“Stop it, Fania!” Bukannya terharu dan senang karena ucapan Fania, Dito justru mulai panik. Ia meninggalkan balkon untuk menjauh dari Fania, tetapi wanita itu langsung bangkit dari duduknya. Bergegas menyusul Dito. Sama sekal tidak mau melepaskannya begitu saja. Mendengar langkah-langkah kaki di belakangnya, Dito berbalik dan kembali menghadap Fania. Mereka berdua bertukar pandangan. Saling menatap tajam. “Why did you do this to me?! You make me suffer. Masih nggak puas juga kamu?” erangnya dengan frustrasi. “Damn it, Dito! I wanna be with you. Harus berapa kali aku ulang-ulang?” Dito mengangkat tangan. Meminta Fania untuk berhenti. Lalu mengepalkan tangannya sebelum kemudian menghempaskannya kembali ke sisi tubuhnya “Please, Fania, jangan begini. Kamu tahu, kan, kalau ini sangat

