“Jangan pergi, Dit,” ratap Fania. Menyakitkan sekali rasanya saat sosok laki-laki yang begitu ia cintai berpaling darinya, tak mau menatapnya, dan berjalan menjauh meninggalkannya. Dito tidak akan pernah lagi mau tahu. Meski Fania memohon-mohon dan bersujud di kaki laki-laki itu. Menyatakan cintanya yang sedemikian besar dan kepasrahan untuk bertahan dalam rumah tangganya bersama Dito, laki-laki itu tidak akan luluh. Laki-laki itu tidak akan goyah meski Fania tersakiti. Karena nyatanya, Dito juga merasakan kesakitan itu. Lebih dari yang Fania rasakan. Bukan Dito yang egois. Bukan Dito yang abai. Bukan Dito yang jahat. Fania-lah yang sudah terlalu banyak menyakiti. Dan Dito sudah tidak memiliki satu pun keping hati yang bisa ia berikan untuk Fania lagi. Bahkan hanya untuk selarik kata ma

