"Aku menjaga seorang anak pengusaha kaya yang memiliki gangguan jiwa. Aku membacakan ayat-ayat ruqyah padanya, Nek." ucap Kaivan.
Dalam hati Kaivan meminta maaf pada Kyra karena belum bisa mengakui status pernikahan mereka, dia juga meminta maaf pada neneknya telah menutupi segalanya.
"Laki-laki atau perempuan anak pengusaha kaya itu?" tanya Asnah.
"Perempuan, Nek. Dia cantik tapi memiliki nasib tak secantik wajahnya."
"Anaknya umur berapa tahun?"
"Sekitar 21 atau 22 tahun, Nek."
Asnah langsung menatap Kaivan dengan serius, tapi Kaivan tidak menyadari tatapan neneknya itu karena dia masih sibuk merapihkan barang dagangannya.
"Van, gadis itu sudah dewasa, katamu dia cantik. Meskipun dia memiliki gangguan kejiwaan tapi pisiknya pasti seperti orang normal, kan!"
"Iya benar, Nek. Dia cantik dan memiliki postur tubuh yang sempurna, ada perawat yang mengurus keperluannya setiap hari, jadi tidak terlihat seperti orang gila." Kaivan menjelaskan tentang Kyra sambil membayangkan wajahnya.
"Hati-hati, Van!"
Kaivan duduk dan menatap neneknya, belum mengerti dengan peringatan yang diucapkan oleh wanita lanjut usia itu padanya. Sedangkan Asnah sejak tadi belom berhenti memandangi sang cucu.
"Hati-hati kenapa, Nek? Dia tidak seperti orang gila di jalan yang suka menyerang orang. Ya walaupun pernah beberapa kali terkena cakarannya, tapi sekarang dia cukup penurut."
"Nenek tidak takut kamu di lukai, tapi nenek takut kamu tergoda bisikan setan hingga melakukan hal-hal yang tak lazim pada gadis tak berdaya itu."
"Aku belum mengerti apa maksud nenek!"
"Nenek sering lihat di jalan Ada perempuan gila tapi hamil, karena ada yang melecehkannya. Kamu lihat sendiri bagaimana penampilan ODGJ di jalan, meskipun tak terawat Tapi tetap saja ada yang melecehkannya. Bagaimana dengan anak majikanmu yang cantik dan terawat, setiap malam kamu menemaninya. Nenek takut kamu khilaf," ucap Asnah.
"Astaghfirullahaladzim, Nek. Kaivan masih punya akal sehat, tidak mungkin melakukan hal seperti itu pada orang yang tak berdaya."
"Nenek hanya mengingatkan, jangan sampai kamu jadi orang dzalim pada orang yang tak berdaya!" wanita yang sudah berusia senja itu tak lupa menasihati sang cucu.
"In Syaa Allah aku akan selalu mengingat nasehat nenek."
Asnah mengangguk, lalu mereka melakukan aktivitas sehari-hari seperti biasa. Asnah memang mendidik Kaivan sejak kecil dengan adab dan ilmu agama yang baik, bagi Asnah meskipun mereka tidak memiliki harta mereka harus memiliki adab dan moral yang baik agar selalu lurus dalam menjalani kehidupan.
Biarlah Kaivan mengatakannya cerewet, tetapi Asnah tidak pernah lelah mengingatkan untuk salat dan ibadah hingga akhirnya setelah dewasa menjadi kebiasaan yang tertanam dalam diri cucunya itu.
"Van, makan dulu. Nenek sudah masak ni!" teriak Asnah.
"Wah ... Sepertinya enak, gak kerasa sudah siang aja ya, Nek!"
"Yah begitulah waktu memang tak terasa cepat berputar, seperti umur nenek yang semakin hari semakin tua." ucap Asnah seraya merapikan makanan di atas meja.
Kaivan menghela nafas memandang wajah lelah sang nenek, dia menarik kursi dan menundukkan neneknya di sana. Lalu menyedokkan nasi beserta lauk untuk sang nenek. Asnah hanya tersenyum, bersyukur memiliki cucu laki-laki yang sangat perhatian dan pengertian.
"Jangan banyak-banyak, Van. Nenek gak bisa makan banyak sekarang!"
"Aku ingin nenek tetap sehat."
"Kamu yang harus makan banyak, harus tetap sehat. Siang jaga toko, malam jaga orang, pasti waktu istirahat kamu sangat kurang!"
"Enggak kok, Nek. Kalau dia tidur aku juga tidur, aku cuma membacakan doa ayat-ayat Alquran sebelum dia tidur aja," ucap Kaivan seraya membayangkan wajah cantik Kyra yang sudah beberapa malam ini menemani tidurnya.
Di sisi lain.
Kyra mendapatkan telepon dari Daniel sepupunya, anak dari Kiandra.
"Hallo, ada apa Daniel?" tanya Kyra.
"Kamu dimana, Ra?" Daniel balik bertanya.
"Lagi di rumah seperti biasa, kenapa?"
"Gak bisa ketemu sekarang ya? Ada yang ingin aku sampaikan!"
"Gak bisa kayanya, nenek lampir masih ada di rumah. Mungkin sore jadwalnya dia yoga baru aku bisa keluar."
"Ya sudah sore, ketemu di cafe milik temanku seperti biasa ya!"
"Ada apa sih? Kok kayanya ingin membicarakan hal serius."
"Iya serius, ini tentang almarhumah ibumu!"
Kyra terdiam, tetapi jadi tidak tenang karena penasaran apa yang akan di sampaikan sepupunya itu. Hal yang menyangkut almarhumah Mamanya, itu artinya hal yang sudah berlalu bertahun-tahun lamanya. Setelah memutuskan sambungan telepon Kyra meminta Dewi untuk memperhatikan apa yang di lakukan Zaina.
Dia tak sabar menunggu waktu sore, Zaina pergi yoga dan dia akan pergi menemui Daniel bersama j2.
"Dewi," panggil Zaina.
"Iya, Nyonya." Dewi menjawab seraya menundukan kepalanya.
"Mulai hari ini kamu perhatikan makanan dan kesehatan Kyra. Jangan sampai dia salah makan dan jadi sakit!" ucap Zaina.
Dewi ternganga mendengar ucapan majikannya itu, bertahun-tahun bekerja di tempat itu baru kali ini dia mendengar perhatian Zaina untuk Kyra. Begitu pun dengan Kyra dia sampai menatap wajah Zaina, merasa tidak percaya jika ucapan itu keluar dari mulut wanita yang selama ini menjadi akar penderitaan dalam hidupnya.
"Dewi, kamu dengar tidak apa yang saya katakan tadi?!"
"I–iya, Nyonya. Saya dengar, saya akan jaga makanan dan kesehatan Nona Kyra."
"Bagus, jangan sampai di hari ulang tahunnya yang ke dua puluh dua dia jatuh sakit."
Seketika Kyra dan Dewi sadar akan maksud perhatian yang di berikan Zaina pada Kyra hanya karen ulang tahun Kyra yang ke dua puluh dua tahun. Dimana harta warisan dari Kalindra Gandana bisa di sahkan.
"Sebentar lagi saya akan berangkat yoga, Kaivan entah pulang jam berapa, kamu harus perhatikan Kyra!"
"Iya, nyonya." Dewi menjawab lagi lagi dengan anggukan kepala.
Setelah mengatakan hal itu Zaina pun pergi, Kyra tertawa terbahak-bahak membuat Dewi keheranan.
"Ada apa, Nona. Kenapa anda tertawa seperti itu?" tanya Dewi.
"Aku menertawakan ekspresimu tadi Dewi," ucap Kyra.
"Ya siapa juga pasti akan terkejut saat mendengar ucapan Nyonya Zaina tadi, saya pikir dia berubah jadi perhatian pada Nona."
"Nenek lampir itu tidak akan berubah sampai maut menjemputnya, Dia adalah wanita paling kejam yang pernah aku kenal."
"Ya, siapa tahu tidak dapat hidayah gitu, Nona."
"Hidayah tidak akan masuk pada seseorang yang menutup hatinya dengan ketamakkan!"
Setelah memastikan Zaina benar-benar pergi ke tempat yoga. Kyra pun pergi bersama pengawalnya J2 ke tempat di mana dia biasa bertemu dengan Daniel sang sepupu. Sesampainya di kafe tempat mereka biasa bertemu, Daniel sudah menunggu dan seorang wanita. Kyra tidak merasa curiga ataupun memikirkan hal lain, dia berjalan mendekat ke arah sang sepupu.
