"Siapa orang itu, masa lalu kamu kah?" tanya Diego penuh selidik.
"Sudahlah jangan dibahas, itu hanya masa lalu yang tidak penting!" ucap Zaina ingin mengalihkan pembicaraan.
Diego menggelengkan kepalanya, dia sangat penasaran dengan alasan Zaina memandangi Kaivan seperti itu, setelah tahu alasannya dia bertambah penasaran dengan orang Zaina maksud.
"Aku penasaran, kamu harus menjelaskan semuanya kepadaku. Kamu bilang tidak akan Ada dusta Di Antara Kita, Apa kamu mau menyimpan rahasia kepadaku?"
Zaina menghela nafas, sifat Diego memang seperti itu selalu memaksa, mengekang, dan tidak ingin satu hal pun dia lewatkan. Hingga akhirnya Zaina terpaksa menceritakan masa lalu kepada Diego kekasihnya itu.
"Dia hanya masa laluku, aku anggap tidak penting. Karena aku mengenalnya sebelum tahu bagaimana cara menikmati hidup yang sesungguhnya, aku mengenalnya saat masih menjadi manusia yang bodoh."
"Mantan kekasihmu, apa dia tampan?"
"Kamu jauh lebih tampan, Honey. Dia mirip dengan Kaivan hanya saja Kaivan jauh lebih modis. Sudah ya jangan dibahas lagi, benar-benar tidak ada laki-laki yang lebih penting dari kamu. Bahkan Kalindra yang memberikanku harta benda saja tidak penting bagiku."
Diego pun berhenti bertanya dan mereka kembali bermesraan di ruang tamu itu hingga berpindah ke kamar, lalu melakukan aktivitas panas seperti biasanya.
Sementara di kamar lain Kaivan terus memandangi wajah Kyra. Wanita itu belum tidur, dia terus memegangi boneka Barbie di tangannya dan meracau tak jelas.
"Kyra, sudah malam. Sebaiknya tidur!"
Kyra tak menghiraukan ucapan Kaivan, beberapa kali Kaivan bertanya di jawab oleh Kyra. Namun, jawabannya tidak sesuai dengan pertanyaan. Kaivan menghela nafas lalu mengeluarkan gawai dari tangannya. Kyra melirik sekilas kearah Kaivan yang mulai fokus dengan benda pipih itu.
"Benar kan. Dia sama saja dengan lelaki lain, pasti dia bosan dengan orang tidak waras, pasti sebentar lagi dia akan menyerah dan meninggalkanku!" gumam Kyra dalam hati.
Kyra pikir Kaivan bermain game atau melihat vidio di ponsel untuk mengusir jenuh, tapi Kyra begitu terkejut ketika mendengar suara merdu Kaivan. Tidak di sangka-sangka Kaivan membuka gawainya untuk melihat bacaan ayat Alqur'an, Kaivan membacakan surat alfatihah lalu di lanjutkan beberapa ayat dalam surat Al-Baqarah yang di yakini orang dalam agamanya bisa di gunakan untuk ruqyah.
"Audzubillahiminasyaitonirojim, bismillahirohmanirohim ...."
Kyra membeku, terkesima bahkan tidak sadar memandang wajah sang suami. Tidak percaya jika yang sedang melantukan ayat suci dengan merdu itu adalah suaminya.
"Itu beneran suara dia, kirain suara dari handphone miliknya," gumam Kyra dalam hati.
Kaivan terus membacakan ayat-ayat dalam surat tersebut membuat Kyra akhirnya meletakan boneka Barbie di atas nakas. Lama, sangat lama Kyra tidak pernah mendengar lantunan ayat suci yang menyejukkan hati dan kepala seperti itu. Dulu almarhumah mamahnya selalu membacakan dongeng dan alunan ayat suci sebelum Kyra tidur. Kyra tidur menyamping membelakangi Kaivan, dia tak bisa menahan tetesan air mata di pipinya.
"Mamah, Kyra rindu mamah. Kyra rindu suara merdu Mamah. Kyra rindu lembutnya belaian tangan Mamah," gumam Kyra dalam hati.
Kyra terkejut ketika ada tangan kekar membelai kepalanya dengan lembut, belaian yang selalu dia rindukan, yang tak pernah dia dapatkan dari siapapun. Kaivan terus melantunkan ayat suci sambil membelai lembut kepala sang istri, berharap ada keajaiban Tuhan yang membuat istrinya menjadi orang normal lagi.
