Fania memberi waktu sebanyak mungkin bagi Dito untuk berduka. Dan setiap sore selama satu minggu terakhir, sepulang kerja Dito selalu duduk di balkon apartemen sambil merokok satu atau dua batang dan Fania tidak pernah menginterupsi. Fania membiarkan Dito menikmati luka yang masih basah karena kehilangan ayahnya, tetapi dengan tetap memastikan bahwa Dito tidak terlalu terlarut ke dalam kesedihan. “Nge-date yuk, Dit,” ajak Fania setelah Dito selesai mandi dan bergabung dengannya di runag keluarga, menonton series Netflix sambil mengemil pop corn. “Ke mana?” tanya Dito sambil mengusap rambutnya yang masih basah dengan handuk. “Nonton film? Atau ke mana gitu.” Dito tidak tampak tertarik. “Nggak ada film yang bagus kayaknya. Aku juga males keluar. Nonton ini aja sih.” Dito menyampirkan han

