BAB 58. The Line Between Life and Death

1685 Kata

Fania berjalan dengan agak tertatih−mengabaikan rasa nyeri di perutnya yang masih samar-samar berdenyut−menuju lorong-lorong rumah sakit yang terasa panjang hingga membuat wanita itu tidak kunjung mencapai tujuan. Beberapa kali Fania tidak sengaja menabrak orang-orang yang berpapasan dengannya. “Maaf,” ucap Fania sekali lagi kepada ibu-ibu yang tersenggol lengannya hingga oleng ke samping. “Ceroboh sekali kamu! Punya mata tuh dipakai. Bukan buat pajangan aja!” Fania mengabaikan bentakan ibu-ibu itu yang kemudian mengatainya dengan kasar. Fania tidak peduli. Yang ada di kepalanya sekarang hanyalah Dito. Ia tidak bisa memikirkan hal lain selain laki-laki itu. Kecemasan dan kekhawatiran memenuhi hatinya hingga terasa begitu sakit dan menyesakkan. Lorong rumah sakit itu seperti menyempit.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN