Bab 12. Nyaman

1480 Kata
Rupanya Dewi melihat saat Kaivan menggandeng tangan Kyra keluar rumah. Dia mengikuti ke mana arah majikannya itu dibawa pergi oleh sang suami, dan dia merasa terharu saat melihat Kyra yang selama ini keras kepala seakan mencair di hadapan Kaivan. Dia juga melihat ketulusan dari cara Kaivan memeluk dan membelai lembut kepala Kyra. "Semoga dia memang pangeran berkuda putih yang Tuhan kirimkan untukmu, Nona," ucap Dewi. Diam-diam Dewi mengabadikan momen itu dengan kamera ponselnya lalu mengirimkan gambarnya ke Kiandra, Paman dari sang majikan. Kiandra memang meminta Dewi untuk memperhatikan hubungan Kyra dan kaivan. Setelah merasa lebih tenang, Kyra melepaskan pelukan Kaivan. Lelaki tampan itu tersenyum dan mengusap sisa air mata yang masih ada di pipi sang istri. "Kangen mamah ya?" Kyra hanya menganggukkan kepala menjawab pertanyaan sang suami. Kaivan tersenyum lalu mengusap rambut panjang Kyra. "Kamu beruntung, meskipun hanya sebentar, tapi kamu sudah merasakan kasih sayang yang tulus dari seorang ibu. Sementara di luar sana banyak sekali anak-anak yang sama sekali tidak pernah merasakan sentuhan kasih sayang seorang ibu." Kyra terdiam dengan ucapan Kaivan, jika dipikir-pikir Apa yang di katakan Kaivan memang benar. Saat sekolah SMP dan SMA dulu dia sering melihat anak-anak panti asuhan karena gedung sekolah Kyra tidak jauh dari gedung panti asuhan. Dia juga sering melihat anak terlantar di pinggir jalan, yang Kyra tidak tahu suaminya salah satu anak yang tidak merasakan kasih sayang seorang ibu karena sejak kecil di tinggal pergi oleh sang ibu. "Kau lanjut olah raga?" Kyra mengangguk lagi menjawab pertanyaan Kaivan, sebenarnya dia ingin mulai berbicara dan mengajak Kaivan berbincang. Namun, di sisi lain dia masih ingin menguji Kaivan sampai di mana kesabaran lelaki yang menjadi suaminya itu menghadapi orang yang tidak waras. "Kamu ikutin gerakan aku ya, tapi kalau kamu gak kuat cukup jalan di tempat aja!" Kyra mengangguk. Kaivan melanjutkan peregangan tubuh lalu berlari kecil mengelilingi kolam renang itu, Kyra tersenyum mengikuti langkah Kaivan. Hingga tiba-tiba Kaivan melakukan jumping Jack Kyra masih bisa mengikuti. Namun, saat Kaivan push up, leg up, dan s**t up bukannya mengikuti Kyra malah hanya diam menatap Kaivan tak berkedip. Gerakan-gerakan yang di lakukan sang suami membuat otak Kyra traveling kemana-mana. Setelah melakukan itu cukup lama dan Kaivan merasa sudah cukup berkeringat, dia pun melakukan pendinginan. Kyra melebarkan bola matanya saat melihat Kaivan membuka kaos yang dia kenakan hingga membuat otot perut Kaivan yang kotak seperti roti sobek terlihat jelas. "Aku bisa melakukan olahraga seperti ini di rumah, gak perlu mengeluarkan uang. Tiap hari di lakukan membuat tubuh sehat dan bugar." "Pakai baju, nanti ada nenek lampir," ucap Kyra menutupi badan Kaivan. "Tapi ini banyak keringat, nanti ganti baju yang lain." "Pakai baju, nanti ada nenek lampir!" Kyra mengulang ucapannya, tapi dengan nada lebih menekan. Kaivan menuruti ucapan Kyra dia memakai kembali bajunya meski basah dengan keringat, entah mengapa Kyra tidak rela jika ibu tirinya sampai melihat tubuh atletis sang suami. Kyra tahu jika mata Zaina suka jelalatan kalau melihat lelaki tampan dan gagah. Bahkan dengan pekerja pun dia kadang genit jika tidak ada sang kekasih di dekatnya. "Gak boleh buka baju kalau di rumah, nanti di gigit nenek lampir," ucap Kyra lalu berjalan meninggalkan Kaivan. Kaivan terkekeh lalu mengejar Kyra,"Memangnya nenek lampir suka menggigit?" "Iya, dia kaya anjing helder," ucap Kyra masih sambil berjalan. Kaivan tertawa mendengar jawaban Kyra, sesampainya di kamar Kyra langsung masuk ke dalam kamar mandi. Kaivan mengerti dan menunggu Kyra yang sedang mandi, setelah Kyra selesai wanita cantik itu keluar dengan handuk kimono yang membelit tubuhnya, aroma segarnya sabun menyeruak ke indera penciuman Kaivan. Lelaki tampan itu menatap sang istri dengan wajah yang segar. "Kalau seperti ini tidak akan ada yang percaya jika kamu memiliki gangguan kejiwaan," ucap Kaivan seraya membelai lembut dan mencubit pelan pipi Kyra. "Bajunya sudah aku siapkan di atas tempat tidur, sekarang gantian aku yang mandi," lanjut Kaivan. Meskipun saat subuh sudah mandi, Kaivan mandi lagi karena merasa lengket dengan keringat setelah olahraga. Saat Kaivan di dalam kamar mandi Kyra melihat tumpukan baju yang ada di atas tempat tidur. "Dia menyiapkan baju untukku? Apa ini tidak terbalik. Harusnya istri yang menyiapkan baju suaminya, Kan! Tunggu ... Tunggu ... Tunggu ... Dia juga mengambilkan pakaian dalam ku, artinya dia melihat semua jenis pakaian dalam milikku!" ucap Kyra dengan wajah memerah. Kyra bergegas memakai bajunya setelah itu duduk di depan meja rias untuk menyisir dan mengeringkan rambutnya. Kaivan selesai mandi dan melihat Kyra berada di depan meja rias pun mendekat. "Sini aku bantu sisir dan keringkan rambutmu!" Kaivan menyisir dan mengeringkan rambut Kyra dengan hair dryer. Tiba-tiba pintu kamar diketuk, ternyata Dewi membawakan sarapan untuk mereka berdua. "Maaf mengganggu, Saya ingin membawakan sarapan," ucap Dewi. "Terima kasih, Dewi," ucap Kaivan. "Sama-sama, Tuan. Kalau begitu saya permisi ya!" Dewi karena melihat Kyra sepertinya tidak ingin diganggu. "Nanti saya pulang ke rumah nenek jaga toko seperti biasa, kamu jaga istri saya, ya!" ucap Kaivan. "Iya tentu saja, kewajiban saya menjaga Nona," ucap Dewi. Dewi pun pergi dari kamar tersebut menyisakan sepasang suami istri yang menikmati sarapan bersama, Kaivan tersenyum karena sekarang istrinya tidak lagi menyerangnya dan bersikap lebih tenang daripada sebelumnya. Setelah selesai sarapan Kaivan pun pamit kepada Kyra untuk pulang ke rumah neneknya. "Aku pergi ya, kamu jangan nakal di rumah. Aku akan pulang kesini menjelang Maghrib, nanti kamu belajar salat dan ngaji sama aku tiap malam ya!" Kyra mengangguk, Kaivan memegang tangan Kyra lalu menyodorkan ke hidungnya. Mengajarkan Kyra mencium tangannya, berharap Kyra terbiasa melakukan itu tiap Kaivan akan pergi. Setelah itu Kaivan mencium kening Kyra dan mengusap lembut kepalanya. Hati Kyra berdesir tidak menyangka akan mendapat perlakuan seperti itu dari seorang lelaki. Kaivan pergi keluar kamar dan Kyra terus memandanginya. "Aku tak menyangka dia memperlakukan ku seperti manusia. Hanya dia yang bersikap lembut seperti itu meski mengira aku sakit jiwa, bahkan para pekerja saja terkadang meledek bahkan hampir melecehkan ku jika tak ada Dewi," gumam Kyra. "Nona." Dewi membuka sedikit pintu kamar dan menjulurkan kepalanya. "Ada apa?" "Apa Nona tidak membutuhkan bantuan saya?" "Rapihkan tempat