"Hai ... Daniel sudah lama menunggu?" tanya Kyra.
"Hai Sayang, akhirnya kamu datang juga," ucap Daniel langsung merangkul pinggang Kyra di depan wanita yang duduk di dekatnya.
Sontak hal itu membuat Kyra melebarkan bola matanya dan menatap Daniel dengan tatapan penuh pertanyaan. Daniel tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya seolah-olah sedang memberikan kode kepada sepupunya tersebut.
"Elmira, perkenalkan ini Rara kekasihku!" ucap Daniel.
Kyra tersenyum manis dan menjulurkan tangan kanannya, memainkan peran dadakan yang dibuat oleh sang sepupu. Wanita di hadapan Kyra tidak menyambut uluran tangan tersebut, wajahnya masam dan Kyra dengan tajam.
"Kamu jahat, Daniel. Setelah apa yang aku berikan padamu selama ini, kenapa kamu masih memilih wanita lain. Apa kurangnya aku untukmu?" tanya Elmira.
"Selama ini aku tidak pernah meminta apapun, semua yang kamu berikan kepadaku karena kemauanmu sendiri," ucap Daniel.
"Tapi aku melakukan itu karena aku mencintai kamu, Daniel!" ucap Elmira.
"Aku rasa itu bukan cinta, tapi sekedar obsesi setelah kamu mengetahui siapa aku sebenarnya. Maaf Elmira banyak wanita sepertimu yang mendekatiku, tapi tidak ada yang tulus dan menggetarkan hatiku seperti Rara," ucap Daniel seraya mengecup pipi Kyra sekilas.
Elmira semakin memanyunkan bibirnya dan pergi meninggalkan cafe tersebut setelah mendapatkan penolakan dari pria yang ia sukai. Setelah Elmira pergi Kyra menginjak kaki Daniel dengan kencang.
"Aaaahhh ... Sakit Kyra!" ucap Daniel.
"Siapa suruh kamu berani mencium pipiku! Dan kamu memanfaatkan aku untuk memainkan drama percintaan mu tanpa konfirmasi terlebih dahulu denganku!" ucap Kyra sangat kesal dengan sepupunya itu.
Daniel tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang putih, lalu duduk dan menyeruput secangkir hot kopi dengan santai membuat Kyra semakin kesal melihat sepupunya itu.
"Jadi ini yang kau bilang hal penting yang ingin kau bicarakan?! Membuat hati seorang wanita patah karena memanfaatkan kecantikanku!"
Daniel terkekeh mendengar ucapan sepupu nya yang cantik itu, ia menepuk kursi di sebelahnya. "Duduklah dulu aku akan ceritakan semuanya padamu!"
"Tidak mau, kau berbohong padaku. Kau bilang ini tentang almarhumah ibuku. Nyatanya sampai sini aku hanya di manfaatkan saja! J2 ayo kita pulang!" ucap Kyra hendak melangkah pergi.
"Hei ... Sepupuku yang cantik jangan marah dulu. Yang tadi itu hanya kebetulan, topik utamanya memang tentang almarhumah ibumu."
"Benarkah?!" Kyra meragukan ucapan sepupunya itu.
Daniel mengangguk, Kyra pun akhirnya duduk di sebelah Daniel. Setelah memesankan minuman untuk Kyra, Daniel merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah benda, lalu di sodorkan kepada Kyra.
"Apa ini?" tanya Kyra.
"Aku menemukan benda ini di ruang kerja Papa, saat aku bertanya Papa bilang ia menemukan ini di dekat jasad ibumu dulu, lalu di simpan rapi berharap suatu saat menemukan potongan benda tersebut."
Kyra memandang benda berwarna merah di tangannya, lalu memandang Daniel dengan berbagai pertanyaan di kepalanya.
"Biarkan aku menyimpannya, mungkin nanti aku bisa menemukan potongannya!" ucap
"Kamu tidak bisa menyimpan benda itu Kyra," ucap Daniel.
"Kenapa?" tanya Kyra seraya menautkan alisnya.