Setelah Kaivan selesai membacakan ayat suci dia menatap Kyra yang sudah memejamkan mata dengan bekas air mata yang mengering.
"Kamu menangis? Aku akan melakukan ini setiap malam, membacakan ayat-ayat ruqyah. Aku berharap Tuhan memberikan keajaiban, sebab hanya Tuhan yang bisa memberikan kesembuhan pada makhluknya," ucap Kaivan lalu mengecup kening Kyra.
Kyra belum benar-benar pulas, dia masih bisa mendengar apa yang di ucapkan Kaivan, dan apa yang di lakukan suaminya itu. Hatinya bergetar mendengar kata demi kata yang di ucapkan lelaki yang sebelumnya bekerja sebagai bartender itu.
"Kaivan, siapa kamu sebenarnya. Mengapa seorang bartender seperti kamu bisa mengaji dengan merdu, apakah yang kamu lakukan sekarang benar-benar ketulusan dalam hati, atau hanya sebuah kamuflase semata?" gumam Kyra dalam hati.
Setelah merasa tak ada pergerakan dari Kaivan, Kyra menghela nafas berkali-kali. Menghilangkan rasa sesak di dadanya, kerinduan dengan apa yang selalu di lakukan Mama nya saat dia kecil sedikit terobati dengan apa yang Kaivan lakukan malam ini padanya.
Kyra memejamkan matanya dan mengingat semua nasehat sang mama di masa lalu.
"Kyra, apapun yang terjadi dalam hidup kamu nanti, selalu ingat kepada Tuhan di setiap langkah yang akan kamu ambil. Takutlah kepada Tuhan agar kamu tidak melakukan hal-hal yang menyesatkan!" ucap Rani.
"Kenapa harus seperti itu?"
"Karena kita adalah makhluk yang di ciptakan Tuhan. Tuhan juga menciptakan surga dan neraka. Jika Kyra menjadi orang yang baik dan selalu di jalan lurus maka suatu saat nanti akan masuk surga, tapi jika Kyra nakal dan menjadi orang yang tidak baik maka akan masuk neraka."
Wanita cantik yang selalu memakai hijab itu menggunakan kata-kata yang mudah di mengerti untuk anak kecil. Kyra mengangguk dan selama dalam asuhan sang mama dia selalu menjadi anak yang baik.
"Mah, apakah Tuhan benar-benar ada? Mengapa dia mengambil mama dariku, mengapa dia memberikan mama tiri seperti Zaina. Apakah Tuhan tidak menyayangiku?" gumam Kyra dalam hati.
Dia mencoba untuk tertidur, melupakan perih dan kesedihan di masa lalu. Berharap hari esok lebih baik dan berharap Zaina mati cepat agar dia berhenti berpura-pura gila seperti sekarang.
Di tengah malam Kyra tidak sadar mengubah posisi tidurnya hingga dia memeluk tubuh kekar Kaivan, lelaki tampan itu terkejut saat merasakan pergerakan di atas tubuhnya. Namun, dia hanya tersenyum dan membiarkan sang istri dalam posisi seperti itu hingga pagi tiba.
Suara alarm di ponsel Kaivan berbunyi mengusik indera pendengar mereka berdua yang terlelap. Kyra membuka matanya dan terkejut melihat wajah tampan Kaivan yang tersenyum begitu dekat dengan wajahnya, ia tambah terkejut saat melihat posisi tangan dan kakinya yang melingkar di tubuh Kaivan menjadikannya seperti sebuah guling.
"Selamat pagi istriku, Sayang," ucap Kaivan lalu mengecup kening Kyra.
Kyra langsung mengubah posisi tidurnya dan memunggungi Kaivan, menyembunyikan wajahnya yang memerah karena malu.
Kyra menatap benda besar bulat yang menempel di dinding, masih sangat pagi mengapa suara ponsel Kaivan sangat mengganggu. Kaivan mematikan alarm di ponselnya tak lama kemudian adzan subuh terdengar menggema melalui speaker masjid terdekat.
"Alhamdulillah," ucap Kaivan.
Lelaki tampan itu bangkit lalu berjalan menuju kamar mandi, tapi ia menyempatkan diri berbicara dengan Kyra.
"Sayang, maaf menganggu tidurmu. Lanjutkan saja tidurnya kalau masih ngantuk!"
Setelah mengucapkan hal itu Kaivan masuk ke dalam kamar mandi. Kyra menggelengkan kepalanya dan menepuk-nepuk pipinya.
"Beneran, ini bukan mimpi. Mengapa ada lelaki yang bisa berkata semanis itu pada wanita gila."
Wanita itu memegangi wajahnya yang terasa memanas karena mendengar kata sayang di pagi buta dari seorang lelaki. Dia mencoba memejamkan matanya kembali karena terbiasa bangun jam tujuh. Saat mulai terlelap ia mendengar suara pintu yang terbuka, ternyata Kaivan yang sudah mandi. Aroma tubuh lelaki itu merasuk ke indera penciuman Kyra yang masih betah memejamkan mata.
Kaivan membentangkan sajadah dan melakukan salat subuh di kamar itu, Kyra membuka matanya dan menatap sang suami yang tengah melakukan gerakan ibadah.
"Aku ... Sudah berapa lama aku melupakan dan meninggalkan kewajiban yang dulu selalu mama ajarkan?!" ucap Kyra sangat pelan.
Setelah selesai salat Kaivan kembali melantunkan alunan merdu ayat suci yang membuat Kyra merasakan kedamaian. Kehadiran Kaivan membuat Kyra mengingat semua masa lalu dengan sang mama, masa lalu indah dan sangat membahagiakan.
"Kyra, kamu tidak tidur lagi?" tanya Kaivan saat selesai mengaji dan melihat Kyra duduk di ujung ranjang.
Kyra menjawab ucapan Kaivan dengan gelengan kepala, Kaivan melipat sajadah dan mengganti kain sarung dengan celana. Lantas ia duduk di samping Kyra dan menatap lembut wanita itu.
"Mau ikut olahraga?" tanya Kaivan.
Kyra menghela nafasnya, sebanarnya ia selalu rutin olah raga dengan J2 di ruangan khusus di sore hari, tentu saja saat Zaina tak ada di rumah. Namun, entah hal apa yang mendorongnya hingga Kyra menganggukan kepala saat Kaivan memberikan pertanyaan itu.
"Kalau mau ikut olahraga Sekaran cuci wajah dan sikat gigi dulu, ya!" ucap Kaivan.
Lagi-lagi Kyra mengangguk dan melakukan apa yang dikatakan oleh sang suami. Setelah cuci muka dan sikat gigi Kyra berjalan mendekati Kaivan. Pria tampan itu tersenyum dan menggenggam tangan sang istri lalu berjalan keluar kamar, menyusuri anak tangga, dan terus berjalan hingga sampai di taman samping dekat kolam renang.
"Segarnya udara pagi, renggangkan tubuhmu agar tidak terasa kaku," ucap Kaivan.
Kyra dengan patuh mengikuti gerakan yang Kaivan lakukan, Kaivan tersenyum melihat Kyra seperti itu.
"Lihat, matahari mulai terbit, bukankah sinarnya sangat indah?! Salah satu kuasa Tuhan yang harus kita syukuri setiap pagi. Tuhan masih mengizinkan nyawa bersemayam di tubuh kita, menghirup udara pagi, dan menikmati indahnya cahaya mentari," ucap Kaivan.
Kyra menatap Kaivan dengan mata berkaca-kaca, ucapan Kaivan lagi-lagi mengingatkannya pada sang Mama yang lama telah tiada. Berapa lama ia selalu mengeluh tanpa rasa syukur kepada Tuhan, tidak seperti apa yang di ajarkan sang Mama dulu.
Kaivan menatap Kyra dan terkejut melihat ekspresi sang istri. "Hei ... Kenapa kamu menangis?"
Kyra tak menjawab ucapan Kaivan. Namun, tiba-tiba ia memeluk tubuh Kaivan dan menangis tergugu dalam pelukan sang suami.
"Mamah ...."
Kyra bergumam dan Kaivan tak mengatakan apapun selain membalas pelukan Kyra seraya membelai lembut kepalanya. Kaivan yakin jika istrinya kini sedang merindukan sosok yang di sebut Mama.
Tanpa mereka sadari ada seseorang yang menatap dan memperhatikan interaksi mereka.