tidurku!" ucap Kyra lalu beranjak dari duduknya. Dia membuka pintu kamar dan keluar, berdiri di balkon memandang ibu tirinya sedang sarapan di meja makan bersama kekasihnya. Kyra tersenyum tipis ada rasa syukur Zaina telah membayar Kaivan untuk menikahinya, Kyra mulai merasa nyaman berada di dekat Kaivan. Meskipun dia belum mau jujur terhadap lelaki itu setidaknya ada orang yang memberinya perhatian dan kasih sayang tulus seperti almarhumah mamahnya dulu. "Saya sudah bersihkan kamarnya, Nona." Dewi menghampiri Kyra. Kyra mengangguk masuk ke dalam kamarnya, setelah itu membuka laptop dan mengerjakan laporan yang di kirim oleh Kiandra sang paman. Sementara di sisi lain. Kaivan baru sampai di rumah langsung membersihkan halaman dan membuka toko kelontong miliknya. "Eh Kaivan, baru pulang ya!" Seorang ibu-ibu menyapa. "Iya Bu," jawab Kaivan singkat. "Memangnya kamu kerja apa sih kalau malam, Van? Kok gajinya besar sampai bisa lunasi hutang dan beli barang-barang isi rumah?" Kaivan tersenyum, mengerti maksud ibu-ibu itu bukan bertanya tapi lebih tepatnya merendahkan Kaivan dengan segala pemikiran julid di kepalanya. Kaivan hanya tersenyum lalu membuka toko kelontong miliknya. "Van, kamu kerja halal kan! Kasihan nenekmu sudah tua jangan sampai di akhir hayatnya dia makan uang haram dari cucunya." "Insyaallah halal, Bu. Kalau ibu mau anak ibu yang masih nganggur bisa kerja sama saya." "Eh kerja apaan, jangan ngajak anak saya kerja gak bener ya!" "Kerjanya gampang, Bu. Tiap malam jagain dan ngasih makan singa." "Hah ... Beneran itu kerjaan kamu?" Kaivan hanya tersenyum sambil merapihkan barang dagangannya, Asnah sang nenek keluar dan menghampiri Kaivan. Dia menatap ibu-ibu yang sejak tadi bertanya seakan meragukan kehalalan uang Kaivan. "Bu Neneng, pagi-pagi mau belanja. Tapi kalau bisa jangan hutang dulu ya, karena kalau belum penglaris pamali jika di hutang," ucap Asnah. Bu Neneng langsung berwajah masam mendengar ucapan nek Asnah, tapi ia memang niat berhutang di toko Kaivan. "Bu, itu si Rudi kemarin katanya kelahi sama anak kampung tetangga ya?" tanya Asnah. "Gosip itu, anak saya gak nyuri uang kok. Temennya aja lupa nyimpen uang pas hilang menyalahkan anak saya," ucap Bu Neneng. "Oh jadi gara-gara masalah uang hilang. Saya gak tahu kalau ibu gak cerita," ucap Asnah. "Ehm ... Kaivan. Saya permisi, lupa tadi lagi masak air di rumah," ucap Bu Neneng. Asnah tertawa melihat Bu Neneng pergi, Kaivan hanya menggelengkan kepalanya. Memang lelaki tidak akan bisa melawan dan menimpali ucapan ibu-ibu yang selalu bisa menyudutkan. "Van, sebenarnya nenek masih kepikiran. Kamu kerja apa tiap malam, sampai di bayar mahal sama bos kamu?" tanya Asnah. "Ternyata nenek sama seperti tetangga, gak percaya sama aku. Uang yang aku berikan untuk menafkahi nenek insyaallah halal, dari pendapatan toko ini." "Nenek percaya kamu menghasilkan uang halal dari toko ini, tapi kamu tidak pernah menjelaskan apa pekerjaanmu di tempat lain!" Kaivan menghela nafas dan memandang sang nenek, dalam hatinya meminta maaf kepada Kyra karena mungkin penjelasan kepada neneknya sedikit tidak enak didengar untuk Kyra meskipun wanita itu tidak mendengarnya. "Van, bisa kamu jelaskan pada nenek apa yang kamu kerjakan di sana, agar pikiran nenek jadi tenang!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN