Fania langsung panik. Ia tidak tahu kalau Dito bisa menjadi amat sangat kejam dibanding dirinya. “I am really sorry about my ex. Kamu nggak boleh capek sekarang. Perjalanan kita berdua masih panjang. Iya kan, Dit? Please, don’t be like this.” Wanita itu tak memercayai apa yang baru saja ia katakan. Ia memelas kepada Dito dengan putus asa. Bukan. Ini bukan perkara harga diri. Fania tidak sempat memikirkan itu arena saat ini Fania sedang merasa bahwa situasinya benar-benar menyedihkan. Ke mana sosok dirinya yang begitu yakin soal perkataannya kepada Dito sebelum mereka melakukan seks untuk kali pertama? Bahwa Dito hanya akan mendapatkan tubuhnya, tidak untuk hatinya. Atau ini mungkin bukan soal hati. Tetapi betapa menakutkannya saat membayangkan ia akan diceraikan dan berakhir menjadi janda

