BAB 47. Pilihan

1817 Kata

Fania menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ia sedang bingung, tak tahu harus memulai dari mana. Sudah lebih dari lima belas menit sejak ia dan Dito duduk berhadap-hadapan setelah makan malam di pantri apartemen. “Fania, kalau kamu nggak bisa bicara sekarang, it's okay—” “Kalau aku nggak jelasain apa-apa, kamu akan pakai ini sebagai alasan buat menghindari aku lagi? Iya?” Dito menggeleng kecil. “Aku di sini mau bicara baik-baik, Fania. Jangan mancing aku.” Fania mengembuskan napas beberapa kali untuk meredakan emosi yang campur aduk sebelum berkata. “Apa yang aku bilang semalam ke kamu... itu semua benar.” “Kamu bilang apa emangnya? Say it again.” “Kamu udah dengar semalam, Dit.” “Aku mau kamu bilang lagi sekarang. Semalam kamu mabuk, Fan. Kamu setengah sadar. Dan sekarang, karena ka

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN