salat magrib sendiri, dia berdoa agar Tuhan memberikan kemudahan untuknya menghadapi sang istri dan Tuhan berkenan memberikan kesembuhan pada sang istri. Tanpa Kaivan sadari Kyra menangis melihat Kaivan salat dengan khusuk dan menyebutkan namanya di dalam doa.
"Katakan padaku, Kai. Apa tuhan benar-benar ada? Jika memang dia ada mengapa dia tidak pernah memberikan kebahagiaan padaku?!" gumam Kyra dalam hati.
Setelah salat Maghrib Kaivan mengaji sebentar hingga menyelesaikan bacaannya saat kamar mereka di ketuk dari luar.
"Maaf mengganggu, saya ingin memberikan makan malam untuk Tuan Kaivan dan Nona Kyra," ucap Dewi.
"Tidak apa-apa, Wi. Terima kasih sudah membawakan makan untuk kami," ucap Kaivan.
Kaivan melipat sajadahnya, lalu melihat Kyra yang terburu-buru mengambil jatah makanannya. Sepertinya gadis berwajah cantik itu tidak mau makan disuapi oleh Kaivan lagi, akhirnya Kaivan pun memilih menikmati makanan tersebut.
"Sup Tom yam kesukaan kamu, pasti Mbok Rah yang membuatkan."
Kyra tidak menjawab dia terus menikmati makanan di tangannya, Kaivan tersenyum melihat cara Kyra makan. Benar-benar tidak mirip dengan orang gila, justru terlihat sopan dan elegan walaupun terkadang tatapan matanya kosong menatap kearah depan.
"Ra, mau jalan-jalan malam tidak?"
"Jalan-jalan?"
"Iya, pasti kamu sudah lama tidak melakukan hal seperti itu, kan! Ayo kita jalan-jalan di sekitaran sini saja!"
Kyra menggelengkan kepalanya menolak ajakan Kaivan, dia menghabiskan sup Tom yam lalu minum.
"Kenapa tidak mau, padahal sangat menyenangkan jalan kaki. Kita nanti ke taman komplek, di sana biasanya banyak anak muda yang nongkrong."
"Pasti tidak boleh sama nenek lampir!"
"Oh, masalah Nyonya Zaina nanti biar aku yang minta izin. Yang penting kamu dulu mau."
Kyra diam tidak menjawab ucapan Kaivan, setelah selesai makan dia kembali memegang boneka Barbie dan berpura-pura berbincang dengan boneka itu lagi. Kaivan menghela nafas, dia menghabiskan makanannya lalu menarik boneka Barbie yang di pegang Kyra.
"Barbie ku, kembalikan!" teriak Kyra.
"Aku akan kembalikan, tapi kamu dengarkan aku dulu!"
Kyra menatap Kaivan dengan bibir dimanyunkan dan jemari yang meremas-remas ujung baju.
"Kyra, kamu hanya boleh pegang dan bicara dengan boneka Barbie kalau tidak ada orang di dekat kamu. Jika ada aku atau Dewi maka kamu harus bicara dengan kami bukan boneka ini!"
Kyra memanyunkan bibirnya dan menggelengkan kepala, dia berusaha meraih boneka Barbie yang di pegang oleh Kaivan. Namun, Kaivan menyembunyikan di balik punggungnya. Kedua tangan Kyra berusaha mengambil boneka itu hingga tidak sadar seperti memeluk Kaivan, Kaivan malah sengaja merubah posisi tangannya memeluk Kyra dengan erat.
"Lepas ... Iya Kyra janji main sama Barbie kalau gak ada orang aja, tapi kembalikan Barbie Kyra, itu dari Papa!" teriak Kyra seraya berusaha melepas pelukan Kaivan.
Kaivan menghela nafas dan akhirnya melepaskan pelukannya pada Kyra, tetapi dia tidak memberikan boneka Barbie itu kepada Kyra. Dia menyimpan di dalam laci lalu dia kembali menatap wajah Kyra.
"Sekarang aku beri dua pilihan, kamu mau jalan-jalan di taman atau mau belajar ngaji?"
Kyra terdiam cukup lama hingga Kaivan kembali menanyakan hal tersebut. Akhirnya Kyra memutuskan untuk berjalan-jalan di taman. Kaivan sedikit kecewa dengan pilihan yang di ambil Kyra, tetapi dia tidak mau memaksakan Kyra. Dia ingin Kyra nyaman berada di dekatnya dulu, perlahan lalu membuat Kyra melakukan terapi terapi yang membuat kejiwaannya membaik.
"Kalian mau kemana?" tanya Zaina saat melihat Kaivan dan Kyra sudah rapi dengan jaket membalut tubuh mereka.
Kyra menyembunyikan tubuhnya di balik tubuh kekar sang suami, seolah mencari perlindungan dan berpura-pura takut pada ibu tirinya itu.
"Aku ingin membawa Kyra berjalan di taman kompleks, Nyonya," jawab Kaivan dengan sopan.
"Kau serius, Kai. Apa tak malu lelaki tampan sepertimu membawa wanita gila berjalan-jalan?" tanya Zaina sambil terkekeh.
Kyra mengepalkan tangannya tanpa di sadari oleh Kaivan dan Zaina. Namun, jawaban Kaivan membuat Kyra melepas kepalan tangan itu.
"Dia istriku, Nyonya. Lagipula parasnya tetap cantik, pakaian rapi dan sopan. Selama aku menggenggam tangannya dan dia tenang tak akan ada yang mengira dia orang gila."
Zaina menganggukan kepala, Kyra dan Kaivan pun akhirnya berjalan ke taman komplek menikmati suasana malam hari. Kyra menghirup udara malam hari di luar rumah, hal yang sangat jarang ia rasakan. Kaivan tetap menggenggam tangan Kyra bahkan sesekali mengajak Kyra bicara meski hanya di jawab dengan anggukan dan gelengan kepala.
Tiba-tiba ada seseorang yang menghampiri mereka.
"Kaivan, kau di sini. Siapa dia?"